Bagaimana seandainya Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih sendiri surga dihuni nanti di akhirat? Bukan hanya sekedar ditakdirkan Allah begitu saja, sesuai dengan amal yang dilakukan di dunia. Tapi bebas untuk menentukan surga mana yang ingin dimasuki.
Surga dalam bahasa Arab berarti kebun yang sangat lebat dan menutup apa yang ada di dalamnya. Diambil dari kata “janana” yang berarti tertutup rapat. Oleh karena itu salah satu makhluk yang diciptakan Allah disebut jin, karena tertutup dan tidak bisa dilihat mata manusia. Menurut Ibnu Mandzur dalam kitab “Lisân al-Arab”, surga berarti kebun yang memiliki banyak pohon. Di antaranya adalah pohon kurma dan anggur. Tidak bisa disebut surga menurut orang Arab kecuali di dalamnya ada pohon kurma dan anggur. Bila tidak ada dua pohon ini maka hanya disebut kebun biasa dan bukan surga. Bukan “jannah” dalam bahasa Arab yang berarti surga, namun hanya “hadîqah” yang berarti kebun atau taman biasa.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang disebutkan dalam kitabnya “Hâdî al-Arwâh”, surga dalam terminologi para ulama adalah nama untuk menunjukkan sebuah tempat yang mencakup dengan semua jenis kenikmatan, kelezatan, kesenangan, kenyamanan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. Surga juga dimaknai sebagai tempat yang akan dihuni oleh orang-orang beriman di akhirat. Mereka akan kekal menempatinya. Penghuni surga tidak akan merasakan panas dan dingin. Tidak lagi merasakan sakit atau mati. Tidak membutuhkan apapun karena semuanya telah terpenuhi. Di dalamnya mengalir sungai-sungai yang beraneka rasa. Penduduk surga mendapatkan kebahagiaan yang tidak terhingga. Mereka akan merasakan kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, atau didengar telinga, atau bahkan sekedar terbetik dalam benak manusia kala hidup di dunia.
Surga memiliki delapan pintu utama. Jumlah ini disebutkan dalam hadis Bukhari dari sahabat sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallâhu ‘anhu. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga memiliki delapan pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu ar-Rayyân yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa”. Lalu Rasulullah merincikan 8 pintu tersebut. Empat pintu disebutkan dalam satu hadis secara bersamaan, yaitu pintu salat, jihad, sedekah dan pintu ar-Rayyân, bagi orang-orang yang berpuasa. Sementara empat pintu sisanya disebutkan secara terpisah dalam hadis-hadis shahih lainnya. Yaitu pintu taubat yang berada di sebelah barat, pintu zikir, pintu berbakti kepada orang tua yang posisinya berada di tengah, dan pintu sebelah kanan bagi orang-orang yang selalu bertawakkal kepada Allah. Dari delapan pintu tersebut, tujuh di antaranya masih ditutup. Belum ada yang memasukinya. Hanya satu pintu, yaitu pintu taubat yang tetap dibiarkan terbuka sebelum matahari terbit dari barat. Sebagaimana hadis Ibnu Abbas radiyallâhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Surga juga memiliki banyak nama. Nama ini terkait dengan sifat yang dominan dan jenis kenikmatan yang ada di dalamnya. Adapun dzat surga itu satu saja. Surga adalah polisemi dari semua balasan yang akan diberikan bagi orang-orang yang beriman di akhirat.
Nama yang sering digunakan dalam Alquran adalah kata “jannah”. Menurut Ibnu Faris, “Jannah” berarti suatu tempat yang disediakan bagi orang Islam di akhirat. Ia adalah pahala dan kenikmatan yang tidak didapatkan mereka di dunia. Kedua “Dâr as-Salâm”. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-An’am ayat 127. Menurut Imam al-Baghawiy, disebut Dâr as-Salâm karena setiap orang yang masuk ke dalamnya akan selamat dari bencana dan keburukan. Juga karena semua yang ada di dalamnya menciptakan kedamaian dan keselamatan bagi penghuninya.
