Dengan menggunakan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Ketentuan Penggunaan.
Accept
DPW PKS SultengDPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
Notification Show More
Font ResizerAa
  • DPW PKS
    • SEJARAH
    • VISI MISI
  • BERITA & INFORMASI
    • KABAR SULTENG
    • FOTO BERITA
    • PRESS RELEASE
  • TOPIK PILIHAN
    • HIKMAH
    • CATATAN ANGGOTA
Reading: Tsiqah Terhadap Manhaj
Bagikan
Font ResizerAa
DPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
  • DPW PKS
  • BERITA & INFORMASI
  • TOPIK PILIHAN
Search
  • Home
    • Beranda
  • Categories
    • Publikasi
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Beranda » Blog » Tsiqah Terhadap Manhaj
Hikmah

Tsiqah Terhadap Manhaj

Diperbarui Selasa, 21 Oktober 2025 5:29 pm
DPW PKS Sulteng
Diterbitkan Selasa, 21 Oktober 2025
Bagikan
Bagikan

Allah menurunkan banyak ayat tentang tsiqah di Mekkah. Saat umat Islam tidak memiliki kekuatan, pengaruh dan sumber daya maksimal. Sementara orang musyrik saat itu menjadi pihak yang kuat, jaya dan berkuasa. Ayat-ayat yang diturunkan tersebut sebagai sarana untuk mendefinisikan nilai dan ukuran sebenarnya dalam kehidupan. Juga memberikan keyakinan bahwa ada kekuatan sebenarnya di alam semesta ini, yaitu kekuatan sang Khalik. Dzat Yang Maha Segalanya dibanding semua kekuatan, kekuasaan dan kedigdayaan yang ada di dunia.

Barang siapa yang bersama Allah, bersama manhaj yang diturunkanNya ke atas muka bumi ini, maka ia memiliki sumber kekuatan sebenarnya. Walaupun secara kasat mata tidak dianggap dalam pandangan manusia. Sementara yang menjadi musuh Allah, berpaling dari manhaj, walaupun secara lahir memiliki semua unsur kekuatan. Atau didukung dengan semua sumber daya yang ada di dunia. Tidak akan pernah merasa aman, damai atau memiliki kekuasaan mutlak. Bila terlihat berkuasa, berpengaruh, memiliki kekuatan, menguasai segalanya, maka hanya semata istidraj. Temporer, fatamorgana sesaat dan tidak sejati.

Diantara ayat yang diturunkan untuk menanamkan tsiqah dalam diri Rasulullah dan para sahabatnya adalah ayat dalam surat al-Qashash ayat 5 dan 6. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman:

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَۙ, وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ

Artinya: “Kami berkehendak untuk memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Kami pun (berkehendak untuk) meneguhkan kedudukan mereka (Bani Israil) di bumi dan memperlihatkan kepada Firʻaun, Haman, dan bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka (Bani Israil)”.

Salah satu cara menanamkan nilai tsiqah tersebut melalui cerita Nabi Musa dan Firaun. Cerita seorang tiran yang despotik dan represif serta memiliki kekuatan dan sumber daya yang absolut, bersama seorang Nabi yang bukan warga lokal, miskin, tertindas. Membawa risalah kepada sebuah kaum yang juga pendatang. Kaum yang sama tertindas dan kasta terendah dalam struktur sosial masyarakat.

DR. Maurice Bucaile, seorang ahli bedah muslim yang sebelumnya beragama Kristen dalam bukunya yang sangat terkenal “La Bible Le Coran Et La Science” menyebutkan bahwa awal mula Bani Israil masuk ke Mesir bersama Nabi Ya’qub untuk mengikuti nabi Yusuf ‘alaihima assalâm. Dalam Alquran di surat Yusuf ayat 93 disebutkan, “Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali, dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku”. Nabi Yusuf meminta meminta ayahnya dan seluruh keluarga kakak-kakaknya untuk pindah ke Mesir dari Lembah Kan’an. Inilah awal mula eksodus Bani Israil ke wilayah Mesir. Terjadi sekitar abad ke 16 Sebelum Masehi.

