Dengan menggunakan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Ketentuan Penggunaan.
Accept
DPW PKS SultengDPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
Notification Show More
Font ResizerAa
  • DPW PKS
    • SEJARAH
    • VISI MISI
  • BERITA & INFORMASI
    • KABAR SULTENG
    • FOTO BERITA
    • PRESS RELEASE
  • TOPIK PILIHAN
    • HIKMAH
    • CATATAN ANGGOTA
Reading: Husnul Khatimah Ramadhan
Bagikan
Font ResizerAa
DPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
  • DPW PKS
  • BERITA & INFORMASI
  • TOPIK PILIHAN
Search
  • Home
    • Beranda
  • Categories
    • Publikasi
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Beranda » Blog » Husnul Khatimah Ramadhan
Hikmah

Husnul Khatimah Ramadhan

Diperbarui Selasa, 17 Maret 2026 9:18 pm
DPW PKS Sulteng
Diterbitkan Selasa, 17 Maret 2026
Bagikan
Bagikan

Dalam buku tafsir Imam at-Thabary disebutkan sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi bahwa suatu saat istri Rasulullah, Aisyah radhiyallâhu anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang makna ayat ke-60 dalam surat Al-Mu’minun. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَۙ

Artinya: “Dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.”

Aisyah radhiyallâhu anha bertanya, “Apakah mereka yang dimaksud dalam ayat di atas adalah yang sebelumnya minum khamr atau mencuri? (para pelaku maksiat kemudian bertobat?). Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam lalu menjawab, “Bukan itu maknanya wahai anak Abu Bakar ash-Shiddiq. Tapi maknanya adalah mereka yang berpuasa, menunaikan salat, membayar zakat, lalu mereka khawatir amal dan ibadah yang telah dilakukan tidak akan diterima Allah. Merekalah orang-orang yang bersegera dengan kebaikan dan merekalah yang akan memperolehnya”.

Ayat ini mengungkap pentingnya keberlanjutan amal sampai di detik terakhir disyariatkan amal tersebut dalam Islam. Sebuah amal yang pelaksanaannya terkait dengan waktu tertentu, maka fokusnya bukan hanya di awal waktu. Bukan menjadi sebuah parameter utama. Akan tetapi yang lebih utama adalah keberlanjutan amal tersebut sampai di akhir waktunya. Justru akhir waktu yang menjadi prioritas utama.

Sebuah amal akan diterima atau tidak justru lebih tergantung di akhir waktunya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Ibnu Majah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya amal itu (diterima atau tidaknya) tergantung kepada penutupnya (waktu terakhirnya). Seperti sebuah bejana, bila apa yang tampak di atasnya bagus, maka itu indikasi bahwa isi bejana tersebut sampai di bawahnya bagus. Namun apabila apa yang tampak di atas buruk. Maka itu indikasi bahwa seluruh isi bejana buruk”.

Bila dianalogikan dengan Ramadhan, maka waktu akhirnya justru yang menjadi parameter utama diterimanya seluruh ibadah yang dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Waktu terakhir Ramadhan ini yang disebut dengan 10 terakhir. Dalam kitab Ihyâ Ulûmiddîn, Imam al-Ghazali pernah berkata bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menggerakkannya untuk beramal di waktu-waktu yang utama untuk melaksanakan amal-amal yang utama. Sebaliknya, bila Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan menggerakannya untuk melakukan maksiat di waktu-waktu yang utama. Agar azab yang akan diberikan nantinya semakin pedih dan balasan yang diberikan semakin berat. Karena tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan keberkahan waktu.

Tanda seorang hamba yang dicintai Allah di bulan Ramadhan menurut Imam Ghazali apabila ia bisa memaksimal ibadah dan ketaatan di waktu utamanya. Atau di 10 terakhir Ramadhan yang jamak disebut sebagai waktu utama dan terakhirnya. Sebaliknya bila semangat makin pupus, ibadah makin berkurang, ketaatan makin minim, futur semakin melanda, saat waktu disediakan Lailah al-Qadar di dalamnya, maka jangan-jangan itu pertanda cinta Allah telah tercerabut.

Maka bukan hanya semangat di awal dan loyo di akhir. Tapi semangat dari awal dan istiqamah sampai detik terakhir. Selama belum terbit bulan Syawal dengan rukyah atau hisab, maka waktu utama dengan Ramadhan masih tetap ada. Masih ada kesempatan untuk melipatgandakan amal. Masih ada Lailah al-Qadar yang letaknya di 10 terakhir. Masih ada Ramadhan yang belum selesai. Justru keutamaannya semakin meningkat seiring dengan berakhirnya.

Bila tidak maksimal saat menyambut Ramadhan. Bila kurang optimal menjalani hari-hari awal bulan suci. Maka sempurnakan akhirnya. Maksimalkan penghujungnya. Imam Hasan al-Bashriy pernah berkata, “Perbaiki apa yang tersisa, maka Allah akan mengampuni kekurangan yang telah dilewati”.

