Palu – Halaman belakang kantor Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera Sulawesi Tengah mulai riuh. Hampir pukul 9 pagi, sapi qurban kedua akan segera disembelih. Terik matahari senin pagi itu mulai membakar kulit tim sembelih yang berasal dari internal PKS dan masyarakat sekitar.
“Tidak usah pak,” Indrid, juru sembelih internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Tengah segera menolak inisiatif masyarakat yang hendak memasukkan balak panjang di antara kaki sapi yang sudah rebah ke tanah.
Takut akan berontak, begitu alasan mereka. Tapi, Muh Indrid E Dalesa ini tetap menolak. “Cukup diikat kakinya, insyaAllah sudah aman. Tidak perlu memasukkan balok di antara kaki sapi yang sudah rebah, lalu diinjak sebelum disembelih. Itu menyakitkan,” ujar Indrid dengan nada penuh empati.
Bagi Indrid, ibadah qurban bukan sekadar seremonial penyembelihan hewan, tetapi ekspresi cinta dan ketaatan. Dan cinta, katanya, tidak sepatutnya dilakukan dengan cara yang menyakiti.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam rangkaian kegiatan qurban yang digelar oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Tengah, sebagai bagian dari program nasional bertajuk “Bahagianya Berqurban”—yang tahun ini rencananya menghimpun dan mendistribusikan 2,3 juta paket qurban ke seluruh Indonesia.
Di PKS sendiri,qurban bukan hanya kegiatan penyembelihan hewan yang dilakukan dengan semangat gotong royong. Namun juga dengan kesadaran bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, mencerminkan nilai-nilai yang diyakini.
Muh Indrid E Dalesa berharap, praktik penyembelihan ke depan semakin beradab, selaras dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Mari jadikan momen qurban sebagai ibadah yang bukan hanya sah di mata syariat, tetapi juga mulia di mata kemanusiaan,” pungkasnya