Mesir di masa Nabi Yusuf ‘alaihi assalâm dikuasai oleh kaum Hyksos yang berasal dari Asia Timur. Mereka masuk ke Mesir dan menguasai kawasan timur Delta Nil. Masa ini dikenal sebagai Periode Menengah Kedua Mesir Kuno. Bani Israil hidup damai dengan kaum Hyksos di Mesir. Bahkan Nabi Yusuf dari Bani Israil diangkat menjadi “al-‘Azîz” atau wakil pertama raja Mesir yang dipercaya penuh untuk mengurus negara di bawah perintah raja secara langsung. Serta menguasai kas-kas ekonomi dan perbendaharaan negara sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir.

Sepeninggal Nabi Yusuf, kekuasaan kaum Hyksos melemah, sehingga Ahmose I yang merupakan warga lokal berhasil menguasai Mesir dan mengusir kaum Hyksos. Periode inilah awal mula dinasti Fir’aun. Di masa inilah kondisi Bani Israil berubah drastis. DR. Maurice Bucaile mengatakan bahwa periode ini adalah Ini adalah periode penindasan. Fir’aun memaksa orang-orang Bani Israil untuk mendirikan kota-kota besar seperti kota Pitom dan kota Ramses. Bani Israil yang sebelumnya dianggap sederajat dan diberikan jabatan strategis di pemerintah, di masa Fir’aun berubah total. Mereka menjadi kasta terendah dalam pandangan pemerintah. Kasta budak dan pekerja kasar. Kasta yang selalu ditindas oleh penguasa. Saat inilah Musa ‘alaihi as-salâm lahir.

Musa lahir dalam situasi yang penuh ancaman. Sejak pertama kali menghirup udara dunia, bahaya langsung mengintai. Kematian senantiasa menunggu dari waktu ke waktu. Para algojo Fir’aun siap menebas lehernya dimanapun dan kapanpun. Karena nabi Musa terlahir dengan jenis kelamin laki-laki. Dan semua laki-laki yang lahir harus dibunuh sesuai dengan titah Fir’aun. Ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 49, Ibnu Katsir mengatakan bahwa Fir’aun dalam mimpinya melihat api keluar dari Baitul Maqdis. Lalu api tersebut memasuki semua rumah orang-orang Qibti di Mesir. Hanya rumah Bani Israil yang tidak dimasuki. Mimpi tersebut mengindikasikan bahwa kelak dinasti Fir’aun akan lenyap di tangan salah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil.

Dalam tafsir “Fî Dzilâl al-Qurân” disebutkan juga sebuah riwayat bahwa Fir’aun sampai memerintahkan sekelompok orang yang tugasnya seperti bidan untuk mendata dan memperhatikan wanita-wanita hamil dari Bani Israil. Kemudian mereka diminta memberitahukan kepada Fir’aun setiap bayi yang lahir dari para wanita itu. Bila yang lahir laki-laki akan langsung dibunuh.

Bisa terdeskripsikan suasana ketakutan yang melanda ibu Nabi Musa saat melahirkan anaknya. Fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah ia telah melahirkan seorang anak laki-laki. Setiap anak laki-laki yang lahir saat itu akan dibunuh. Ia tidak bisa menyembunyikan anaknya dari para algojo Fir’aun yang disebar di seluruh negeri. Cepat atau lambat anaknya akan segera ditemukan. Kondisinya juga miskin, tidak berdaya dan tidak punya apa-apa. Ditambah fisik yang masih lemah pasca melahirkan.

Apa yang membuat realita yang hampir pasti kemudian berubah? Apa yang membuat ancaman justru menjadi anugrah? Apa yang membuat istana sebagai tempat paling menakutkan dan diisi oleh para pembunuh bayi laki-laki justru menjadi tempat yang paling aman buat Musa? Jawabannya adalah tsiqah.