Lalu “Jannah al-Khuld”, disebutkan dalam surat al-Furqan ayat 15. Disebut demikian menurut Ibnu Jarir karena kebun atau taman yang ada di dalamnya kekal dan tidak akan pernah musnah. Disediakan khusus bagi orang-orang yang bertaqwa. Nama surga keempat “Dâr al-Muqhâmah” yang berarti tempat yang kekal. Penghuninya akan menempati tempat tersebut selamanya. Mereka tidak akan pernah mati dan tidak pernah akan dipindahkan. Nama keempat ini disebutkan dalam surat Fathir ayat 35. Kelima “Jannah al-Ma’wâ”. Menurut Ibnu Qayyim, surga ini dikhususkan buat orang-orang yang mendapatkan pahala syahid di jalan Allah. Disebutkan dalam surat an-Naziat ayat 41.
Keenam “Jannât ‘Adn”, disebutkan dalam surat al-Bayyinah ayat 8. Kata Jannât berbentuk plural, berarti kebun-kebun yang sangat banyak. Sementara kata ‘Adn artinya tempat tinggal. Jannât ‘Adn berarti kebun-kebun yang menjadi tempat tinggal. Lalu “Dar al-Hayawân” berarti sebuah tempat kehidupan yang abadi. Tidak terputus, tidak hilang dan tidak ada kematian di dalamnya menurut Ibnu Jarir. Disebutkan dalam surat al-Ankabut ayat 64. Nama surga kedelapan adalah “al-Firdaus”, nama yang cukup familiar. Menurut Ibnu Qayyim, ia adalah polisemi dari semua nama surga. Seperti kata Jannah juga. Al-Firdaus juga merupakan surga yang paling utama, paling bernilai, paling bercahaya, paling mulia, paling luas, paling tinggi dzat dan kedudukannya. Disebutkan dalam surat al-Mu’minun ayat 11.
Surga kesembilan “Jannât an-Naîm”. Berbentuk plural karena menggabungkan semua surga dan semua kenikmatan yang ada di dalamnya. Dalam bentuk makanan, minuman, pakaian, pemandangan, tempat tinggal, dan kenikmatan lainnya, baik yang tampak maupun yang kasat mata. Disebutkan dalam Surat Luqman ayat 8. Lalu “al-Maqâm al-Amîn”. Berarti sebuah tempat tinggal paling aman. Surga ini aman dari semua hal buruk, hal yang dibenci, bencana dan semua yang tidak disukai manusia. Disebut dalam surat ad-Dukhan ayat 51.
Terakhir “Maq’ad ash-Shidq” berarti tempat tinggal yang utuh dan sempurna. Tidak ada kekurangan di dalamnya. Tempat paling sempurna untuk dituju dan didambakan manusia. Disebutkan dalam surat al-Qamar ayat 55.
Selain memiliki banyak nama, surga juga bertingkat-tingkat. Antara satu tingkat menuju tingkat yang lainnya memiliki keterpautan yang sangat jauh. Dalam beberapa hadis tingkatan surga itu disebut “manzilah”. Sementara di hadis-hadis lain diungkap menggunakan lafaz “darajah”. Masing-masing tingkatan memiliki penghuninya tersendiri dan keistimewaan yang membedakan dengan yang lainnya.
Menurut jumhur ulama, tidak ada perbedaan di antara dua lafaz tersebut. Lafaz manzilah dan darajah. Sama menunjukkan tingkatan surga. Dalam kitab Majmu’ Al-Fatâwa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa surga itu bertingkat-tingkat. Antara satu tingkat dengan tingkat lainnya terpaut sangat jauh. Keterpautan antara satu tingkat dengan tingkat lainnya seperti keterpautan antara langit dan bumi.
Namun ada juga yang membedakannya. Seperti Al-Qhasthalany dalam kitab “at-Tanwîr”. Menurut beliau Manzilah adalah tingkatan surga yang diberikan kepada seseorang karena amalnya. Sementara Darajah tingkatan surga yang dianugrahkan kepada seseorang berdasarkan syafaat.
Tingkatan tertinggi di surga namanya al-Wasîlah. Berada langsung di bawah Arsy Allah Subhânahu wa Ta’ala. Dalam hadis Imam Tarmidzi, Rasulullah menyampaikan bahwa al-Wasîlah adalah tingkatan tertinggi di surga yang hanya diberikan kepada seorang makhluk saja. “Aku berharap akulah yang diberikan Allah” pinta Rasul.
Al-Wasîlah dalam bahasa Arab berarti dekat. Disebut demikian karena sangat dekat dengan Arsy Allah. Oleh karena itu hanya berhak diberikan kepada seorang makhluk terbaik di dunia. Manusia yang paling paripurna dalam ibadah. Hamba yang paling murni dalam ma’rifah. Abdi yang paling utuh mengimplementasikan khasyah. Seorang yang paling sempurna dalam mahabbah. Insan yang paling totalitas dalam tadhiyyah. Nabi yang abadi sebagai qudwah. Yaitu Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Satu-satunya manusia yang memenuhi semua kriteria.
