(Penuturan Relawan PKS, Salfin)
Siang itu selasa (10/06/2025), matahari sore bersinar masih cukup terik ketika saya baru saja selesai mengantarkan jenazah almarhumah ustadzah Eka Lindawati. Mobil ambulance Partai Keadilan Sejahtera yang saya kemudikan perlahan melaju kembali ke kantor PKS. Rute yang saya ambil cukup familiar: dari arah rumah ustadz Fuad, saya masuk ke Jalan Moh. Hatta, lalu membelok ke arah Thamrin.
Saat melintas di depan SPBU Sisingamangaraja, laju kendaraan terhambat. Terlihat antrean panjang kendaraan yang mengular ke jalan raya. Ternyata, seperti biasa, ada antrean panjang untuk membeli bensin.
Saya menarik napas panjang dan memelankan laju kendaraan, mencoba bersabar dengan kondisi macet itu.Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara klakson sepeda motor. Saya menoleh melalui kaca spion, dan melihat dua anak remaja di atas sepeda motor.
Wajah mereka terlihat sedih, dan seakan-akan sedang menahan air mata. Begitu motor mereka mendekat ke jendela saya yang terbuka, salah satu dari mereka berbicara lirih namun penuh harap:”Om… bisa minta tolong… ambulance-nya bisa bawa jenazah?”
Saya langsung menoleh, sedikit terkejut, lalu bertanya dengan hati-hati, “Kemana?”
Dia menjawab, “Ke Jalan Ketapang, dekat Jalan Thamrin, Om. Tidak jauh kok dari RS Shindu Trisno.”
Saya sempat berpikir sejenak. “Mana ambulance dari RS?”
Anak itu menggeleng pelan. “Katanya rusak, Om…”
Hati saya tergerak. Saya pun segera menyalakan lampu sein, keluar dari kemacetan, dan bergegas menuju RS Shindu Trisno. Begitu sampai, suasana haru langsung menyambut saya. Beberapa orang terlihat menangis tertahan, ada yang terduduk lemas di kursi tunggu.
Saya segera mencari tahu lebih lanjut. Ternyata, jenazah yang akan dibawa adalah seorang ibu paruh baya. Menurut cerita singkat dari keluarga, beliau ditemukan terjatuh di dalam rumah—entah di kamar mandi atau ruangan lain—oleh seorang tetangganya. Tidak ada keluarga yang mendampingi saat itu.
Tetangganya lah yang kemudian berinisiatif membawa almarhumah ke RS Shindu Trisno.Begitu kabar duka itu sampai ke pihak keluarga, barulah mereka berdatangan. Namun ketika hendak membawa pulang jenazah ke rumah duka di Jalan Ketapang, mereka bingung. Ambulans rumah sakit sedang rusak, dan tidak ada mobil lain yang bisa digunakan.
Melihat suasana yang penuh kesedihan dan kebingungan itu, saya merasa tak bisa tinggal diam. Tanpa banyak bicara, saya bantu proses pengangkutan jenazah.Dalam perjalanan menuju rumah duka, tidak ada suara selain lantunan pelan doa dari keluarga yang turut serta.
Hari itu saya kembali ke kantor PKS bukan hanya dengan ambulance kosong, tapi juga hati yang penuh makna. Kadang, tugas Relawan PKS sebagai supir ambulance bukan sekadar membawa yang sakit atau terluka. Tapi kita diminta mengantarkan seseorang menuju peristirahatan terakhir di dunia.