Allah menitipkan ilham ke dalam hati Ibu Musa yang sedang bingung dan ketakutan. “Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul” (QS. al-Qhashash ayat 7).

Alquran tidak menjelaskan mekanisme ilham yang diterima ibu Nabi Musa. Namun yang pasti, ibu yang sebelumnya gelisah akan nasib anak yang baru dilahirkan, was-was bila bayinya diketahui, khawatir dari kejaran para pembunuh, bingung untuk menentukan langkah selanjutnya, memilih untuk tsiqah terhadap ilham yang diterimanya. Tsiqah yang membuatnya tenang dan dengan penuh keteguhan hati, ia menghanyutkan bayinya di sungai Nil.

Realisasi dari tsiqah itu diluar nalar dan prediksi. Merubah semua kalkulasi dunia. Istana yang seharusnya membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir, justru membesarkan seorang Musa dan menganggapnya sebagai anak. Para algojo yang mencari setiap ibu yang baru melahirkan di seluruh Mesir, justru melindungi Musa sampai dewasa. Fir’aun yang mengeluarkan titah untuk memenggal anak Bani Israil, justru memelihara Musa. Seakan tidak logis, tapi itulah fakta yang terjadi. Semuanya berubah 180 derajat.

Bahkan ibu Musa yang sebelumnya pasrah karena kehilangan sang buah hati, justru bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu dengan baik. Ia bisa leluasa menyusui Musa, anaknya sendiri di dalam istana. Ia dapat melaksanakan kewajiban sebagai seorang ibu, yaitu menyusui anak kandungnya, dan diberikan upah. Satu hal yang mungkin tidak akan terjadi lagi kepada para ibu di dunia ini.

Bila tsiqah Ibu Musa dalam tataran personal. Maka ayat 5 dan 6 surat al-Qhashash di atas berbicara tentang tsiqah dalam tataran komunal. Saat Musa diangkat menjadi seorang Nabi, Allah menurunkan perintah untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Dalam surat Thaha ayat 77 disebutkan, “Sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hambaKu (Bani Israil) pada malam hari dan pukullah laut itu untuk menjadi jalan yang kering bagi mereka tanpa rasa takut akan tersusul dan tanpa rasa khawatir (akan tenggelam)”.

Tantangan untuk melaksanakan perintah ini tidak mudah. Sebab Fir’aun adalah kekuatan politik tunggal saat itu dalam bentuk monarki absolut. Fir’aun mengendalikan semuanya. Bahkan karena kekuasaannya yang seakan tanpa batas, ia menahbiskan dirinya sebagai Tuhan bagi warga Mesir. Termasuk Tuhannya Bani Israil.

Kekuatan politik tunggal ini didukung dengan kekuatan militer yang dipimpin oleh Haman. Mengutip History, disebutkan bahwa kekuatan militer Mesir saat itu adalah kekuatan militer terkuat di dunia. Para prajurit dibekali dengan senjata canggih. Seorang prajurit dilengkapi tombak dan perisai berujung perunggu, lembing yang berfungsi seperti anak panah, kapak sebagai senjata sekunder, pedang pendek untuk pertempuran jarak dekat, khopesh atau pedang melengkung, busur komposit dan kereta kuda.

Fir’aun juga memiliki lingkaran oligarki yang selalu mendukungnya. Tokoh utamanya Qarun. Ia memiliki gudang-gudang besar yang jumlahnya sangat banyak untuk menyimpan harta kekayaannya. Alquran bahkan menyebutkan bahwa untuk membawa kunci-kunci gudang tersebut, saking berat dan banyaknya harus dipikul oleh orang-orang yang kuat (Baca QS. Al-Qhashash ayat 76).

Fir’aun juga mampu menguasai opini masyarakat dengan mengutus para tukang sihirnya yang bisa membius masyarakat dan mengokohkan kekuasan Fir’aun. Mendewakan Fir’aun. Dalam kitab “al-Bidâyah wa an-Nihâyah”, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa para ahli sejarah berbeda pendapat tentang jumlah tukang sihir yang melawan nabi Musa. Jumlah terbesarnya 80 ribu orang sebagaimana pendapat Muhammad bin Ka’ab.

