Ketika membahas tentang riyâ dan sum’ah dalam bukunya “Âfât ‘alâ at’Tharîq” (penyakit-penyakit di jalan dakwah), Sayyid Muhammad Nuh mengingatkan bahwa keduanya merupakan penyakit yang paling berbahaya dan paling merusak bila terjangkit kepada para aktivis dakwah. Bila tidak segera disembuhkan, mereka akan selalu tersesat di dunia dan tetap sengsara di akhirat.
Riyâ secara etimologi berarti memperlihatkan. Maksudnya, seseorang yang memperlihatkan amal salihnya di hadapan manusia. Sementara Sum’ah dalam kajian leksikal berarti memperdengarkan. Maksudnya, gemar memperdengarkan amal kebaikannya kepada manusia, setelah sebelumnya tidak diketahui.
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalaniy dalam kitab “Fath al-Bâriy”, keduanya hampir memiliki pengertian yang sama. Berarti seseorang yang memperlihatkan amal salih kepada manusia karena ingin mendapatkan posisi, mencari kedudukan, atau mengejar dunia. Bila ditampakkan secara langsung maka disebut riyâ. Bila terjadi sebelumnya, lalu diceritakan kemudian maka disebut sum’ah.
Al-Izz bin Abd as-Salam juga menambahkan bahwa riyâ adalah seseorang yang beramal untuk selain Allah. Sementara sum’ah adalah yang telah menyembunyikan amalnya dari mata manusia, lalu ia menceritakan amal tersebut setelahnya. Pengertian ini adalah penafsiran dari ayat 264 di surat al-Baqarah, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًاۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْاۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riyâ (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat, sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir”.
Seorang yang melakukan riyâ (termasuk di dalamnya sum’ah), terkadang tidak menyadari, bahwa pahala amal kebaikannya seakan terus bertumpuk. Terus dicatat oleh malaikat. Seakan pada hari kiamat nanti, ia tinggal melangkahkan kakinya menuju Firdaus. Proses timbangan amal hanyalah formalitas untuk semakin menjamin surga.
Padahal, pahala amal itu hanya seperti debu, tidak terlihat secara kasat mata. Hinggap di atas batu yang sangat licin. Lalu turun hujan lebat yang menghapus debu itu. Tidak ada yang tersisa sama sekali. Bahkan setelah itu, Allah menghijab hidayahNya. Karena ia telah menyekutukan Allah dengan memamerkan amalnya, dengan memperdengarkan ibadahnya, dengan hanya mencari ridha manusia belaka.
Syufayy Al-Ashbahiy dalam riwayat Tirmidzi menceritakan kondisi sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu ketika akan menyampaikan hadis tentang bahaya riyâ dan sum’ah. Ia sampai menangis dengan sangat keras sebanyak tiga kali. Ia harus beristirahat agak lama, menenangkan diri terlebih dahulu, baru bisa menyampaikannya. Seakan ada perasaan takut yang luar biasa, apabila masuk dalam jenis manusia yang disebutkan dalam hadis.
Abu Hurairah lantas bercerita, “Suatu saat aku hanya bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis. Tidak ada orang lain selain kami. Rasulullah lalu bersabda, “Pada hari kiamat Allah akan turun menemui hamba-hambaNya, untuk mengadili mereka. Semua manusia menunduk karena takut. Pertama kali dipanggil tiga orang untuk dihisab: ahli Alquran, orang syahid di jalan Allah, dan pemilik harta. Allah lalu berkata pada qari (ahli Alquran), “Bukankah Aku telah mengajarimu apa yang aku turunkan pada rasulKu?’ Si qari menjawab, “Ya benar Tuhanku”. Allah lalu bertanya, “Apa yang kau lakukan dari yang telah engkau tahu?’ Ia menjawab, “Aku mendirikan salat di tengah malam dan siang”. Allah menegaskan, “Kau dusta!” Malaikat juga berkata padanya, “Engkau berdusta!” Allah kemudian berfirman, “Tetapi kamu ingin agar dikatakan si fulan seorang qari dan betul telah dikatakan di dunia!”
