Seolah tidak pernah letih, Bunda panggilan akrab Afifah duduk paling depan sebagai murid. Padahal secara fisik, perempuan kelahiran 1959 itu memenuhi gambaran tradisional lansia pada umumnya.
Tapi meski tidak gesit, perempuan yang suka mengulum senyum itu tampak tekun menyimak materi demi materi dua hari full di Sekolah Murabbi (sabtu-ahad, 31 jan-1 feb 2026).
“Saya dapat energi dari doa- doa binaan saya dan para qiyadah,” katanya pelan namun begitu yakin.
20 tahun membina di Poso, memiliki dua kelompok Unit Pengkajian Anggota (UPA ) PKS, tiga majelis taklim, satu kelompok tahsin (mengaji) private, dan masih pula menyisihkan waktu siang hingga malam sejak senin sampai jumat untuk mengisi Taman Pengajian Alquram (TPA) di kediamannya.
Bunda mengakui mengajar di usia senja memang tidak mudah. Tapi ia sudah bertekad untuk mengabdikan sisa-sisa umurnya untuk dakwah. Termasuk juga untuk tetap belajar agar bisa menjadi murabbi (guru) yang handal.
“Saya hanya lulus SMP. SMA tidak tamat,” katanya malu-malu. Namun demikian, murid-murid yang dimilikinya mayoritas berpendidikan tinggi bahkan ia mengaku ada yang lulusan S2.
Ketika ditanya perihal awal masuk PKS dahulu, airmatanya menggenang. Sebagai transmigran yang aktif di Aisyiyah Muhammadiyah, ia mengaku kebingungan untuk mencari tempat taklim ketika tiba di Baturube Morowali tahun 1985. Maka, ketika temannya sesama transmigran Baturube yang turut hijrah ke Poso menawarkan untuk masuk PKS tahun 2004 karena ada pengajiannya, ia tidak menolak.
Meskipun tentu saja sebagai aktivis perempuan, ia mencari tahu dahulu apa dan siapa ketuanya (Presiden PKS) kala itu. Hidayat Nur Wahid, katanya. Ia menelusuri informasi terkait Presiden PKS melalui selebaran yang dikasih temannya maupun pemberitaan.
“Sampai saya mimpi dipasangkan jaket PKS sama beliau (Hidayat Nur Wahid- red), “ujarnya terharu.
Selanjutnya, Bunda menata langkah di PKS dengan hati-hati. Pakaiannya belum seperti anggota perempuan PKS pada umumnya. Jilbabnya masih diikat ke belakang leher. Belum menutupi dada. Masih biasa mengenakan jins.
Hebatnya, murabbinya tidak memaksa apalagi mempertanyakan pakaiannya. Bagi murabbinya yang penting sudah mau ikut UPA. Sudah cukup. Hal ini tentu saja membuat Bunda semakin nyaman. “Saya pakai jilbab kecil, dia tidak tegur.” katanya berkaca-kaca.
Suatu hari ia tahu murabbinya menjual jilbab syar’i. Bunda memberanikan diri bertanya harga. Ingin mencoba.
“Katanya ‘bu Afifah suka?’ saya mengangguk. Saya beli satu. Beliau malah kasih lagi dua. Jadi itu tiga jilbab syari pertama saya.” Kata Bunda mengenang dokter Ain, murabbi pertamanya.
Tidak ada desakan, semuanya mengalir begitu saja. Termasuk ketika lagi-lagi Bu Ain, murabbi Bunda menawarkan gamis untuknya. Ustadzah Ain tidak menceramahi soal pakaian muslimah yang pantas, melainkan bertanya,”kalau baju begini, Bu Afifah suka?”Tentu saja Bunda mengangguk mengiyakan.
Kedekatan emosional dengan murabbi pertamanya membuat Bunda banyak belajar. Sehingga ketika mendapati ada anggota kelompok UPA yang dipegangnya cukup problematik, ia maju meminta maaf duluan. “Barangkali memang saya yang belum baik menjadi murabbinya sehingga dia bertindak demikian,” kata Bunda, lagi-lagi tersenyum.
Pun ketika ditanya soal kekecewaan, Bunda menganggap bahwa berkelompok dalam dakwah seperti ini kekecewaan pasti ada. Tapi, baginya itu biasa. Liku-liku berdakwah, katanya. “Kan tidak seberapa tantangan yang saya alami dengan yang dialami qiyadah-qiyadah dahulu”.
Olehnya, ia tetap selalu minta didoakan agar istiqomah. Bagi Bunda, membersamai dan bersabar di kafilah dakwah ini tidak ada ruginya.
“Saya di Poso cuma punya anak-anak saya. Tidak ada keluarga lain. Saya pendatang. Tapi pertolongan Allah selalu ada melalui tetangga-tetangga saya, binaan-binaan saya yang perhatian dan menganggap saya seperti orangtuanya sendiri.”katanya
Bagi Bunda, 21 tahun di PKS membuatnya merasa hidup penuh makna. “Saya jadi punya banyak anak, banyak keluarga,” katanya menutup wawancara sembari tersenyum lebih lebar. (LL)


