Dengan menggunakan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Ketentuan Penggunaan.
Accept
DPW PKS SultengDPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
Notification Show More
Font ResizerAa
  • DPW PKS
    • SEJARAH
    • VISI MISI
  • BERITA & INFORMASI
    • KABAR SULTENG
    • FOTO BERITA
    • PRESS RELEASE
  • TOPIK PILIHAN
    • HIKMAH
    • CATATAN ANGGOTA
Reading: Militansi Hasil Kaderisasi
Bagikan
Font ResizerAa
DPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
  • DPW PKS
  • BERITA & INFORMASI
  • TOPIK PILIHAN
Search
  • Home
    • Beranda
  • Categories
    • Publikasi
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Beranda » Blog » Militansi Hasil Kaderisasi
HikmahKabar Sulteng

Militansi Hasil Kaderisasi

Diperbarui Selasa, 13 Januari 2026 3:23 pm
DPW PKS Sulteng
Diterbitkan Selasa, 13 Januari 2026
Bagikan
Bagikan

Dalam kitab Tafsir “Fî Dzilâl al-Qurân” Karangan Sayyid Qutb, disebutkan riwayat dari Imam Ahmad tentang Tsabit yang menceritakan pamannya, Anas bin an-Nadhar radiyallâhu ‘anhu. Ia termasuk salah satu sahabat yang tidak ikut perang Badar kata Tsabit. Sebabnya padahal bisa digolongkan sebab syar’i. Karena awalnya Rasulullah hanya berniat untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan. Bukan untuk berperang. Sehingga beberapa sahabat tidak ikut. Termasuk Anas.

Akibatnya, Anas merasa gelisah dan tertekan. Ada rasa bersalah karena membiarkan Rasulullah berperang bersama sahabat yang lain. Sementara ia tidak bergabung. Tidak membela Rasulullah, saat pertama kali terlibat kontak fisik dalam skala besar melawan kafir Quraisy. Maka ia pun berkomitmen, “Peperangan pertama yang diikuti langsung oleh Rasulullah sementara aku tidak ikut. Bila Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengikuti perang lainnya, pasti Allah akan menyaksikan secara langsung apa yang akan aku lakukan”.

Kemudian Anas diberikan kesempatan ikut perang Uhud. Ia sempat berkata kepada Sa’ad bin Muadz radhiyallâhu ‘anhu kala itu, “Wahai Aba ‘Amr, alangkah mudahnya mendapatkan harum surga. Sesungguhnya aku menemukannya di depan Gunung Uhud”. Ia lalu maju dengan gagah berani ke medan perang tanpa takut apapun. Akhirnya ia mendapatkan syahid. Di jasadnya, ditemukan delapan puluh luka. Baik berupa pukulan benda tumpul, tusukan benda tajam maupun tancapan anak panah. Ketika melihat jasadnya setelah perang, saudarinya Arrubi’ binti Nadhar radhiyallâhu ‘anha berkata, “Aku tidak bisa lagi mengenal saudaraku, kecuali lewat jari-jarinya saja. Karena jasadnya sedemikian rusak akibat perang.

Riwayat inilah menurut Sayyid Qutb yang menjadi sebab diturunkannya ayat ke-23 dalam surat Al-Ahzab. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ

Artinya: “Di antara orang-orang beriman itu, ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur, dan ada yang masih menunggu. Dan mereka tidak sedikitpun merubah janjinya”.

Anas bin an-Nadhar di perang Uhud adalah gambaran sederhana militansi hasil kaderisasi Rasulullah. Militansi yang bukan sekedar letupan emosi jiwa dan kobaran semangat. Militansi yang bukan berbasis narasi menggebu-gebu dan heroik. Militansi yang bukan menerjemahkan idealisme dengan debat-debat panjang dan diskusi-diskusi yang kontraproduktif. Militansi yang bukan diupload dalam bentuk cuitan di jejaring untuk berburu like dan viralitas.

Tapi militansi hasil kekayaan rohani dalam jiwa. Membuncah dalam hati. Sehingga mampu merangkai niat terindah untuk mengikhlaskan semua perjuangan demi Ilahi. Bergerak teratur dalam satu komando juang, di bawah panji Rasulullah sebagai qiyadah. Bukan kerja personal. Lalu memberikan pengorbanan terbaik untuk merealisasikan tujuan tertinggi dalam hidup. Kalau tidak pulang membawa izzah dengan kemenangan, maka gelar syahid menjadi akhir kehidupan. Tidak ada pilihan yang lain.

