Tulisan Abd. Rasyid, SH
(Ketua DPD PKS Kab Donggala)
Era saat ini suka atau tidak suka telah melahirkan satu model generasi unik yaitu Generasi SKIP. Apa itu? Generasi yang tidak suka banyak bacot, simpel dan cenderung suka mengabaikan apa yang tidak sreg.
Mereka tidak suka berlama-lama, dan mereka asyik dengan dirinya sendiri. Ketergantungan pada media sosial plus keinginan besar untuk eksis di dalamnya. Fenomena generasi SKIP ini memiliki sisi terang sekaligus sisi gelap.
Sisi Terang: Efisiensi dan Filter Mental
Dari sisi positif, Generasi SKIP adalah maestro efisiensi. Mereka memiliki filter mental yang sangat kuat terhadap “sampah informasi” (information overload). Karena terbiasa memindai konten dalam hitungan detik, mereka mampu :
1. Menemukan inti masalah dengan cepat: Tanpa perlu basa-basi birokrasi yang melelahkan.
2. Adaptif terhadap perubahan: Mereka tidak terikat pada cara lama jika ada cara yang lebih singkat dan efektif.
3. Kesehatan Mental Mandiri: Kecenderungan untuk mengabaikan hal yang “tidak sreg” bisa menjadi mekanisme pertahanan diri yang baik untuk menghindari drama yang tidak perlu di ruang digital.
Sisi Gelap: Kedangkalan dan Hilangnya Ketekunan
Namun, di balik kecepatan itu, terdapat lubang yang cukup dalam. Fenomena “skip” ini sering kali mengikis kemampuan seseorang untuk berproses. Adapaun Efek negatifnya meliputi:
1. Rentang Perhatian yang Pendek (Short Attention Span): Sulit untuk fokus pada tugas yang kompleks, membaca buku yang tebal, atau mendengarkan penjelasan mendalam tanpa merasa bosan.
2. Kurangnya Empati dan Koneksi: Hubungan antarmanusia tidak bisa di-skip atau dipercepat. Keinginan untuk serba instan membuat interaksi sosial terasa dangkal dan transaksional.
3. Ketidaksabaran dalam Karier: Begitu merasa tidak nyaman atau tidak langsung sukses, mereka cenderung “skip” ke pekerjaan lain daripada berjuang menyelesaikan tantangan.
Tantangan Menuju Masa Depan
Generasi ini hidup dalam paradoks: mereka sangat eksis secara digital, namun sering kali merasa terasing secara emosional. Keinginan besar untuk eksis menuntut validasi instan (seperti jumlah likes atau views), yang jika tidak terpenuhi, akan membuat mereka segera berpindah (skipping) ke tren berikutnya demi mempertahankan relevansi.
Pada akhirnya, tantangan bagi Generasi SKIP bukan tentang bagaimana cara memperlambat dunia, melainkan bagaimana cara berhenti sejenak di tengah kecepatan itu.
Menyadari bahwa ada hal-hal di dunia ini—seperti cinta, keahlian, dan karakter—yang tidak memiliki tombol “skip” untuk mencapainya.
Wallahu a’lam bisshawab
Dari Sudut Lapangan Persido
Maleni, 28 Januari 2026