Setelah itu, dipanggil sang pemilik harta. Allah berkata kepadanya, “Bukankah telah Aku luaskan rezekimu, sampai Aku tidak membiarkanmu membutuhkan orang lain?” Ia menjawab, “Ya benar, Tuhanku”. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengan apa yang telah Aku berikan kepadamu?” Ia menjawab, “Aku menyambung tali silaturahmi dan bersedekah”. Allah menegaskan, “Kau dusta!” Malaikat berkata padanya, “Engkau berdusta!” Allah kemudian berfirman, “Kau hanya ingin agar dikatakan si fulan orang yang dermawan dan betul telah dikatakan dunia”.
Terakhir dipanggil seorang mujahid. Allah bertanya kepadanya, “Kenapa kau terbunuh?” Ia menjawab, “Engkau telah memerintahkan jihad di jalanMu, maka aku berperang sampai terbunuh”. Allah berkata, “Kau dusta!” Malaikat berkata padanya, “Engkau berdusta!” Allah seketika berfirman, “Kau hanya ingin disebut si fulan pemberani dan hal itu telah disebut di dunia”.
Rasulullah menepuk kedua lututku lalu bersabda, “Wahai Abu Hurairah, tiga orang itu adalah makhluk Allah yang pertama kali digunakan untuk menyalakan api neraka pada hari kiamat”.
Hadis ini adalah contoh betapa berbahayanya akibat riyâ dan sum’ah itu. Jihad merupakan pucak ibadah di dalam Islam. Seorang yang berjihad lalu syahid dijamin tetap hidup di sisi Allah dan terus mendapat rezeki. Namun ketika ingin disebut pemberani. Ingin dicap pahlawan. Ingin menunjukkan telah berkorban dengan harta dan fisik. Seketika runtuh pahalanya. Bukan mendapatkan surga, tapi jadi bahan bakar pertama menyalakan neraka.
Mengkonsumsi kalam Allah lewat Alquran, bukan hanya mendapatkan pahala per kalimat. Satu huruf saja bernilai sepuluh kebaikan di sisi Allah. Namun karena ingin menunjukkan bahwa bacaannya merdu. Ingin memperdengarkan bahwa makhrajnya yang terbaik. Agar dicap ahli Alquran. Agar dicap selalu bersama Alquran. Maka setiap huruf yang dibaca justru semakin mendekatkan ke neraka. Malah yang pertama diadili. Bukan diberikan surga, namun dipastikan untuk mendapatkan siksa.
Sedekah harta adalah sebuah amalan yang bisa tidak terhitung pahalanya. Paling minim diganjar sepuluh pahala. meningkat menjadi tujuh ratus kali lipat. Lalu menjadi tak terhitung sesuai dengan kehendak Allah. Namun semuanya bisa berubah. Ketika ingin dicap dermawan. Ingin dianggap seperti Usman bin Affan. Ingin menunjukkan kemampuan mencari maisyah. Atau mengumbar kemapanan. Maka setiap nilai rupiah yang diinfakkan justru menjadi bumerang. Surga yang dirindukan hilang. Berubah menjadi azab di hadapan mata.
Tiga kriteria yang disebutkan hadis sebagai parameter untuk menggeneralisir bahwa amal salih apapun, bila terjangkiti riyâ dan sum’ah tidak hanya akan hancur dan hilang pahalanya. Tapi justru sarana menuju neraka. Begitu pula kerja-kerja dakwah sebagai bagian dari amal salih.
Bila dakwah murni hanya dialamatkan untuk ridha Allah, maka tidak perlu lagi sorak dunia. Buta dari penglihatan, bisu dari penghargaan dan tuli dari pendengaran makhluk, justru sarana terbaik mengokohkan niat. Sebaliknya, puja dan puji manusia sangat abstrak. Akan berbeda dari satu manusia ke manusia lainnya. Tidak ada parameter pasti. Maka tidak usah dicari. “Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah murka, maka Allah akan terus membuatnya tergantung pada manusia” (HR. Tirmidzi).