Itulah sebabnya, setelah mendengar adzan kita diminta berdoa meminta al- Wasîlah bagi Rasulullah. Karena beliau berharap untuk mendapatkannya di akhirat. Dalam shahih Bukhari dan Muslim, disebutkan sebuah hadis dari Jabir bin Abdullah radhiyallâhu ‘anhumâ berkata, Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berdoa setelah mendengar adzan, “Ya Allah, pemilik doa yang sempurna ini dan shalawat yang tegak, berilah kepada Muhammad al-Wasîlah, keutamaan dan derajat tinggi. Dan anugrahkan beliau tempat terpuji yang telah Engkau janjikan. Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada Hari Kiamat.”
Di bawah al-Wasîlah, ada tempat khusus yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul lainnya. Disebut ghuraf atau bangunan-bangunan tinggi. Para ahli surga melihat bangunan ini seperti bintang-bintang yang bercahaya di langit malam. Karena berada di atas mereka. Dalam sebuah hadis dari Abu Sa’id al-Khudri radiyallâhu ‘anhu disebutkan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya para penghuni surga pasti melihat para penghuni ghuraf (bangunan tinggi di surga) dari atas mereka, sebagaimana mereka melihat bintang yang berkilauan dan jauh di ufuk timur atau barat. Lantaran perbedaan tingkatan mereka”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, itu adalah tingkatan bagi para nabi yang tidak dapat dicapai orang-orang selain mereka?” Rasulullah menjawab, “Benar, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sesungguhnya tingkatan tersebut juga bisa dicapai oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lalu di bawah ghuraf surga Firdaus. Rasulullah meminta umatnya untuk memohon kepada Allah agar diberikan surga Firdaus. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi para mujahidin di jalanNya. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus. Karena Firdaus adalah surga yang paling baik dan paling tinggi. Di atasnya terdapat Arsy ar-Rahmân, dari situ sungai-sungai surga mengalir.” (Riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad).
Surga secara otomatis menjadi harapan dan cita-cita manusia yang beriman dan bertaqwa. Ditakdirkan menjadi penghuninya adalah impian selama hidup di dunia bagi setiap muslim. Kembali ke pertanyaan di awal, apakah seseorang bisa memilih sendiri surga yang akan akan ditempati?
Seorang sahabat yang bernama Masruq bin al-Ajda’ radiyallâhu ‘anhu pernah bertanya kepada sahabat Abdullah bin Mas’ud radiyallâhu ‘anhu tentang ruh para syuhada yang hidup di sisi Allah sebagaimana dalam surat Ali Imran ayat 169:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ
Artinya; “Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya”
Abdullah bin Mas’ud lalu berkata, “Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah tentang hal ini, dan beliau menjawab, “Ruh mereka berada di dalam rongga burung hijau yang mempunyai banyak pelita yang bergantungan di ‘Arsy. Ia dapat keluar masuk surga sesuka hati kemudian beristirahat lagi di pelita-pelita itu. kemudian Allah menyambangi mereka seraya bertanya: “Apakah kalian menginginkan sesuatu? “Mereka menjawab, “Apa lagi yang kami inginkan kalau kami sudah dapat keluar masuk surga sesuka hati kami?“ Allah terus mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali. Ketika mereka melihat kalau tidak akan ditinggalkan sebelum menjawab pertanyaan, mereka lalu meminta, “Wahai Rabb, kami menginginkan ruh kami dikembalikan lagi ke jasad hingga kami dapat berperang lagi di jalanMu untuk kesekian kalinya.” Ketika Allah melihat kalau mereka tidak lagi membutuhkan sesuatu, akhirnya mereka ditinggal pergi” (HR. Muslim).
Seorang bisa memilih untuk masuk surga sesuka hati apabila ia bisa memastikan bahwa ruhnya bersama barisan ruh para syuhada. Seorang dianggap syahid di dunia dan akhirat apabila ia gugur di medan perang dalam rangka menegakkan Islam. Ia terus bertempur melawan musuh sampai meninggal. Bukan lari dari medan tempur lalu mati. Seorang juga dianggap syahid apabila terluka di medan tempur dan belum meninggal. Lalu ia tidak sempat makan, minum dan mendapatkan pengobatan sampai meninggal. Bila ia sempat makan, minum dan mendapatkan pengobatan, kemudian meninggal setelah itu, menurut sebagian ulama tidak dihukumi syahid.