Menurut Sayyid Qutb, para sahabat semisal Anas adalah manusia biasa. Mereka tidak mungkin terlepas dari perasaan dan kelemahan manusia pada umumnya. Merekapun tidak dibebani dengan sesuatu yang melebihi batasan manusia. Merekapun tidak dituntut melampaui kekuatan diri mereka sendiri. Sehingga karakter kemanusiaan mereka hilang dan lenyap. Allah menciptakan mereka agar tetap menjadi manusia biasa. Tidak beralih ke jenis makhluk lain seperti malaikat, jin, binatang atau batu. Mereka juga seperti kebanyakan manusia lainnya yang tetap merasa takut, tertekan, terguncang dengan peristiwa yang melampaui batas kemanusiaan.

Mereka menjadi Istimewa karena tetap berpegang kepada ikatan yang kuat. Ikatan langit. Ikatan dengan Allah, yang mencegah dari kejatuhan dan putus asa, kembali mengeja asa dan mengasah harapan, menjaga untuk menyerah dan kalah. Sehingga mampu bangkit dari keterpurukan, mengembalikan kepercayaan dan keyakinan, lalu merubah tekanan menjadi kemenangan. Dengan sifat dan sikap demikian, mereka menjadi contoh dan teladan yang langka dalam sejarah manusia. Belum ditemukan bandingan yang sama.

Mereka sama manusianya dengan kita. Sama menghadapi tantangan sebagai manusia yang juga kita alami. Sama membutuhkan materi untuk menghidupi diri dan keluarga. Sama pernah merasa takut dan jatuh. Sama berusaha menjadi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Sama merindukan Firdaus dan ridha Allah. Tapi komitmen dengan Allah yang membuat mereka ditahbis menjadi “rijâl”. Satu predikat yang menunjukkan keperkasaan, heroisme, kekuatan, keteguhan, kekokohan dan kesempurnaan manusia yang diabadikan langsung oleh Allah dalam Alquran. Bukan predikat “’awwâm” sebagaimana manusia pada umumnya.

Dalam riwayat lain dari Imam Ahmad dan al-Hakim, disebutkan suatu saat Umar bin Khattab radhiyallâhu ‘anhu berada dalam sebuah majelis bersama para sahabatnya. Ia lalu meminta mereka, “bermimpilah kalian!” Salah seorang dari mereka berkata, “Aku bermimpi untuk memiliki uang dirham yang memenuhi rumah ini, sehingga aku bisa menginfakkannya di jalan Allah. (Seakan tidak puas), Umar kembali bertanya, “Bermimpilah!” Salah satu yang hadir lalu berkata, “Aku berangan-angan memiliki emas sepenuh rumah ini, sehingga aku bisa mensedekahkannya di jalan Allah. (Masih tidak puas) Umar kembali menegaskan, “Bermimpilah!” Kembali orang lain lantas berkata, “Aku berharap memiliki permata yang menumpuk di rumah ini, sehingga aku bisa mendermakannya di jalan Allah”.

Umar tetap meminta “Bermimpilah!” Para sahabatnya balik menanggapi, “Tidak ada lagi yang kami harapkan selain apa yang telah kami sebutkan tadi”. Umar lalu berkata, “Aku justru memimpikan rumah ini penuh dengan orang-orang sekaliber Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Muadz bin Jabal, Hudzaifah bin al-Yaman, kemudian aku memanfaatkan keberadaan bersama mereka untuk taat kepada Allah”.

Untuk membuktikan kualitas tiga sahabat tersebut, Umar lalu meminta seorang yang hadir di dalam majelis tersebut untuk membagikan harta darinya kepada Abu Ubaidah. Umar lalu berkata, “Lihat apa yang ia lakukan setelah menerima harta”. Saat harta itu diberikan kepada Abu Ubaidah, ia segera membagikannya kepada yang membutuhkan. Hal yang sama juga dilakukan kepada Muadz dan Hudzaifah. Keduanya pun bersikap sama dengan Abu Ubaidah. Saat harta diberikan, keduanya langsung membagikan kepada yang membutuhkan.