Bila kerja kolektif karena ingin mendapatkan cintaNya, kenapa masih memerlukan manusia? Ketika cinta itu utuh dan tidak terbagi sama sekali, justru Allah akan menjamin semua kebutuhan hamba. Akan mencukupinya ketika kurang, akan menguatkannya ketika lemah, akan mendampinginya ketika sepi, akan membahagiakannya ketika sedih, akan mengangkat derajatnya ketika jatuh, dan akan memenangkannya ketika kalah. “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: “Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah ia”. Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru kepada penduduk langit seraya berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah ia.” Maka penduduk langit pun mencintainya, lalu Allah menjadikan penerimaan dan simpati terhadapnya di bumi” (HR. Muslim).
Maka saat membimbing dan membina, saat mengkaji agama, saat berjuang bagi semesta, saat mengukir peradaban di alam raya, saat mengais Rahmat Sang Pencipta di dunia, hati-hati. Jangan sampai ada celah sempit dalam hati, yang mulai terisi keinginan agar dilihat, agar dipuji, agar diagungkan, agar diberikan posisi, dan agar dijawarakan manusia. Walaupun celah tersebut gaib di mata manusia, namun terang benderang dari pandangan Allah. Celah itulah yang berpotensi menjadi riyâ dan sum’ah.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy dalam kitab Mukhtashar Minhâj Al-Qâsidhîn mengatakan bahwa sumber utama penyakit riyâ dan sum’ah karena ingin dipuji dan mencari kedudukan. Bila ingin lebih detail, maka sebabnya terangkum dalam tiga hal: menyukai lezatnya pujian manusia, lalu takut bila dicela, dan rakus terhadap apa yang dimiliki orang lain. Seorang bisa jadi tidak mau dipuji, namun disisi lain tidak mau disalahkan. Atau dalam bahasa kekinian, seorang yang terus ingin mencari validasi.
Agar tidak mengarah kepada dosa, Islam memberikan aturan terkait pujian. Sesuatu yang dipuji harus berdasarkan data valid dan riil terjadi. Tidak dimanipulasi. Pujian juga tidak membuat takabbur yang dipuji, tidak merusak keikhlasannya dalam beramal, tidak membuatnya tersanjung dan berbangga diri.
Suatu saat ada seorang laki-laki yang memuji sahabatnya. Pujian itu didengar langsung Rasulullah. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Bakrah radhiyallâhu ‘anhu lantas bersabda, “Engkau telah memotong leher saudaramu! Engkau telah memotong leher saudaramu! Engkau telah memotong leher saudaramu! (diucapkan dengan tegas sebanyak tiga kali)”. Rasul lalu menambahkan: “Jika ada diantara kalian yang terpaksa harus memuji seseorang, maka hendaklah ia menggunakan ungkapan, “Saya mengira bahwa si fulan seperti ini, tapi Allah yang lebih bisa menghisabnya. Atau ungkapan saya tidak berniat mensucikan siapapun di hadapan Allah (kecuali jika dia benar-benar mengetahui orang tersebut).
Kategori pujian yang dilarang menurut Imam Nawawi adalah pujian yang tidak berdasar realita. Atau melampaui batas. Pujian yang dikhawatirkan akan melahirkan kebanggaan diri. Adapun bila tidak dikhawatirkan sebagaimana yang telah disebutkan, karena ketakwaannya, karena kedalaman ilmu dan wawasannya, maka tidak ada larangan untuk memberikan pujian secara langsung.
Para ulama lantas membedakan antara pujian yang dibolehkan dengan pujian yang tidak dibolehkan. Pujian dibolehkan apabila yang memuji jujur. Seorang yang dipuji juga berhak atas pujian. Karena memang riil ada dan dilakukan. Pujian juga harus moderat. Tidak terlalu melebihkan, tidak melampaui batas dan di luar kewajaran. Seorang yang dipuji juga bisa istiqamah. Tidak takabbur saat dipuji, tidak memandang remeh orang lain, dan tidak membuatnya futur.
Sementara pujian yang dilarang bila tidak ada kejujuran di dalamnya. Pujian itu direkayasa sedemikian rupa. Tidak sesuai dengan realita yang ada. Pujian untuk mencari keuntungan saja.
Dalam riwayat Muslim, dari Abu Ma’mar disebutkan bahwa suatu ketika ada yang memuji seorang Gubernur. Lalu sahabat Miqdad radhiyallâhu ‘anhu melemparkan pasir kepadanya dan berkata: “Rasulullah memerintahkan kami untuk melemparkan pasir ke wajah-wajah para pemuji yang berlebihan”.
