PALU – Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Tengah, H. Iswan Kurnia Hasan, Lc., M.A., mengajak seluruh kader dan anggota PKS, untuk menghidupkan kembali semangat dakwah, kepedulian terhadap sesama, dan tradisi saling menguatkan keimanan sebagaimana dicontohkan para sahabat Rasulullah SAW.
Ajakan tersebut disampaikan Iswan saat memberikan tausiah pada kegiatan Jalsah Imaniyah yang diselenggarakan DPD PKS Kota Palu di Halaman Pondok Pinang, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Ahad (26/7/2026), mulai pukul 14.30 hingga 17.00 Wita.
Dalam tausiahnya, Ustadz Iswan sapaannya, mengawali dengan mengajak seluruh peserta bersyukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Jalsah Imaniyah merupakan salah satu sunnah yang dahulu rutin dilakukan para sahabat Nabi Muhammad SAW ketika mereka bertemu.
“Para sahabat biasa saling mengajak dengan ungkapan ‘Ijlis bina nu’min sa’ah’ yang berarti, ‘Mari duduk bersama sejenak untuk memperbarui dan menguatkan keimanan kita’. Tradisi seperti inilah yang ingin kita hidupkan kembali melalui Jalsah Imaniyah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar forum silaturahmi, melainkan momentum untuk memperkuat spiritualitas sekaligus memperkokoh komitmen dalam menjalankan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan bermasyarakat.
Tiga Klasifikasi Umat Islam
Dalam kesempatan itu, Ustadz Iswan memaparkan pandangannya mengenai kondisi umat Islam saat ini yang menurutnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi.
Kelompok pertama, kata dia, adalah mereka yang tidak memiliki kepedulian terhadap kondisi umat. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menggambarkan kondisi umat Islam di akhir zaman, ketika jumlah mereka banyak tetapi lemah seperti buih di lautan karena lebih mencintai kehidupan dunia dan takut menghadapi kematian.
Menurutnya, kelompok ini cenderung hanya memikirkan kepentingan pribadi tanpa berupaya berkontribusi terhadap dakwah, pendidikan, maupun persoalan sosial yang dihadapi umat.
“Ini adalah kelompok terbesar yang sangat disayangkan keberadaannya. Mereka tidak mau beramal untuk kepentingan Islam dan umat,” katanya.
Kelompok kedua adalah mereka yang telah memperoleh pemahaman agama dan hidayah, tetapi belum mau menyebarkan nilai-nilai tersebut kepada orang lain.
Ia mengingatkan pentingnya menjalankan amar makruf nahi mungkar sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Menurutnya, hidayah tidak semestinya hanya dinikmati secara pribadi, tetapi harus menjadi inspirasi untuk mengajak masyarakat kepada kebaikan.
“Hidayah yang Allah berikan kepada kita hendaknya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi harus diteruskan kepada orang lain melalui dakwah dan keteladanan,” ujarnya.
Golongan Ideal adalah yang Berdakwah
Ustadz Iswan menyebut kelompok ketiga, sebagai golongan yang paling ideal, yakni mereka yang aktif beramal, berdakwah, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Fussilat ayat 33 yang menyebut bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik daripada ajakan menuju jalan Allah yang disertai amal saleh.
“Orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, itulah yang disebut memiliki Ahsanul Qaul, perkataan terbaik menurut Allah,” jelasnya.
Selain memiliki perkataan terbaik, lanjut Ustadz Iswan, orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk dakwah dan pelayanan umat akan selalu dipertemukan dengan berbagai kebaikan. Bahkan, menurut sejumlah hadis yang ia sampaikan, Allah memilih hamba-hamba tertentu untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan umat.
“Mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat. Seluruh aktivitasnya bernilai kebaikan, dan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka termasuk golongan yang akan memperoleh keamanan dari siksa Allah pada hari kiamat,” tuturnya.
Mengakhiri tausiahnya, Iswan mengajak seluruh peserta Jalsah Imaniyah untuk tidak berhenti pada peningkatan kualitas ibadah secara pribadi, tetapi juga mengambil peran aktif dalam dakwah, pembinaan masyarakat, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, keberhasilan seorang muslim tidak hanya diukur dari kualitas ibadah individual, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menjadi jalan hadirnya hidayah dan kebaikan bagi orang lain.(iyan)


