MENJELANG akhir tahun, ada tawaran perjalanan dinas bagi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah. Orang ini yang duduk di Komisi III, mestinya melakukan perjalanan ke Ibukota Negara untuk melakukan studi komparasi terkait dengan tugas-tugasnya di DPRD maupun Komisi.
Tapi tetiba, atas nama Wakil Ketua Fraksi, Orang ini justru membelokkan perjalanannya ke Sumatera Barat. “Ada perintah dari Qiyadah, kita yang dapat fasilitas ini, saya ikut instruksi Panglima untuk ke Padang. Ajukan atas nama Fraksi, saya yang tandatangan, kita ke Sumatera Barat,”kata orang ini.
Beres urusan administrasi di kantor DPRD, kemudian terbitlah Surat Tugas yang diteken langsung Ketua DPW PKS Sulawesi Tengah, untuk menugaskan orang ini ke Sumatera Barat.
Setelah melakukan perjalanan hampir seharian, karena pesawat mengalami delay berkali-kali, tiba di Kota Padang, Kamis (11 Desember 2025) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Jumat pagi, bersilaturrahim dengan Wakil Ketua Fraksi PKS DPRD Sumatera Barat, untuk studi komparasi, terkait dukungan politik Fraksi PKS DPRD Sumatera Barat dalam penanganan banjir di seantero wilayah Sumatera Barat.
Menyempatkan waktu shalat Jumat di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi , yang merupakan ikon dan kebanggaan warga Sumatera Barat. Setelah itu langsung menuju DPW PKS Sumatera Barat, menyerahkan Surat Tugas, sekaligus arahan untuk ditempatkan di Posko mana saja.
“Antum kami minta dan tempatkan di Posko Malalak. Di tempat itu butuh sekali relawan terkait manajemen logistik,”perintah Kabid BKBN DPW PKS Sumbar, Komandan Jundi.
Sabtu pagi, Bersama rombongan dari DPW PKS Sumbar, meluncur ke Toboh Malalak Timur, Kecamatan Malalak Kabupaten Agam dengan durasi perjalanan 2 jam lebih. Tiba di Posko, tanpa basa-basi, orang ini langsung ambil peralatan tempurnya. Setelah simpan tas, langsung ikut Goro (Gotong Royong) membersihkan Masjid Darul Aman Toboh yang harus secepatnya dibersihkan, agar target bisa Jumatan di masjid yang seluruh bangunannya dipenuhi lumpur dan kayu bisa terlaksana.
Malamnya, Orang ini yang sejak berangkat mengeluh sakit di bagian belakangnya, tidak langsung istirahat, tapi membantu pengepakan bantuan paket logistic yang harus segera dibagikan besok paginya.
Walaupun ada perbedaan kultur atara Urang Minang dengan Manggeku satu ini, tapi Orang ini cukup luwes dalam menghadapi berbagai macam karakter penyintas.
“Minta Apa Bu? Pempers? Bukannya tadi sudah datang ambil? Maaf Bu, saya ingat sekali wajahnya Ibu. Nanti kalau sudah habis, baru ke sini lagi ya… supaya yang lain juga ikut kebagian,”kata Orang ini yang kadang dijawab dengan gerutu berbahasa Minang dari para emak-emak penyintas.
Menghadapi penyintas, memang membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang berbeda. Jangan sampai, pola komunikasi bisa menganggu harmoni di Lokasi bencana.
Di saat senggang, karena tidak ada penugasan dari Komandan Posko, Orang ini mengunjungi Dapur Umum. Bukan untuk cari makan atau Ngopi, tapi sekadar bercengkrama dan berbasa-basi dengan Masyarakat dan relawan di Dapur Umum. Keberadaan dapur umum yang buka 24 jam, bagi siapa saja yang ingin Ngopi, menjadi daya Tarik tersendiri di Lokasi bencana, sehingga Dapur Umum hanya sunyi mulai pukul 22.00 sampai 06.00 Waktu Malalak.
Saat malam orang ini tidurnya dimana? Di antara tumpukan karung beras dan deretan dos mie instan.
“Enak di sini, banyak bantalnya. Tinggal pilih, yang 5 kg atau yang 10 kg,”katanya setengah berkelakar.
Bersama relawan dari Lembaga lain yang datang ke Malalak, Orang ini juga ikut memikul paket bantuan yang akan disalurkan. Dibawa kemana? Ke rumah-rumah yang dijadikan tempat para penyintas untuk mengungsi. Jaraknya? Maaf tidak sempat bawa meteran. Tapi yang jelas, keringat tampak membanjiri wajah dan baju relawan yang dikenakannya.

Dengan pendekatan dan kegiatan yang dilakukan orang ini, maka tidak heran, Ketika orang ini pamitan, relawan dan masyarakat Malalak banyak yang merasa kehilangan, terutama yang sering bercengkarama di Dapur Umum.
“Ternyata Bapak Pak Dewan ya? Tidak kelihatan kalau Bapak ini anggota dewan. Tapi dari cerita-cerita orang, saya tidak heran kalau dewan dari PKS itu memang begini modelnya,”kata Om Andra, salah satu relawan local yang ikut menginap di Posko, walaupun memiliki rumah yang jaraknya tidak jauh dari Posko.
Aktivitas inilah yang mewarnai perjalanan relawan PKS di Posko Malalak selama masa penugasan yang berakhir, Kamis 17 Desember 2025.
Siapakah Orang ini? Saya tidak perlu jawab… Yang jelas bukan yang menulis kisah ini.
#SUMBAR BANGKIT
#RelawanPKSSulteng
Tulisan Ketua Komdigi Sulteng
Yang juga menjadi Relawan Sulteng yang ke Sumbar
Abdul Hanif


