Dengan menggunakan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Ketentuan Penggunaan.
Accept
DPW PKS SultengDPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
Notification Show More
Font ResizerAa
  • DPW PKS
    • SEJARAH
    • VISI MISI
  • BERITA & INFORMASI
    • KABAR SULTENG
    • FOTO BERITA
    • PRESS RELEASE
  • TOPIK PILIHAN
    • HIKMAH
    • CATATAN ANGGOTA
Reading: Upa Di Surga
Bagikan
Font ResizerAa
DPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
  • DPW PKS
  • BERITA & INFORMASI
  • TOPIK PILIHAN
Search
  • Home
    • Beranda
  • Categories
    • Publikasi
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Beranda » Blog » Upa Di Surga
Hikmah

Upa Di Surga

Diperbarui Selasa, 23 Desember 2025 7:43 pm
DPW PKS Sulteng
Diterbitkan Selasa, 23 Desember 2025
Bagikan
Bagikan

Setelah masuk ke dalam surga dan menikmati semua kenikmatan yang ada di dalamnya, para penduduk surga sempat membuat acara nongkrong satu sama lain. Mereka berbincang penuh kehangatan sambil melepas lelah. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman dalam surat ash-Shaffat ayat 50 terkait hal ini:

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

Artinya: “Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap”.

Imam al-Qurthubiy dalam buku tafsirnya “al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân” menyebutkan bahwa beberapa kitab tafsir dan atsar dari sahabat menjelaskan tentang penduduk surga yang saling mengulangi memori mereka saat hidup di dunia. Kesulitan yang mereka alami saat menjalani ibadah dan ketaatan kepada Allah dibahas. Mereka juga saling berbagi satu sama lain tentang kondisi mereka saat hidup. Berbagi tentang makanan dan minuman kesukaan, komunitas yang mereka ikuti, dan semua hal lainnya. Sambil tiduran di atas ranjang-ranjang mewah, ditemani oleh dayang-dayang yang siap melayani mereka, dengan menikmati semua jenis makanan dan minuman.

Tidak ada yang membantah bahwa ahli surga mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah dirasakan di dunia. Walaupun berusaha dipikirkan jenis kenikmatan yang tertinggi, di surga nantinya akan lebih dari apa yang terpikirkan. Lalu, bagaimana bila seseorang yang rindu dengan apa yang dilakukannya di dunia dan ingin melakukan hal yang sama di surga?

Misalnya seorang nelayan yang rindu menangkap ikan. Bisakah ia kembali menangkap ikan di surga? Seorang pegawai kantoran yang ditakdirkan masuk surga. Karena rindu dengan suasana bekerja saat di dunia, apakah ia bisa meminta untuk bekerja kembali di kantor? Seorang Imam di masjid, saat masuk surga lalu rindu dengan suasana berjamaah, apakah bisa menjadi imam lagi di surga? Seorang yang gemar berolahraga di dunia. Apakah ia akan berolahraga lagi di Firdaus?

Sementara surga menawarkan semua kenikmatan yang diinginkan. Tanpa harus bekerja lagi. Tanpa mesti berbakti lagi. Tanpa mengeluarkan tenaga lagi.

Atau secara khusus buat para kader dakwah. Seorang yang tiba-tiba rindu suasana taklim di dunia, apakah bisa ada majelis taklim di akhirat. Bisa kembali mendengar nasehat dan arahan dari para guru dan syaikh. Seorang yang sangat aktif mengikuti Malam Bina Iman dan Taqwa di dunia, lantas di akhirat rindu tidur bareng bersama di masjid. Rindu momen bukber puasa sunnah. Rindu dengan suasana tahajjud berjamaah yang syahdu. Rindu melodi lantunan zikir pagi dan petang. Apakah bisa kembali diulangi di surga?

Seorang relawan misalnya, yang identik dengan tempat bencana. Identik dengan membantu orang lain tanpa pamrih, identik menolong korban musibah, apakah bisa menjadi relawan lagi di akhirat? Sementara surga telah menyediakan semua yang mereka inginkan. Tanpa harus kedinginan lagi tidur di masjid. Tanpa harus menahan ngantuk lagi saat zikir. Tanpa harus letih saat tahajjud. Tanpa harus berkorban harta, fisik bahkan keluarga saat menjadi relawan.

Seorang kader yang konsisten hadir di unit pembinaan anggota pekanan. Karena membutuhkan bimbingan untuk meningkatkan iman dan taqwa. Membutuhkan arahan untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Setelah ia masuk surga, tempat untuk menerima balasan amal, lantas ia ingin menikmati kembali suasana pembinaan tersebut, sama seperti di dunia. Apakah ia bisa melaksanakannya di akhirat? Sementara tujuannya menghadiri unit pembinaan tersebut, yaitu masuk surga telah terpenuhi?

