BUKANLAH sebuah kehidupan kalau tidak ada tantangan. Bukanlah seorang manusia kalau tidak pernah mendapatkan masalah. Bukanlah disebut dunia kalau tidak pernah ada derita. Bukanlah menjejak di atas tanah kalau tidak merasakan susah. Selama masih bernyawa, tantangan akan selalu ada. Selama masih bernafas, masalah takkan sirna. Selama masih berada di atas muka bumi, derita akan tetap menghampiri.
Namun di balik tantangan ada jalan keluar, dibalik masalah tersimpan solusi, dibalik derita akan berakhir bahagia. Tantangan dan jalan keluar, adalah bumbu kehidupan. Masalah dan solusi, adalah realita yang akan selalu mendera manusia. Derita dan bahagia, adalah bagian dari keanekaragaman dunia.
Kita berharap tidak menerima tantangan berat dalam kehidupan. Tapi Ketika ia datang, harus tetap siap menghadapinya. Kita berdoa agar tidak mendapatkan masalah di dunia. Tapi saat ia menghampiri, harus tetap tegar menjalaninya. Kita bermunajat agar tidak mengalami penderitaan di atas muka bumi ini. Tapi saat ia mendera, harus tetap kokoh menjalaninya.
Namun terkadang kita bingung menghadapi tantangan, resah mendapatkan masalah dan lemah saat menderita. Padahal seharusnya, sebagai orang yang beriman tidak demikian. Karena Alquran telah menjelaskan cara mencari jalan keluar, mendapatkan solusi dan menemukan bahagia. Namun terkadang, kita lebih memilih berbagai buku berjilid-jilid dari para pengarang terkenal yang menawarkan solusi dalam kehidupan. Kita sibuk untuk curhat kepada teman, sahabat, rekan, bahkan para ahli yang dianggap bisa memberikan jalan keluar. Kita lari dari derita dan ingin menemukan kebahagiaan dengan menyalurkan hobi, berwisata sampai ke ujung dunia, melakukan berbagai ritual healing. Atau membeli semua sarana dan fasilitas yang dianggap bisa memberikan kebahagiaan dunia.
Padahal Allah Subhânahu wa Ta’âla sebagai Pencipta, sangat mengetahui semua yang ada dalam diri manusia. Allah Maha Mengetahui solusi atas tantangan kehidupan. Allah Maha Tahu jalan keluar dari semua masalah. Allah Maha Menemukan bahagia atas semua derita. Dan Allah telah menjelaskannya dalam Alquran. Allah berfirman dalam Alquran:
وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ
Artinya: “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Albaqarah ayat 45).
Terapi masalah salah satunya bisa ditemukan dalam ayat ini. Seakan Allah ingin mengatakan kepada hambaNya, “Bila engkau menghadapi tantangan, mendapatkan masalah, mengalami derita dalam hidup, maka carilah solusinya, temukanlah jalan keluarnya, dapatkanlah bahagia melalui sabar dan salat”.
Sabar adalah media pertama yang bisa digunakan kala menghadapi masalah. Sabar lebih terkonsentrasi dengan hati manusia. Bukan fisik. Karena sabar adalah salah satu ibadah hati. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan bahwa tidak ada pemberian yang lebih baik dan daya tampung yang lebih luas dalam hati selain sabar. Bila seseorang bisa bersabar maka itu adalah sebuah kebaikan yang paling utama. Bila seseorang sabar, maka seakan ia menciptakan media yang paling luas dalam hatinya untuk menampung semua masalah, memuat semua tantangan, dan memasukkan semua derita. Lalu mengkonversinya menjadi solusi, jalan keluar dan bahagia.
Intinya bukan masalah, karena akan selalu ada. Fokusnya bukan terhadap tantangan, karena akan selalu hadir. Kesimpulannya bukan pada derita, karena akan selalu menghampiri. Bukan karena faktor eksternal manusia. Tapi yang lebih utama adalah faktor internal. Bagaimana seseorang membentuk hatinya menjadi media yang sangat luas. Menampung semua masalah, tantangan, derita, duka, sengsara, kenyataan pahit, dan lain-lain. Itulah fungsinya sabar.
Sabar juga sarana untuk menciptakan kestabilan dalam hati manusia, saat pertama kali masalah mendera, tantangan menyapa dan derita membelenggu. Bila hati sudah stabil, maka akan secara otomatis akan menstabilkan seluruh jasad manusia. Sebagaimana yang diingatkan dalam hadis, “Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh anggota badannya. Jika rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah itulah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabar adalah bekal utama dalam kehidupan. Karena fakta dunia tidak konstan. Selalu berubah dari waktu ke waktu. Saat bahagia bisa seketika sirna dan berubah duka. Waktu lapang bisa berubah menjadi sempit dan tidak terkendali. Sehat terkadang hanya sesaat dan digantikan oleh sakit. Ketika kumpul bersama keluarga, ada saatnya untuk berpisah. Maka butuh sabar untuk menghadapi dinamika perubahan hidup yang tidak diinginkan. Semakin berat beban kehidupan yang dijalani maka semakin dibutuhkan kesabaran.
