Palu – Apa yang paling berat dari menjadi korban bencana? Perasaan ditinggalkan. Sebagai penyintas bencana gempa, tsunami, likuifaksi yang menimpa Palu, Sigi, Donggala tahun 2018 lalu, Wiwik Jumatul Rofiah paham betul rasanya.
Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD Provinsi Sulawesi Tengah itu mengajak semua yang hadir di ruangan fraksi pada senin (08/12/2025) mengenang kembali kepedulian masyarakat Sumbar dan Aceh 2018 silam.
“Kita masih ingat kok, gimana bantuan berton-ton rendang dari masyarakat Sumatera Barat ke Palu waktu itu. Kita bahkan bisa melihat peninggalan masyarakat Aceh yang menjadi masjid di Jln Padanjakaya Pengawu sana,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Jurnalis dari berbagai media yang hadir siang itu tentu mengamini. Mereka semua penyintas dan mampu bertahan sedikit banyak karena uluran tangan masyarakat yang hari ini menangis di ujung barat Indonesia sana.
Hari itu Bunda Wiwik dan Sekretaris Fraksi PKS, Asrullah ingin menggali rasa empati dalam konferensi pers. Sebab simpati saja tidak cukup menjadi penawar bagi korban banjir bandang saat ini.
“Kita itu ingat budi dan tahu balas budi. Makanya ketika ada instruksi dari Presiden PKS tentang pemotongan gaji. Kami gerak cepat dan hari ini kami serah terima seluruh gaji Aleg PKS DPRD Provinsi bulan desember untuk korban banjir,” kata Wiwik.
Aleg PKS Provinsi Sulteng sendiri terdiri dari lima orang. Wiwik Jumatul Rofiah, Asrullah, Sri Atun, Takwin dan Fatimah Lasawedi. Semuanya sepakat menyerahkan seluruh gajinya bulan desember ini untuk korban bencana di Sumatera sana.
Dana sumbangan Fraksi PKS Sulteng ini kemudian diserahkan ke struktur PKS yang saat itu diterima langsung oleh Ketua DPW PKS, Muh. Wahyudddin dan Wabendum, Fitriyani N. Toleng. Selanjutnya akan diserahkan langsung ke DPP untuk penyalurannya. Sebab lokasi bencana juga ada di tiga provinsi dan yang paling tahu kondisi disana tentu saja para Relawan PKS yang sudah diturunkan sejak hari pertama bencana.
Aksi potong gaji sesuai intruksi Presiden PKS menurut Ketua DPW PKS bukan hal baru. Hal ini bahkan sudah dilakukan secara masif sejak tsunami Aceh 2004 lalu.
“Bahkan di 2004, PKS Sulawesi Tengah mengirimkan relawannya. Tiga orang dari Poso, satu orang dari Palu. Yang dari Palu yaitu pak Rusman Ramli, Aleg PKS Kota Palu saat ini,” kata Wahyuddin.
Wahyuddin mengganggap pemotongan gaji ini bagian dari sumbangsih dan kepedulian pejabat publik PKS. Instruksi ini berlaku untuk 30 Aleg PKS dan kepala daerah baik di Provinsi, Kota maupun Kabupaten.
“PKS itu tidak melihat latar belakang politik, suku, agama ketika membantu. PKS terlatih berkontribusi baik pejabat publik maupun yang dihimpun dari anggota PKS.”ungkap Wahyuddin.