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan suatu saat Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam pernah ditemani oleh seorang Arab Badui dalam satu majelis. Lantas beliau bersabda, “Ada seorang penduduk surga yang akan meminta izin kepada Rabbnya untuk menanam di surga. Lalu Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman kepadanya, “Bukankah apa yang kau inginkan bisa langsung terpenuhi?” Penduduk surga tersebut menjawab, “Iya, akan tetapi aku ingin menanam saat ini” Allah lalu memerintahkannya, “Taburlah benih!” Maka cabang tanamannya langsung tumbuh seketika. Lalu semakin besar. Dan seketika pula langsung bisa dipanen. Hasil panennya menumpuk setinggi gunung. Lalu Allah berfirman kepadanya, “Silahkan engkau ambil (hasil panennya) wahai Anak Adam. Sesungguhnya tidak ada yang akan membuatmu puas (di surga)”.

Hadis di atas memastikan bahwa kegiatan yang biasa kita lakukan di dunia, akan bisa diulangi di akhirat. Dengan suasana yang berbeda tentunya. Juga dengan fasilitas yang terbaik. Sesuai dengan keinginan kita. Imam Ibnu Hajar al-Asqalaniy dalam kitab Fath al-Bâriy menyatakan bahwa hadis ini memberikan bukti seseorang yang menginginkan sesuatu yang pernah ia lakukan di dunia, bisa kembali dilakukan di akhirat.

Seorang yang rindu dengan suasana MABIT misalnya. Ia bisa mengulanginya kembali di akhirat. Tentu dengan suasana yang terbaik. Ia bisa memilih Hafidz dengan suara terindah untuk menjadi Imam. Ia bisa memimpin zikir pagi dan petang dengan lantunan terbaik. Ia bisa memilih tempat yang disukai. Apakah di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid al-Aqsha, atau bahkan melaksanakan MABIT di Baitul Ma’mur bersama para malaikat.

Seorang relawan yang rindu berkutat kembali dengan suasana bencana, ia bisa menjadi relawan kembali di surga. Ia bisa mendesain sendiri suasana bencana yang diinginkan. Seesktrim mungkin. Separah yang diharapkan. Lalu ia menjadi relawan dengan kemampuan fisik yang parpipurna. Sekelas super hero atau lebih. Ia juga bisa meminta semua fasilitas untuk menolong korban, yang mungkin tidak dimiliki saat hidup di dunia. Ia bisa kembali menolong korban dan menyelamatkan nyawa mereka. Ia bisa seketika membangun kembali infrastruktur yang hancur dan mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Dalam sekejap mata.

Seorang yang rindu suasana pembinaan anggota di dunia, maka ia bisa mengulanginya kembali di akhirat. Ia bebas memilih pembimbingnya. Apakah ingin berhalaqah dengan Abu Bakar Shiddiq radhiyallâhu ‘anhu. Atau ingin mendengar tutur kata yang santun, penuh makna, dari pembimbing pertama orang-orang Anshar. Seorang sahabat tampan yang bernama Mush’ab bin Umair radhiyallâhu ‘anhu. Atau mungkin ingin langsung merasakan suasana pembinaan Rasulullah di rumah Arqam bin Abi Arqam radhiyallâhu ‘anhu.

Kira-kira begitulah gambaran surga sesuai hadis Rasul. Walaupun nantinya akan lebih indah. Akan lebih sempurna. Melebihi dari apa yang bisa kita bayangkan dalam pikiran atau dituangkan dalam tulisan. Sebab semua kenimatan dunia, walaupun sangat indah, walaupun sangat nikmat, walaupun sangat lezat, walaupun sangat nyaman, tetap hanyalah kenikmatan semu. Sangat jauh bila dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di akhirat.

Berbeda dengan dunia, surga adalah tempat untuk menerima balasan amal. Bukan lagi tempat untuk beramal. Sehingga seorang yang melakukan kebaikan hanya karena keinginannya sendiri saja. Bukan lagi sebuah kewajiban yang mendapatkan dosa bila ditinggalkan. Atau anjuran yang dilaksanakan akan mendapatkan pahala. Surga juga tempat yang tidak ada kekurangan di dalamnya. Semua yang diperoleh di surga adalah paripurna. Berbeda dengan dunia. Sekalipun kita telah mendapatkan yang terbaik, tetap masih ada yang kurang dan tidak sempurna.

Surga juga tempat terpenuhinya semua harapan dan keinginan di dunia. Oleh karena itu, bila ada harapan dalam pekerjaan yang realitanya berbeda. Bila ada keinginan yang belum tercapai di dunia. Bila unit pembinaan yang diikuti tidak searah dengan idealisme. Bila hati mulai futur karena tidak mendapatkan penambahan ruhiah maksimal dari kegiatan-kegiatan dakwah. Segera perbaiki hubungan kita dengan Allah. Segera melaksanakan semua perintahNya. Dan menjauhi laranganNya. Agar kita bisa masuk surga. Sehingga nanti kita bisa mendesain semuanya sesuai dengan keinginan kita.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Demi Allah, tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke laut. Lalu hendaklah ia perhatikan apa yang di dapat jari tangannya”. Kenikmatan yang ada di dunia hanya seperti air yang tersisa di tangan yang dicelupkan di laut. Sementara kenikmatan di akhirat seperti air laut itu sendiri.

