Suaranya tenang namun tegas. Tidak ada interupsi terdengar kecuali desau dari kipas yang terpasang di langit-langit. Ada penekanan yang sarat makna yang dihadirkan Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Iswan Kurnia Hasan dalam Rakerda Parimo yang dilaksanakan Ahad 29 desember kemarin. Beliau tidak sedang berbicara soal strategi merebut kursi atau kalkulasi elektoral. Ia mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar: jati diri PKS sebagai partai dakwah.
“PKS adalah partai dakwah,” ujar Iswan. Kalimat ini tentu bukan sekadar slogan, melainkan ruh yang seharusnya menjiwai seluruh gerak langkah partai. “Artinya semua yang dilakukan PKS, baik muatan maupun nilainya, adalah nilai-nilai dakwah.”
Pesan ini memang bukan hal baru di internal PKS. Olehnya Iswan menyebutkan, para pimpinan tertinggi partai—mulai dari Ketua Majelis Syuro hingga Presiden PKS—kerap mengingatkan hal serupa kepada para kader. Sebuah pengulangan yang disengaja, agar orientasi perjuangan tidak bergeser oleh gemerlap kekuasaan.
“Para qiyadah kita sering mengingatkan,” kata Iswan, “bahwa ketika kita berada di PKS, kursi, posisi, dan jabatan itu bukan tujuan utama.” Ia berhenti sejenak, menyapu tatapan ke seluruh pengurus PKS yang hadir. Ia seolah memberi ruang bagi para pendengar untuk mencerna kalimat itu.
Dalam dunia politik yang sarat ambisi, pernyataan tersebut terdengar seperti pengingat moral. Bukan berarti PKS menafikan perjuangan politik praktis. Iswan mengakui, sebagai partai politik, PKS tetap berjuang untuk meraih posisi dan jabatan. Namun, semua itu ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan akhir.
“Tujuan utama PKS adalah bagaimana memberikan manfaat yang sangat besar untuk masyarakat,” ujarnya. Sebab, ia menegaskan kembali, “kita adalah partai dakwah.”
Di tengah iklim politik yang kerap diwarnai pragmatisme, pesan Ketua MPW ini terasa seperti ajakan untuk kembali ke akar. Bahwa harusnya bagi kader PKS, dakwah bukan hanya aktivitas mimbar atau ceramah, melainkan sikap, kebijakan, dan keberpihakan kepada rakyat. Sebuah jalan sunyi yang menuntut konsistensi dan kesediaan untuk selalu mengingat: mengapa partai ini didirikan sejak awal.