Kekuatan politik tanpa batas, perangkat militer terkuat, lingkaran oligarki yang menguasai ekonomi, dan arus opini sepihak di masyarakat yang dilawan oleh Nabi Musa bersama Bani Israil saat itu. Nabi Musa dan Bani Israil hanya berbekal tsiqah, yang termaktub dalam janji Allah bahwa orang-orang yang tertindas akan menjadi pemimpin dan mewarisi bumi.

Sejarah kemudian menuliskan tinta emasnya. Bani Israil bersama Nabi Musa bisa keluar dari Mesir. Fir’aun dan bala tentaranya yang mengejar ditenggelamkan hanya menggunakan kekuatan air. Kekuasaan politik absolut, raksasa ekonomi melalui lingkaran oligarki, kekuatan militer tercanggih, dan penguasaan opini publik hancur dalam sekejap. Nabi Musa dan Bani Israil lalu tinggal selama 40 tahun di lembah Tîh setelah selamat melewati laut yang terbelah.

Allah lalu mengutus Yusya’ bin Nûn (Joshua), seorang nabi dari Bani Israil yang mampu membawa kaumnya masuk ke wilayah Yabus dan Kan’an melalui Timur Yordania dengan menyeberangi sungai Yordan. Lalu muncul generasi selanjutnya dari Bani israil yang dipimpin oleh Thalut melawan Jalut. Thalut berkuasa dan menjadi seorang raja.

Setelah 4 abad lebih berlalu sejak masuknya Bani Israil ke Mesir, mereka akhirnya menguasai wilayah secara resmi. Berkuasa dan memiliki kerajaan sendiri. Tidak lagi dianggap sebagai kasta terendah. Puncaknya di masa Nabi Sulaiman ‘alaihi as-salâm. Kekuasaan yang dimilikinya melingkupi manusia, jin dan hewan. Kekuasaan absolut yang tidak dimiliki Fir’aun dan raja-raja sebelumnya.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Nasai dari sahabat Abdullah bin ‘Âsh radiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Tatkala Nabi Sulaiman selesai membangun Baitul Maqdis, beliau meminta kepada Allah tiga hal: “Hukum yang sesuai dengan hukumnya, kerajaan yang tidak disamai oleh orang setelahnya, dan tidak satu pun yang mendatangi masjid ini tujuannya hanya salat kecuali akan diampuni dosanya seperti bayi yang baru lahir dari perut ibunya”. Nabi lalu melanjutkan sabdanya, “Adapun dua perkara yang pertama sudah diberikan, aku berharap perkara yang ketiga juga diberikan”.

Tsiqah komunal dari Bani Israil, yang mau keluar dari Mesir, membuat mereka akhirnya bisa berkuasa setelah 4 abad. Di masa Nabi Sulaiman sebagai puncak kejayaan Bani Israil, kekuasaan mereka membentang dari Laut Merah, Laut Tengah hingga Samudra Hindia. Kekuatan militer yang dimiliki tidak hanya mengandalkan teknologi dan kekuatan manusia. Tapi jin dan hewan turut serta menjadi bala tentara. Belum lagi kekayaan berlimpah melalui tambang-tambang besar yang dibangun di masanya. Alquran bahkan menyebutkan kekuasaan Sulaiman adalah kekuasaan terbesar yang pernah dipegang seorang manusia. Dalam surat Shâd ayat 35 Allah berfirman, “(Nabi Sulaiman) meminta, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun sesudahku”.