Itulah sebabnya banyak ayat di dalam Alquran yang mengingatkan para Nabi dan Rasul untuk selalu bersabar. Amanah risalah yang dibebankan kepada mereka tidak mudah. Amanah tersebut bukan hanya menguras keringat, airmata dan darah, tapi juga berkorban nyawa. Seperti dalam surat Al-ahqaf ayat 35, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam diminta selalu bersabar oleh Allah dalam menjalani dakwahnya, “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana para Rasul yang mendapat gelar “ulul ‘azmi” (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul yang telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari ketika melihat azab yang dijanjikan, seolah-olah mereka hanya tinggal (di dunia) sesaat saja pada siang hari. (Nasihatmu itu) merupakan peringatan (dari Allah). Maka, tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasik”.
Maka seorang kader dakwah yang mematrikan diri untuk mengemban amanah sebagai khalifah dan pelanjut estafeta para Nabi dan Rasul sudah selayaknya memiliki sifat sabar dalam menjalani semua kegiatan dakwahnya di atas muka bumi ini. Bukan hanya sekedar ungkapan lisan, namun mengejawantahkannya sesuai dengan tiga rukun sabar: menciptakan hati untuk selalu ridha terhadap takdir yang telah ditetapkan; menahan lisan untuk mengeluh; dan mencegah anggota badan lainnya untuk melakukan tindakan yang membuat Allah murka.
Selanjutnya salat. Inilah terapi kedua yang disebutkan Alquran. Kenapa harus salat? Sebab masalah, tantangan dan derita harus diurai dengan cara melibatkan yang lain. Menyampaikan masalah adalah bagian dari jalan keluar. Menceritakan tantangan bagian dari solusi. Dan berbagi derita dengan yang lain adalah sarana untuk mengurainya dan menemukan bahagia. Apalagi dengan Allah Yang Maha Segalanya.
Salat adalah sarana komunikasi antara manusia dengan penciptanya. Media curhat antara makhluk dengan Sang Khalik. Allah adalah Dzat Yang Maha Memberikan Solusi, Maha Menemukan jalan keluar dan Maha Menganugrahkan bahagia kepada hamba-hambaNya.
Itulah sebabnya, sekalipun secara kasat mata kehidupannya penuh dengan tantangan, banyak masalah yang dihadapi dalam kapasitasnya sebagai utusan Allah, derita adalah bagian yang inheren dalam dakwahnya, tapi Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam masih bisa bahagia. Karena minimal kebahagiaan itu didapat melalui salat wajib lima kali sehari dan semalam. Rasulullah pernah mengungkapkan, “Dan saat yang paling membuatku bahagia adalah ketika melaksanakan salat” (HR. An-nasai).
Maka bila buntu untuk mencari jalan keluar, sulit menemukan solusi, akrab dengan derita, mulailah meminta pertolongan pertama dengan sabar. Lalu segeralah ke masjid, tunaikanlah wudhu dengan sempurna. Perhatikan wajib, sunnah dan adabnya. Kemudian berdirilah menghadap Allah dengan khusyu, rukuk dengan penuh ketundukan, dan sujud dengan penuh kepasrahan. Curhatlah kepada Allah atas semua masalah. Sampaikan kepada Sang Khalik semua tantangan. Pintalah bahagia pengganti derita, sukacita pengganti duka, Insya Allah setelah salat, semua akan didapat.
Namun untuk melaksanakannya tidak mudah. Hanya orang-orang khusyu yang mampu menemukan solusi masalah melalui sabar dan salat. Hanya orang-orang yang biasa kembali kepada Allah dengan kepasrahan yang sempurna yang akan menemukan jalan keluar dari tantangan saat hatinya sabar dan dirinya sedang salat. Dan hanya orang-orang yang tunduk total yang akan mampu bersabar dan mampu menjadikan salat sebagai saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
Itulah sebabnya para kader dakwah senantiasa dinasehati, “Bangunlah untuk segera melaksanakan salat saat engkau mendengar azan berkumandang, dalam situasi dan kondisi apapun engkau saat itu”. Bukan hanya sekedar melaksanakan kewajiban dan ingin mendapatkan pahala dari Allah. Namun ada sisi lain, yaitu salat menjadi sarana yang meneguhkan, menguatkan dan memberikan solusi. Saat bertemu dengan Sang Pencipta dalam salat, maka itulah kesempatan terbaik untuk menceritakan semua masalah dan mengurai semua derita, lalu mengajukan semua pinta, agar mendapatkan solusi, menemukan bahagia, mengokohkan diri dalam menjalani kehidupan dan memantapkan langkah untuk merealisasikan program-program dakwah.
Serial Inspirasi Alquran Buat Kader Dakwah
Oleh: H. Iswan Kurnia Hasan, Lc.MA.
Ketua MPW PKS Sulawesi Tengah


