PALU — Kontingen asal Sulawesi Tengah (Sulteng) diberangkatkan untuk mengikuti Pendidikan Dasar Korps Satuan Tugas Keadilan (Diksar KORSAD) yang dilaksanakan oleh Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tahun 2026.
Ketua Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPW PKS Sulawesi Tengah, Iwan Rifai, mengatakan keikutsertaan kontingen Sulteng dalam Diksar KORSAD merupakan bagian dari proses pembentukan kader yang memiliki ketangguhan fisik, mental, kedisiplinan, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kondisi di lapangan.
“KORSAD merupakan salah satu sarana pendidikan tingkat khusus di PKS. Di sini ada tahapan pengelolaan fisik yang sangat maksimal agar peserta benar-benar menjadi kader yang tangguh, terutama ketika menghadapi situasi ekstrem,” ujar Iwan Rifai.
Menurutnya, kemampuan bertahan dalam kondisi serba terbatas menjadi salah satu aspek penting yang harus dimiliki kader KORSAD. Hal tersebut dinilai relevan dengan karakter wilayah Indonesia yang memiliki potensi berbagai jenis bencana dan kondisi darurat.
“Dalam situasi bencana, misalnya, seorang kader harus mampu bertahan dalam kondisi yang serba terbatas. Karena itu, kemampuan survival, ketahanan fisik, mental, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja dalam tim menjadi bagian penting yang harus dibangun,” katanya.
Iwan menjelaskan, pendidikan KORSAD bukan semata-mata diarahkan untuk membentuk kader dengan kemampuan fisik yang kuat. Lebih dari itu, pendidikan tersebut juga menanamkan kesiapsiagaan, kepemimpinan lapangan, loyalitas, kekompakan, serta kemampuan memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam kondisi membutuhkan.
KORSAD sendiri merupakan bagian dari pembinaan kepanduan PKS yang diarahkan untuk membangun personel dengan kemampuan khusus. Dalam berbagai kegiatan kepanduan PKS, KORSAD diposisikan sebagai barisan yang dituntut memiliki kesiapan fisik dan kemampuan menghadapi kondisi lapangan. PKS juga menekankan pentingnya latihan berkelanjutan agar personel KORSAD selalu siap ketika dibutuhkan masyarakat.
“Jadi bukan hanya soal kuat secara fisik. Yang paling penting adalah bagaimana kekuatan itu digunakan untuk pengabdian, membantu masyarakat, terutama dalam kondisi darurat, bencana, maupun situasi yang membutuhkan kesiapsiagaan,” jelas Iwan.
Diksar sebagai Tahapan Pendidikan Khusus
Iwan menerangkan, Diksar KORSAD merupakan salah satu jenjang pendidikan khusus dalam pembinaan kepanduan PKS. Peserta yang mengikuti pendidikan tersebut sebelumnya perlu melalui proses seleksi dan persiapan yang memadai.
Dalam praktiknya, pembinaan calon KORSAD mencakup penguatan kebugaran dan kesiapan fisik. Pada proses seleksi sebelumnya, peserta calon KORSAD di sejumlah wilayah antara lain menjalani pengujian fisik seperti lari, renang, dan bentuk latihan kebugaran lainnya sebelum dapat mengikuti pendidikan dasar.
Karena itu, kata Iwan, kontingen Sulteng tidak hanya membawa nama organisasi, tetapi juga membawa semangat untuk menunjukkan bahwa kader dari daerah mampu mengikuti proses pendidikan yang menuntut daya tahan dan kedisiplinan tinggi.
“Ini adalah kesempatan bagi kader-kader Sulteng untuk meningkatkan kapasitas. Kita ingin mereka pulang bukan hanya dengan pengalaman pendidikan, tetapi juga dengan kemampuan yang bisa diimplementasikan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Relevan dengan Kesiapsiagaan Bencana
Menurut Iwan, kemampuan survival yang menjadi bagian dari pembentukan kader KORSAD memiliki relevansi kuat dengan kondisi geografis Sulawesi Tengah.
Sebagai wilayah yang memiliki pengalaman menghadapi berbagai bencana, kesiapsiagaan sumber daya manusia menjadi salah satu kebutuhan penting. Karena itu, kader yang memiliki kemampuan bertahan hidup, bekerja dalam tim, menjaga kondisi fisik, serta mampu mengambil keputusan dalam situasi terbatas diharapkan dapat memberikan kontribusi positif ketika terjadi keadaan darurat.
“Sulawesi Tengah memiliki tantangan kebencanaan yang tidak ringan. Karena itu, kader harus memiliki kesiapan. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, kita harus siap bergerak dengan kemampuan yang ada,” kata Iwan.
Ia menambahkan, semangat KORSAD harus tetap ditempatkan dalam kerangka pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan arah pembinaan BKBN PKS yang menekankan kepanduan, bela negara, kesiapsiagaan, kedisiplinan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Pada 2026, BKBN DPP PKS juga terus mendorong kegiatan yang memperkuat semangat kebangsaan, kepedulian sosial, dan kesiapsiagaan kader.
Iwan berharap para peserta Diksar KORSAD asal Sulteng dapat mengikuti seluruh tahapan pendidikan dengan sungguh-sungguh, menjaga kesehatan dan disiplin, serta mampu menyerap setiap materi yang diberikan.
“Harapannya, mereka menjadi kader yang semakin tangguh, disiplin, siap menghadapi situasi ekstrem, dan yang paling utama memiliki semangat pengabdian untuk masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya.(hnf)