Ada juga kondisi tertentu yang dihukumi syahid dalam Islam. Dalam beberapa hadis, Rasulullah mengkategorikannya sebagai syahid. Dianggap sebagai syahid akhirat. Artinya diberikan pahala di akhirat layaknya seorang yang syahid. Sekalipun tidak gugur di medan perang. Seperti al-Mabthûn, orang yang meninggal karena penyakit di perutnya, al-Gharîq, orang yang mati tenggelam. Al-Harîq, orang yang mati terbakar. Orang yang sakit Dzât al-Janb (semacam penyakit paru-paru), wanita yang meninggal ketika nifas, al-Gharîb, orang yang meninggal jauh di luar daerah tempatnya tinggal, seorang yang meninggal karena membela hartanya, seorang yang mati karena membela diri atau keluarganya, seorang yang terlempar dari kuda atau untanya, seorang yang disengat serangga, bahkan seorang yang meninggal di pembaringannya dengan wajar sesuai kehendak Allah.
Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya “Fath al-Bâriy” bahkan menyatakan bahwa ada dua puluh lebih kondisi seseorang yang bisa dikategorikan sebagai syahid di jalan Allah. Mereka dikategorikan syahid di jalan Allah menurut Imam Nawawi, karena prosesnya merasakan sakit sebelum meninggal seperti sakitnya orang yang gugur di medan perang.
Seorang juga bisa memilih tingkatan surga yang ia kehendaki dengan membaca Alquran. Salah satu hadis yang menyebutkan kata Manzilah atau tingkatan di surga adalah hadis yang mengungkap tentang keutamaan membaca Alquran. Dalam riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah pernah bersabda, “Dikatakan kepada pemilik Alquran, bacalah dan naiklah. Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca secara tartil di dunia. Karena al-Manzilah (kedudukanmu di surga) terletak di akhir ayat yang engkau baca”.
Seakan Rasul ingin menyampaikan bahwa kita bisa memilih tingkatan surga kita nanti di akhirat, sesuai dengan kualitas dan kuantitas bacaan Alquran saat berada di atas muka bumi. Bila satu kali duduk langsung khatam Alquran misalnya. Dengan tartil yang sempurna, memperhatikan makhraj dan semua hukum bacaannya, maka akan menempati puncak surga. Sebaliknya bila kualitas dan kuantitas bacaannya masih sekelas anak TPA, maka surganya dalam posisi terendah.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Aus bin Hudzaifah radiyallâhu ‘anhu, ia bercerita bahwa Rasulullah biasanya menemui mereka setelah salat Isya. Kebetulan tempat mereka berada antara rumah beliau dan masjid. Suatu malam Rasulullah terlambat menemui mereka. Aus lalu bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang menghalangimu untuk menemui kami?” Rasulullah menjawab, “Terbetik sesaat bagiku untuk membaca satu hizb Alquran. Sehingga aku tidak ingin keluar dari masjid sebelum selesai membacanya”. Kami pun bertanya kepada para sahabat Rasulullah, “Bagaimana kalian mengelompokkan hizb Alquran?” Mereka menjawab, “Kami membaginya menjadi tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-Mufashshal”.
Rasulullah diikuti beberapa sahabat senior seperti Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, dan Tamim ad-Dariy, memiliki kebiasaan mengelompokkan Alquran ke dalam tujuh bagian. Satu bagian dibaca satu hari. Sehingga tiap tujuh hari khatam Alquran. Bagian pertama dari surat al-Fatihah sampai an-Nisa atau sekitar 5 juz. Lalu dari surat al-Maidah sampai at-Taubah. Sama jumlahnya lima juz. Bagian ketiga hanya tiga juz. Yaitu dari surat Yunus sampai an-Nahl. Bagian keempat dari al-Isra sampai al-Furqan. Sekitar 4 juz.
Lalu bagian kelima dari surat asy-Syu’ara sampai Yasin. Bagian keenam dari surat ash-Shaffat sampai al-Hujurat. Sama jumlahnya dengan bagian kelima sekitar tiga juz. Dan khataman di hari ketujuh dari surat Qaf sampai an-Nas.