Lalu, bagaimana bila kita yang menjauhi maksiat di dunia, lalu saat masuk ke dalam surga mau mencoba maksiat? Kita yang selalu berusaha menghindari dosa di dunia agar bisa masuk Firdaus. Lalu saat memasukinya, kita ingin merasakan perbuatan dosa?

Dalam kitab “Al-Furû’” diceritakan diskusi yang terjadi antara Abu Yusuf Al-Qazwîniy dan seorang Mu’tazilah yang bernama Abu Ali bin Al-Walîd. Abu Ali berkata, “Tidak dilarang melaksanakan hubungan antara sesama lelaki di surga, karena itu merupakan bagian dari sebuah kenikmatan”. Abu Yusuf kemudian mengkritisi pendapat Abu Ali, “Kecenderungan untuk menyukai seorang laki-laki adalah sebuah kelainan (tidak normal). Dan tidak ditakdirkan seorang laki-laki untuk menyukai sesama jenisnya”.

Walaupun semua keinginan kita akan dipenuhi di surga, namun orang-orang yang masuk surga adalah mereka yang melaksanakaan ketaatan di dunia. Orang yang terbiasa melaksanakan perintah Allah dan RasulNya. Serta menjauhi larangan yang ada dalam syariat Islam. maka saat masuk surga, tidak lagi terpikir untuk melakukan maksiat yang sudah dilarang di dunia.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasai dari sahabat Abu Hurairah radiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa (laki-laki) yang memakai kain sutra di dunia, maka ia tidak akan bisa memakainya di akhirat. Barangsiapa yang meminum khamr di dunia, maka ia tidak bisa meminumnya lagi di akhirat. Barang siapa yang minum di bejana yang terbuat dari emas dan perak, maka ia tidak akan bisa lagi menggunakan bejana emas dan perak di akhirat”.

Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 20, “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik dalam kehidupan duniamu dan bersenang-senang dengannya. Pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu takabur di bumi, padahal tidak berhak (untuk sombong), dan (juga) karena kamu selalu durhaka”.

Mengomentari ayat ini, Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan barangsiapa yang berpuasa di dunia dengan menahan syahwatnya, maka ia akan berbuka dengan mengumbar syahwatnya, sesuai dengan yang dikehendakinya setelah ia meninggal. Dan barang siapa yang tidak tahan untuk melakukan sesuatu yang haram sebelum wafat, maka ia tidak bisa lagi mengkonsumsinya atau mengerjakannya di akhirat.

Orang yang masuk surga adalah orang yang sebelumnya taat di dunia. Kala masuk surga mereka hanya akan meminta semua jenis kenikmatan surga sebagai balasannya. Tidak akan lagi terpikir untuk melakukan maksiat.

Iswan KH

Baca Juga

Menjaga Arah Dakwah di Tengah Panggung Politik

Fikih Prioritas Kehadiran Pemimpin

Aksioma Hidup Manusia

Gen-Z yg tukang protes ini jadi pengurus partai? Bagaimana ceritanya?

Iswan Kurnia Hasan: Abah dan Bunda, Jangan Ragu Dengan Komitmen PKS!

TAGGED:Iswan Kurnia Hasan
Bagikan
Facebook Email Print

Ikuti Kami

Sosial Media PKS Sulteng
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow
Informasi Pilihan
Uncategorized

Fraksi PKS Apresiasi Kinerja Awal Gubernur Sulteng: “Gerak Cepat dan Kolaboratif”

DPW PKS Sulteng
Senin, 9 Juni 2025
Tanggap Bencana Sumatera, Pejabat Publik PKS Diinstruksikan Pemotongan Gaji
Ketua MPW PKS Sulteng Tekankan Supervisi Berkelanjutan
Rapat Koordinasi Internal DPW PKS Sulawesi Tengah
Fraksi PKS Sulteng Serahkan Buku Risalah Perjuangan 2025
- Advertisement -
Ad imageAd image

Akses Cepat

  • Agenda
  • Pengumuman
  • Publikasi

DPW PKS Sulteng

"Wadah Informasi, Aspirasi, dan Komunikasi untuk Masyarakat Sulawesi Tengah"
Pranala
  • Contact Us
  • Blog Index
Menu Pilihan
  • Contact Us
  • Blog Index
Copyright © 2026 Website Resmi DPW PKS Sulawesi Tengah dikelola oleh Humas DPW PKS Sulteng.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?