Umar sangat paham bahwa aset utama dakwah Islam bukanlah infra struktur dan materi. Aset yang paling bernilai adalah sumber daya manusia. Kader dakwah itu sendiri. Tapi bukan sembarangan. Kader yang militansinya seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Muadz bin Jabal atau Hudzaifah bin al-Yaman.

Ketiga sahabat ini memiliki persamaan. Ketiganya adalah orang yang dipercaya Rasulullah. Beliau sendiri pula yang menguji kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka.

Dimulai dari Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallâhu ‘anhu. Dalam buku “Rijâl Hawla ar-Rasûl” karangan Khalid Muhammad Khalid disebutkan Abu Ubaidah pernah diutus Rasulullah memimpin pasukan yang berjumlah 315 orang dalam misi Perang Khabat. Bekal yang diberikan hanya sekeranjang kurma. Padahal perjalanan yang ditempuh sangat jauh. Abu Ubaidah menerima tugas itu dengan senang dan ikhlas. Rombongan pun berangkat. Dalam sehari, setiap prajurit mendapatkan jatah segenggam kurma. Ketika perbekalan semakin menipis, mereka mendapatkan jatah satu kurma per hari. Setelah kurma habis, Abu Ubaidah dan pasukannya mencari daun tanaman Khabat. Mereka menumbuk daun tersebut dan meminum airnya. Mereka tidak lagi mempedulikan lapar. Hanya ada dalam pikiran mereka untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan Rasulullah.

Abu Ubaidah juga ditahbis Rasulullah sebagai orang yang sangat terpercaya. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Adapun orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah”.

Lalu Muadz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu. Muadz dipercaya Rasulullah untuk menjadi utusan ke Yaman. Ketika akan dilepas, Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa yang menjadi pedomanmu ketika mengadili masalah yang diajukan kepadamu?” Muadz menjawab, “Kitabullah”. Rasul kembali bertanya, “Jika kamu tidak mendapatinya dalam Kitabullah?” Muadz menjawab, “Dengan sunnah Rasul”. Rasul bertanya lagi, “Jika tidak kamu dapati dalam sunnah Rasulullah? Muadz menjawab, “Aku gunakan pikiran dan aku tidak putus asa”. Wajah Rasulullah seketika berseri. Beliau lalu bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan utusan Rasulullah untuk menempuh jalan yang diridhai Rasulullah” (HR. Abu Daud dan al-Baihaqiy).

Selain terpercaya, Muadz bin Jabal memiliki kelebihan yang tidak dimiliki sahabat lainnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rasulullah pernah bersabda, “Umatku yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal”.

Terakhir Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallâhu ‘anhu. Saat perang Khandaq, Rasulullah ingin mengetahui perkembangan terakhir di perkemahan musuh. Malam sangat gelap dan menakutkan saat itu. Badai padang pasir juga sedang menghantam Madinah. Para sahabat juga dalam kondisi lapar karena Madinah gagal panen. Situasi yang serba sulit.

Namun Rasulullah perlu mengutus seseorang masuk ke tenda musuh. Siapakah kiranya yang memiliki keberanian dan kekuatan di situasi berat seperti itu? Tidak lain adalah Hudzaifah bin al-Yaman yang diutus oleh Rasulullah. Sebenarnya Hudzaifah juga takut memikul tanggungjawab tersebut. Ia juga merasa tidak mampu. Resikonya terlalu berat dan berbahaya. Namun ia tetap harus melaksanakannya. Di tengah rasa lapar, situasi malam yang sangat dingin, dan ancaman dibunuh musuh di markas mereka sendiri.

Hudzaifah juga memiliki kelebihan tersendiri. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa sahabat Abu Darda radhiyallâhu ‘anhu pernah berkata kepada Alqamah, “Bukankah di antara kalian ada seorang yang menjaga rahasia Rasulullah, yang tidak ada orang lain mengetahuinya?” (maksudnya Hudzaifah bin al-Yaman). Menurut Ibnu Hajar, maksud rahasia di sini adalah jati diri orang-orang munafik yang berada di Madinah.

Ketika Anas bin an-Nadhar menerjemahkan militansi dengan komitmen, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Muadz bin Jabal dan Hudzaifah bin al-Yaman menerjemahkannya dengan amanah. Mereka adalah orang-orang yang terpercaya untuk diberikan tugas-tugas dakwah dan sangat amanah dalam menjalankannya.