Pujian yang dilarang dalam Islam menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab “Ihya ‘Ulûm ad-Dîn” karena memiliki enam bahaya. Empat mengancam orang yang memuji dan dua mengancam kepada yang dipuji. Empat hal yang mengancam karena pujian tidak berdasar realita. Berarti dusta. Lalu memuji seakan karena bersimpati, padahal ada maksud lain di dalamnya. Berarti munafik. Ketiga, memuji tanpa fakta dan tidak ada cara membuktikannya. Berarti merusak reputasi diri. Dan terakhir, pujian untuk membuat senang dan berbahagia. Padahal sebenarnya yang dipuji telah berlaku zalim dan berbuat fasik. Berarti pujian mendukung kezaliman dan kefasikan.
Adapun bahaya bagi yang dipuji ada dua: karena ada kemungkinan menjadi takabbur dan bangga atas apa yang telah dicapai. Padahal takabbur dan berbangga diri bisa mencelakakannya. Kedua, karena dipuji, seseorang menjadi senang, yang bila berlebihan akan merusak amalnya.
Bila memuji orang lain, yang lumrah dilakukan oleh manusia tetap dibatasi oleh syariat. Tetap diberikan panduan agar tidak terjerumus ke dalam riyâ dan sum’ah. Apalagi memuji diri sendiri.
Dalam Alquran surat An-Najm ayat 32, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman, “Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah, dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa”.
Menurut At-Thabariy dalam kitab tafsirnya, ayat ini adalah larangan Allah bagi seseorang yang mensucikan dirinya sendiri dari dosa dan kesalahan. Ditambah oleh Asy-Syaukaniy, artinya adalah jangan memuji diri sendiri, jangan mensucikannya dari dosa dan kesalahan. Karena meninggalkan pujian terhadap diri sendiri, akan membuat seseorang jauh dari riyâ, dan membuatnya lebih khusyuk.
Al-Izz bin Abd as-Salam dalam kitab “Qawâid al-Ahkâm Fî Masâil al-Anâm” juga menambahkan bahwa memuji diri sendiri lebih tercela daripada memuji orang lain. Karena seseorang lebih rentan keliru dalam menilai dirinya sendiri dibanding menilai orang lain.
Pujian terhadap diri sendiri hukum asalnya haram dalam Islam. konsekuensi paling ringan akibat memuji diri sendiri adalah makruh. Dibolehkan, bila ada kebutuhan dan maslahat riil. Dalam kitab “Al-Adzkâr” An-Nawawi mengatakan, “Ketahuilah bahwa memuji diri sendiri dalam Islam ada dua hukumnya; dibolehkan dan dilarang. Memuji diri sendiri dilarang apabila tujuannya ingin membanggakan diri, ingin dianggap Istimewa, ingin memiliki kedudukan tinggi, dan ingin menjadi istimewa di mata orang lain.
Sementara memuji diri dibolehkan apabila ada maslahat yang diakui syariat. Seperti ingin mengajak kepada kebaikan, mencegah kemunkaran, memberikan nasihat, menyarankan tindakan yang bermanfaat, mengajar, mendidik, berdakwah, mengingatkan orang lain, mendamaikan pihak-pihak yang berselisih, menghindarkan diri dari bahaya, atau hal-hal yang serupa. Menyebut kebaikan diri agar apa yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipercaya.
Seperti nabi Yusuf yang memuji dirinya sendiri dalam surat Yusuf ayat 55, “Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku pengelola perbendaharaan negeri (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) lagi sangat berpengetahuan”. Atau pujian Rasulullah kepada dirinya dalam hadis riwayat Muslim, “Aku adalah pemimpin anak cucu Adam pada hari kiamat. Aku adalah orang yang dibangkitkan terlebih dahulu. Aku adalah orang pertama yang memberikan syafaat dan yang diizinkan memberikan syafaat”.
Atau seperti sahabat Usman bin ‘Affan radhiyallâhu ‘anhu saat rumahnya dikepung untuk dimintai pertanggungjawaban, ia lalu memuji dirinya sendiri, untuk mengingatkan jasanya kepada orang yang mengepungnya, “Bukankah kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa yang memberikan bekal pasukan yang serba kekurangan saat itu maka ia akan masuk surga? Akulah orang yang memberikan bekal pasukan itu” (HR. Bukhari).
