Tulisan Abd. Rasyid, SH
(Ketua DPD PKS Donggala)
Di Tahun 2008 mungkin bagi sebagian Kader Donggala teringatnya langsung pada Pilkada Langsung Pertama. Tapi jika menilisik sebelum tahun itu, atau rentan waktu 2004-2008 maka ada satu alat transportasi yang membekas dan punya cerita sendiri yaitu Mobil PANTHER berwarna putih.
Kendaraan ini bukanlah sekedar alat transportasi pendukung, tapi didalamnya terkandung “GHIROH DAKWAH” yang luar biasa. Tidak ada sudut desa yang tidak terjamah olehnya, bahkan semua kader yg besentuhan dengannya langsung “tiba2 menjadi Schumacher”. Berapa banyak yang pernah menjadi alumninya hingga saat ini telah mahir berkendara.
Ingatan terhadap Panther tersebut di sentil langsung oleh ustd Jatman (salah satu alumninya) diacara Refleksi 24 Tahun PKS, yang membuat memory tersebut meledak2 hingga pagi tiba. Sentilah yang bukan sekedar ingatan tentang benda yang bernama PANTHER saja. Tetapi sebuah hentakan dan kekhawatiran bahwa jika saja PANTHER itu bisa berbicara maka mungkin dia akan berteriak “Hey para Alumniku dimana GHIROH DAKWAHmu yang dulu?”
Yahh dlu GHIROH DAKWAH begitu membuncah, semangatnya adalah mencari, bertemu dan membina. cerita tentang target elektoral (suara, kursi dll) hanya selingan. Bahkan meskipun target orang bukanlah dianggap tokoh mumpuni tetap dikejar hingga ke sudut “hutan” sampe Panther tak mampu lagi bergerak.
Namun akhirnya tibalah masa-nya si PANTHER pensiun juga, krn memang umurnya tidaklah “muda” lagi, dan para Alumninya telah memiliki “pengganti” yang lebih baik darinya.
GHIROH DAKWAH vs GHIROH ELEKTORAL
Kenangan di atas bagi yang pernah merasakah PANTHER tua itu, akan termenung pada satu pertanyaan “apakah memang saat ini ada sesuatu yang hilang? Atau bergeser?”
Yahhh…itu dia GHIROH (atau semangat kuat) mengejar, mencari dan membina. Yang termunculkan justru GHIRO ELEKTORAL, yang semangatnya kursi, kuasa dan kebanggaan. Sehingga pencarianya sebatas orang dg kemampuan mencari suara untuk sekedar mengejar kursi sebanyak2nya.
Kini, kita melihat pergeseran yang nyata. Jika dulu kaki kita ringan menginjak gas Panther tua demi menemui satu jiwa di pelosok desa, kini langkah kita seringkali tertahan oleh kalkulasi angka. Kita lebih sibuk menghitung potensi suara daripada menanam nilai-nilai pembinaan. Kita lebih sering bertanya “Berapa banyak massa yang dia punya?” ketimbang “Bagaimana kabar imannya?”.
Transformasi dari Ghiroh Dakwah menjadi Ghiroh Elektoral memang memberikan kita kenyamanan fasilitas dan deretan kursi kekuasaan. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar: hilangnya ketulusan yang dulu meledak-ledak di dalam kabin Panther yang pengap itu. Kita punya mobil yang lebih cepat, tapi mungkin tujuan kita tak lagi se-sakral dulu. Kita punya AC yang lebih dingin, tapi semangat kita justru mendingin dalam zona nyaman.
Refleksi 24 Tahun ini bukanlah sekadar ajang nostalgia bagi para “Alumni Panther”. Ini adalah pengadilan bagi hati nurani kita masing-masing.
Sejatinya, kursi dan kuasa hanyalah alat angkut, persis seperti Panther putih itu. Jika orientasi kita hanya elektoral, maka saat kursi itu hilang, pergerakan kita pun akan mati. Namun jika ghiroh kita adalah dakwah, maka tanpa Panther pun, tanpa kursi pun, kaki kita akan tetap melangkah menembus batas-batas desa.
Mari kita merenung sejenak. Jika hari ini sang Panther putih itu kembali melintas di hadapan kita dengan kepulan asapnya yang khas, apakah kita berani menatapnya dengan bangga? Ataukah kita akan tertunduk malu karena sadar bahwa kemewahan kendaraan kita saat ini tak mampu mengimbangi keikhlasan yang dulu pernah kita miliki?
Sudah saatnya para Alumni Panther pulang ke rumah jati diri. Kembalikan politik pada titahnya sebagai pelayan dakwah, bukan dakwah yang menjadi pelayan politik. Sebab pada akhirnya, yang akan dicatat di langit bukanlah berapa banyak kursi yang kita duduki, melainkan berapa banyak jejak kebaikan yang kita tinggalkan di jalan-jalan berdebu—seperti jejak ban Panther tua yang tak pernah lelah menjemput keberkahan.
Kembalikan Ghiroh itu, sebelum ia benar-benar menjadi sejarah yang kering.
Wallahu a’lam Bisshawab
😭😭😭
@dariSudutLapanganPersido
24 April 2026 pukul 05.30 wita