Mereka juga menerjemahkan milintasi dalam bentuk mengasah ketrampilan khusus yang dimiliki. Lalu digunakan sepenuhnya untuk maslahat dakwah. Abu Ubaidah dengan leadershipnya sebagai panglima besar, memimpin Syam sampai akhir hayatnya. Muadz bin Jabal sebagai ulama terpercaya, rujukan para sahabat. Dan Hudzaifah bin al-Yaman yang berperan sebagai ahli sumber daya manusia, karena memiliki data orang-orang munafik. Sehingga menjadi rujukan khalifah seperti Umar dalam memilih dan memberikan tugas kepada yang berhak.

Ketiga sahabat di atas juga dipilih Umar, karena merupakan orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak lagi fanatik dengan materi dan semua kemewahannya. Mereka telah mencerabut dunia dari dalam hatinya. Tidak berburu jabatan, karena ingin memperkaya diri. Ketika diberikan amanah, tidak diselewengkan untuk mencari keuntungan pribadi. Ketika mendapatkan keuntungan, maka lebih diutamakan buat orang lain yang lebih berhak.

Umar bin Khattab saat menjadi khalifah pernah mengunjungi rumah Abu Ubaidah yang saat itu didapuk menjadi panglima besar di Syam. Ketika ia masuk, yang dilihat hanya sebilah pedang, sebuah perisai dan pelana kuda. Dengan tersenyum, Umar bertanya, “Mengapa kamu tidak memperlakukan dirimu seperti orang kebanyakan?” Abu Ubaidah menjawab, “Wahai Khalifah, seperti inilah yang membuatku bisa istirahat”. Melihat kondisi rumah Abu Ubaidah, Umar bin Khattab menangis sambil berucap, “Dunia telah mengubah kami semua selain engkau wahai Abu Ubaidah”.

Begitu pula Hudzaifah bin al-Yaman. Ketika penduduk Madain menunggu Gubernur baru yang diangkat Umar, ternyata yang datang seorang yang mengendarai keledai beralaskan kain usang. Kedua tangannya memegang roti dan garam. Ia masuk di tengah kerumunan orang sambil melahap roti. Tidak ada kewibawaan yang coba dibuat-buat. Tidak ada image yang sengaja ditampilkan sebagai seorang gubernur. Tidak ada flexing dengan niat menjaga wibawa sebagai pejabat publik yang akan memimpin Madain. Sebuah kota besar yang sebelumnya menjadi wilayah Persia. Dialah Hudzaifah.

Tidak ketinggalan Muadz bin Jabal. Di masa Khalifah Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhu, Muadz yang dikenal kaya raya tidak segan membagikan separuh hartanya untuk Abu Bakar. Bisa digunakan oleh Abu Bakar untuk mencukupi kebutuhannya sebagai seorang khalifah. Namun Abu Bakar tidak mau. Muadz menjadi rakyat yang ingin berbagi kepada pimpinannya. Sebaliknya Abu Bakar sebagai pemimpin juga tidak ingin memanfaatkan rakyatnya.

Dalam kitab “Sifah ash-Shafwah” karangan Ibnu al-jauziy, disebutkan riwayat dari Waki’ bin al-Jarrah yang menceritakan pesan ibu Imam Sufyan ats-Tsauriy, “Wahai anakku, carilah ilmu dan aku akan memberimu bekal dari upah memintal benang. Apabila engkau telah menulis sepuluh hadis (dalam riwayat lain sepuluh huruf), maka analisalah dirimu setelah itu. Apakah pengetahuanmu telah menguatkan langkahmu? (mengokohkanmu dalam beragama), meningkatkan kemurahan hatimu? Dan menambah ketundukanmu? Bila tidak ada yang berubah sama sekali, maka ketahuilah sesungguhnya ilmu yang kamu pelajari tidak akan memberimu bahaya dan tidak akan memberimu manfaat sama sekali”.

Kaderisasi yang berjalan secara normal seharusnya akan semakin meningkatkan militansi. Semakin beranjak waktu, maka akan semakin terasah semangat untuk peduli sesama aktivis. Menggerus egoisme diri. Semakin meledak motivasi untuk mencari ridha Ilahi dalam kerja dakwah. Dibanding keuntungan materi. Semakin menajam kualitas Ikhlas di dalam hati. Dibanding niat mendapatkan sorakan publik dan sorotan kamera. Semakin meningkat komitmen aksi dan berbuat nyata. Dibanding narasi dan slogan idealis. Semakin khusyuk untuk membangun istana dengan kualitas dan kuantitas ibadah. Dibanding kekhusyukan menambah koleksi materi. Semakin rindu untuk mendapatkan husnul khatimah di akhir hayat.