Atau dalam riwayat Bukhari dan Muslim, ketika Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu memuji dirinya sendiri. Ia berkata, “Demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia. Tidak ada satupun surat di dalam Alquran, kecuali aku mengetahui tempat surat itu diturunkan. Tidak ada satupun ayat, melainkan aku mengetahui konteks turunnya. Seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih berpengetahuan dariku mengenai Kitab Allah, dan orang itu dapat dijangkau dengan perjalanan unta, niscaya aku akan mendatanginya”.
Ditambahkan oleh Imam Ibnu Al-Jauziy dalam kitab “Zâd al-Masîr” bahwa jika pujian terhadap diri sendiri terbebas dari sikap lancang dan sombong, tujuannya untuk menegakkan kebenaran, menegaskan keadilan atau menghapus kezaliman, maka hal itu terpuji dan dibolehkan.
Setelah batasan dibolehkannya pujian, seorang yang memuji juga harus memenuhi beberapa syarat. Antara lain ia harus memiliki makrifat tentang Allah. Ia telah merasakan manisnya iman. Ia telah selesai dengan dirinya sendiri. Al-Harits bin As’ad Al-Muhasibiy pernah mengatakan, “Ikhlas adalah mengenyahkan seluruh makhluk saat sedang berhubungan dengan Allah. Dan diri sendiri adalah makhluk pertama yang harus dienyahkan”.
Maka dakwah seharusnya tidak lagi membutuhkan validasi. Karena Allah yang menjadi tujuan utama. Selama niat konsisten terjaga, lalu beramal nyata sesuai firmanNya, berbuat sesuai sunnah RasulNya, walaupun tidak riuh dengan pujian, sepi dari penghargaan, nihil dari pemberian, baik dari manusia maupun dari qiyadah, sudah cukup dan sepadan. Karena itu berarti, pintu surga telah terbuka lebar di depan mata. Kenikmatan abadi sedang menunggu.
Walaupun demikian, qiyadah yang baik adalah seorang yang pandai memuji dan memberikan penghargaan. Selain menasehati saat khilaf, mendidik saat melanggar, menghukum saat menyimpang dari kode etik, juga wajib memberikan reward. Islam mengajarkan tentang “al-‘Irfân bi al-Jamîl” atau sikap tahu berterima kasih, tahu balas budi, tahu menghargai kebaikan orang lain. Rasul dalam sebuah hadis riwayat Imam Abu Daud dan Tirmidzi pernah bersabda: “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah seseorang yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia”.
Pujian qiyadah akan mendukung keistiqamahan barisan dakwah. Lalai dalam menghargai justru menyebabkan futur. Enggan memberi akan membuat shaf malas, tidak termotivasi, lambat bergerak, tidak produktif, miskin kreasi, dan tidak melahirkan karya nyata.
Jundi yang baik juga tidak sibuk dengan pujian. Tidak lekang dengan penghargaan. Tetap istiqamah saat dihargai. Tetap tsabat saat diabaikan. Tetap produktif saat dipuji.
Tetap sabar saat tidak mendapat posisi. Karena Allah tujuan utama. Bukan manusia. Semangat dakwah tetap terpatri, sebagaimana yang ditunjukkan nabi Syuaib ‘alaihi as-salâm, “Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan sesuai dengan kesanggupanku. Tidak ada kemampuan bagiku (untuk mendatangkan perbaikan) melainkan dengan (pertolongan) Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali” (QS. Hud: 88).
Maka ketika ingin memuji orang lain, apalagi diri sendiri, tanyalah segera! Apakah murni keluar dari hati? Ataukah ingin mencari posisi? Apakah dialamatkan untuk Ilahi? Atau usaha menggalang simpati. Apakah jujur tanpa basa-basi? Atau sekedar mencari sensasi. Apakah bersumber dari referensi asli? Atau hanya sekedar intuisi. Apakah Ikhlas yang terus terpatri? Ataukah ingin membanggakan pribadi. Karena akhirat sekali lagi, tidak membutuhkan validasi.


