PALU — Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Tengah, H. Iswan Kurnia Hasan, Lc., M.A., mengajak para kader untuk senantiasa melakukan introspeksi dan memperbarui taubat kepada Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Jalsah Imaniyah yang digelar BKAP DPW PKS Sulawesi Tengah di Palu, Ahad, 30 Agustus 2026.
Dalam materinya, Ustad Iswan menegaskan bahwa taubat bukan sekadar sarana untuk menghindari siksa Allah, tetapi merupakan kebutuhan setiap manusia.
“Kenapa harus bertaubat? Sebab kita membutuhkan taubat. Taubat itu kembali kepada Allah,” ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan empat syarat taubat. Tiga di antaranya berkaitan langsung dengan Allah SWT, sedangkan satu lainnya berkaitan dengan sesama manusia.
Syarat pertama adalah meninggalkan maksiat. Ustad Iswan mengibaratkannya seperti mencabut pohon hingga ke akar-akarnya. Taubat tidak cukup hanya dengan mengakui kesalahan, tetapi harus disertai dengan upaya sungguh-sungguh untuk menghentikan perbuatan maksiat.
Kedua adalah penyesalan yang mendalam. Menurutnya, para ulama mendefinisikan penyesalan sebagai kesedihan yang benar-benar mendalam atas maksiat yang telah dilakukan.
“Awal dari taubat itu adalah menyesal,” katanya.
Ketiga adalah bertekad untuk tidak kembali melakukan maksiat. Tekad tersebut harus diwujudkan dengan memperbaiki hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan maksiat dan membulatkan niat untuk tidak mengulanginya.
Sementara syarat keempat berkaitan dengan manusia, yakni meminta maaf dan menyelesaikan persoalan dengan orang lain apabila dosa atau kesalahan tersebut menyangkut hak sesama manusia.
Ia mengingatkan bahwa persoalan dengan manusia tidak boleh dianggap ringan karena konsekuensinya dapat berlanjut hingga akhirat.
Ustad Iswan juga menguraikan tentang taubat nasuha dengan merujuk pada penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
Menurutnya, taubat nasuha memiliki tiga aspek penting. Pertama, seseorang bertaubat dari seluruh dosa dan memohon ampun atas semua maksiat yang dilakukan.
Kedua, berkaitan dengan pelaku taubat, yaitu mengumpulkan seluruh niat dan tekad untuk benar-benar berubah serta jujur dengan tekad tersebut.
Ketiga, berkaitan dengan kepada siapa taubat ditujukan, yakni memurnikan taubat hanya kepada Allah SWT.
“Betul-betul murnikan taubat itu hanya untuk Allah,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa orang yang benar-benar melakukan taubat nasuha dan kemudian meneguhkan keimanan serta memperbanyak amal saleh memiliki jalan menuju surga sebagaimana kabar gembira yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Dalam kesempatan tersebut, Ustad Iswan juga mengingatkan sejumlah hambatan yang sering membuat seseorang menunda taubat.
Salah satunya adalah kebiasaan mengatakan, “Saya akan…”, tetapi tidak segera melakukannya. Ia menggambarkan seseorang yang hendak mencabut pohon yang mengganggu, tetapi karena kesulitan mencabutnya, ia memilih menundanya hingga tahun berikutnya.
“Tanpa disadari, pohon itu semakin besar dan akarnya semakin kuat. Makanya segera cungkil maksiat itu, sebab tidak ada jaminan nyawa kita masih panjang,” jelasnya.
Hambatan lainnya adalah perasaan bahwa usia masih panjang sehingga seseorang merasa masih memiliki banyak waktu untuk bertaubat.
Padahal, menurutnya, manusia tidak pernah mengetahui kapan kesempatan hidupnya akan berakhir.
Lebih jauh, Ustad Iswan menyampaikan sejumlah manfaat taubat. Pertama, taubat menjadi sebab seseorang mendapatkan cinta Allah SWT.
“Kalau mau mengetahui bagaimana Allah mencintai kita, bertaubatlah. Sepanjang kita terus bertaubat, sepanjang itu juga Allah mencintai kita,” tuturnya.
Kedua, taubat merupakan sumber kebahagiaan. Karena itu, ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan, seorang muslim dianjurkan untuk kembali kepada Allah dengan memperbanyak taubat.
Ketiga, taubat menjadi sebab seseorang mendapatkan ampunan Allah SWT. Keempat, taubat yang diikuti dengan penguatan iman dan amal saleh menjadi jalan menuju surga.
Menutup materinya, Ustad Iswan mengajak para kader yang telah memilih jalan dakwah untuk melakukan muhasabah secara lebih mendalam.
Menurutnya, semakin jauh seseorang berjalan dalam dakwah, semestinya semakin besar pula kesadarannya untuk bertaubat. Sebab, setiap kader memiliki janji dan komitmen yang pernah diikrarkan kepada Allah SWT.
“Kita yang sampai di titik ini harusnya lebih bisa bertaubat, sebab kita dahulu berjanji kepada Allah dalam dakwah ini,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap janji memiliki konsekuensi. Karena itu, taubat juga harus menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali komitmen dakwah, memperbaiki kekurangan, dan kembali meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT.