Seperti Anas bin an-Nadhar, ketika syahid di medan Uhud dengan 80 luka hasil jihad. Seperti Hudzaifah bin al-Yaman, yang ketika dijemput maut ia sempat bergumam lirih, “Selamat datang wahai maut, kekasih yang lama dirindukan. Hanya bahagia dan tidak ada rasa sesal”. Bahagia karena hidup diisi dengan segala hal yang mendatangkan ridha Allah.

Seperti Muadz bin Jabal, yang di saat terakhirnya di dunia ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepadaMu, tetapi hari ini aku mengharapkanMu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa kecintaanku terhadap dunia bukan untuk membuat taman pribadi yang dialiri sungai-sungai, atau untuk memperbanyak kebun. Tetapi untuk minum orang yang kehausan, bantuan bagi orang yang butuh saat musim paceklik, dan bekal untuk mencari ilmu, menambah keimanan serta ketaatan”. Ia lalu membentangkan tangan seakan ingin berjabat dengan malaikat maut sambil berujar, “Selamat datang wahai kematian. Engkau adalah kekasih yang datang saat diperlukan”.

Seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah, yang saat wabah melanda Syam, Umar sempat mengirim surat kepadanya untuk meminta ia balik ke Madinah agar tidak terkena wabah. Namun ia tetap komitmen untuk melaksanakan amanah dakwahnya sampai akhir hayat. Dalam surat balasan yang dikirim kepada Umar ia menulis, “Sungguh aku mengerti kebutuhanmu untuk menyuruhku kembali. Maka biarkan aku mengundurkan diri dari jabatan (kalau Umar tetap memaksa). Karena aku bersama pasukan muslim di sini. Aku tidak ingin berpisah dari mereka”. Dan benar Abu Ubaidah membuktikan komitmennya. Ia meninggal karena wabah di Syam.

Mereka adalah contoh “rijâl” yang hidup di masa Rasulullah. Orang-orang militan hasil kaderisasi Rasulullah. Mereka telah mendahului bertemu Allah dengan menjaga militansi sampai akhir hayat. Semoga kita juga menjadi bagian dari mereka, bagian dari orang-orang yang menunggu untuk menjemput akhir yang sama. Akhir yang diridhai Allah, karena menjaga militansi saat hidup.

Iswan Kurnia Hasan

Baca Juga

Takwin, Wakil Ketua Fraksi PKS Tinjau Lokasi Banjir, Sekaligus Jadi Relawan di Wani

Peringati Kemerdekaan ke-80, PKS Sulteng Ajak Kader Terus Melayani

Rumahnya Dibersihkan Relawan PKS, Kalsum: Terima Kasih PKS

Aleg PKS Morut Soroti Transparansi OPD

Muswil PKS Sulteng Tanpa Manuver Politik

TAGGED:Iswan Kurnia Hasan
Bagikan
Facebook Email Print

Ikuti Kami

Sosial Media PKS Sulteng
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow
Informasi Pilihan
Catatan AnggotaUncategorized

Catatan Ketua DSW Periode 2025-2030

DPW PKS Sulteng
Jumat, 25 Juli 2025
Pengumuman Pembukaan Pendaftaran Calon Legislatif PKS Sulawesi Tengah
Bunda Wiwik: Kasus Bullying, Anak-anak Pelaku Sekaligus Korban
Muswil PKS Sulteng Tanpa Manuver Politik
Banjir Molino Morowali Utara: Aleg PKS Soroti Aktivitas Tambang
- Advertisement -
Ad imageAd image

Akses Cepat

  • Agenda
  • Pengumuman
  • Publikasi

DPW PKS Sulteng

"Wadah Informasi, Aspirasi, dan Komunikasi untuk Masyarakat Sulawesi Tengah"
Pranala
  • Contact Us
  • Blog Index
Menu Pilihan
  • Contact Us
  • Blog Index
Copyright © 2026 Website Resmi DPW PKS Sulawesi Tengah dikelola oleh Humas DPW PKS Sulteng.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?