Berpaling dari tsiqah pula yang membuat Bani Israil yang pernah memiliki kekuasaan terbesar di atas muka bumi, akhirnya dihinakan Allah. Dalam surat ‘Alî Imrân ayat 21 disebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu azab yang pedih”. Dalam kitab “ad-Dûrr al-Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr” Imam Suyuthi mengatakan bahwa Bani Israil dalam satu hari bisa membunuh 300 Nabi. Lalu mereka beraktivitas di pasar seperti biasa pada sore harinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Setelah Nabi Sulaiman wafat, Bani Israil mulai berbuat kerusakan di atas muka bumi dan terpecah belah. Kerajaan Bani Israil terpecah menjadi dua. Di Utara dengan ibukotanya Shakîm dipimpin oleh Yarba’am. Di selatan dengan ibukotanya Ursalêm dipimpin oleh Yahudza. Mereka lalu menentang kitab Taurat. Menentang manhaj yang dulu membuat mereka bisa mengalahkan Fir’aun. Membuat mereka memiliki kerajaan dan berkuasa di dunia. Membuat mereka naik jadi kasta tertinggi masyarakat.

Ketika berpaling dari tsiqah, sejarah lalu memberikan catatan kelam bagi Bani Israil. Pada abad ke 7 Sebelum Masehi, Tanah Yabus dan Kan’an yang menjadi wilayah utama Bani Israil di zaman Nabi Sulaiman mampu dikuasai oleh raja dari Babilonia yang bernama Nebuchadnezzar. Raja ini menghancurkan, membakar dan meratakan Baitul Maqdis. Orang-orang Yahudi diusir menuju Babilonia dan kembali dijadikan budak. Menjadi kasta terendah di masyarakat seperti sebelumnya di masa Fir’aun.

Tsiqah terhadap manhaj yang memberikan tinta emas dalam sejarah Bani Israil. Berpaling dari tsiqah yang memberikan catatan kelam dan keterpurukan bagi mereka. Belajar dari Bani Israil, bahwa realisasi tsiqah dari masa kehinaan di zaman Musa ‘alahissalâm menjadi masa keemasan di zaman Sulaiman ‘alaihissalâm membutuhkan waktu selama 4 abad lebih. Sementara saat ini, proses pergeseran kepemimpinan dunia dari umat Islam ke umat lainnya belum lengkap 2 abad. Masih membutuhkan waktu untuk terus mempertajam tsiqah, memperkuat keyakinan, memperluas kesabaran, dan melakukan semua ikhtiar yang dibutuhkan. Perlu konsisten dan istiqamah menjaga manhaj dan bukan normalisasi dengan dunia.

Baca Juga

DPTW dan Tiga Kabid DPW PKS Sulteng Ikut Rakernas

Cinta Tanpa Diferensiasi

Iswan Kurnia Hasan: Abah dan Bunda, Jangan Ragu Dengan Komitmen PKS!

Ketua MPW PKS Sulteng Tekankan Supervisi Berkelanjutan

Bekal Menuju Perjalanan Panjang

TAGGED:Iswan Kurnia Hasan
Bagikan
Facebook Email Print

Ikuti Kami

Sosial Media PKS Sulteng
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow
Informasi Pilihan
Kabar SultengPublikasiUncategorized

Aleg PKS Telusuri Informasi Anak Yatim yang Ditolak Saat Terima PKH

DPW PKS Sulteng
Minggu, 14 September 2025
PKS Kota Palu Gelar Pelatihan Spiritual: Menumbuhkan Spirit Cinta Seumur Hidup
Ketua DSW PKS Sulteng Tekankan Mediasi pada Rakerwil 2025
Bangga Jadi Anak Kader PKS
BIPEKA PKS Donggala Gelar Kunjungan Sosial dan Senam Bersama
- Advertisement -
Ad imageAd image

Akses Cepat

  • Agenda
  • Pengumuman
  • Publikasi

DPW PKS Sulteng

"Wadah Informasi, Aspirasi, dan Komunikasi untuk Masyarakat Sulawesi Tengah"
Pranala
  • Contact Us
  • Blog Index
Menu Pilihan
  • Contact Us
  • Blog Index
Copyright © 2026 Website Resmi DPW PKS Sulawesi Tengah dikelola oleh Humas DPW PKS Sulteng.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?