Beberapa ulama bahkan secara khusus mengulas tentang keutamaan malam terakhir Ramadhan di dalam buku mereka. Seperti apa yang dilakukan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya yang berjudul “Mukhtashar al-Mukhtashar Min al-Musnad ash-Shahîh ‘An Rasûlillâh” secara khusus memasukkan pembahasan tentang “Perintah Untuk Mencari Lailah al-Qadar Sampai Malam Terakhir Bulan Ramadhan”.

Hal ini berdasarkan beberapa hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah. Diantaranya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Telah diberikan lima hal kepada umatku di bulan Ramadhan yang belum pernah dianugrahkan kepada nabi sebelumku. (Pertama) pada awal bulan Ramadhan, Allah melihat umatku. Siapa yang dilihat oleh Allah, maka dia tidak akan disiksa untuk selama-lamanya. (Kedua) bau mulut orang yang berpuasa, di sisi Allah lebih baik dari bau minyak kasturi. (Ketiga) para malaikat memohon ampunan untuk umatku siang dan malam. (Keempat) Allah memerintahkan penjaga surga. Allah berkata kepadanya: “Bersiap-siaplah dan berhiaslah kamu untuk hamba-hambaKu. Mereka akan beristirahat dari kesulitan hidup di dunia menuju tempatKu dan kemuliaanKu. (Kelima) pada akhir malam bulan Ramadhan Allah mengampuni dosa-dosa mereka semuanya” Seorang sahabat lantas bertanya: “Apakah itu saat malam al-Qadar wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak. Tidakkah kamu mengetahui bahwa para pekerja, apabila mereka selesai dari pekerjaannya, niscaya akan dibayar upahnya”.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, Rasulullah juga menyatakan bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ setiap malam membebaskan 600 ribu orang dari api neraka. Dan di saat malam terakhir Ramadhan, Allah membebaskan sejumlah angka setiap malam Ramadhan sampai akhir. Artinya bila Ramadhan berjumlah 29 hari, maka di akhir Ramadhan, Allah akan membebaskan 28 dikali 600 ribu orang atau sejumlah 16.800.000 orang yang berpuasa. Bila Ramadhan berjumlah 30 hari maka yang dibebaskan dari neraka di malam terakhir Ramadhan sejumlah 17.400.000 orang yang berpuasa.

Maka detik terakhir Ramadhan sangat bernilai. Penentu apakah kita akan menjadi orang yang terbaik saat mengakhiri Ramadhan? Husnul Khatimah dengan kepergian Ramadhan? Atau sebaliknya. Semakin Ramadhan perlahan meninggalkan kita maka semakin luntur pula semangat mengoptimalkan ibadah. Apalagi semakin terganggu dengan tradisi akhir Ramadhan yang menggerus waktu ibadah. Tradisi untuk mudik. Tradisi untuk menyiapkan kue labaran. Tradisi menata rumah untuk menyambyut tamu saat Idul Fitri. Dan lain-lain.

Maka semakin dekat perpisahan dengan Ramadhan, tetap mengoptimalkan ibadah. Seperti apa yang disampaikan oleh A’isyah radhiyallâhu ‘anha bahwa 10 malam terakhir, Rasulullah memiliki etos ibadah yang berbeda dengan malam-malam lain yang dilaluinya selama satu tahun. Etos ibadah itu digambarkan dalam bentuk Rasulullah menghidupkan seluruh malamnya dengan ibadah. Satu malam penuh waktunya diberikan untuk Allah. Lalu Rasulullah membangunkan keluarganya. Tidak seperti di malam lain, Rasul mengajak keluarganya untuk menghidupkan malam di sepuluh terakhir Ramadan.

Kemudian Rasulullah “Syadda Mi’zarahu”. Ungkapan ini mengandung dua makna. Makna pertama mengencangkan ikat pinggang. Seperti seseorang yang akan memikul beban berat membutuhkan energi ekstra. Ia terlebih dahulu mengencangkan kembali ikat pinggangnya. Ini pula yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau mengencangkan ikat pinggang. Karena beribadah satu malam penuh membutuhkan tenaga ekstra.

Makna kedua, menutup tirai. Artinya Rasul tidak lagi berhubungan dengan dunia. Fokus beribadah. Beliau tidak lagi mengurusi dunia. Beliau tidak lagi bercengkerama dengan anak-anaknya. Beliau tidak lagi menemani istrinya. Rasulullah tidak lagi mengurusi alam materi. Karena ia disibukkan dengan alam rohani. Alam ketika para malaikat turun ke atas muka bumi bersama Jibril. Alam Lailatulqadar.

Semakin hari Ramadhan berakhir maka tetap standby di masjid tempat i’tikaf. Sampai Ramadhan berakhir. Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dalam riwayat al-Bukhary mengatakan bahwa setiap datang Ramadan, Rasulullah selalu melaksanakan iktikaf di sepuluh terakhir. Namun di Ramadan tahun Rasulullah akan wafat, Beliau iktikaf selama dua puluh hari lamanya.

Memang rasanya tidak lengkap bila hanya mengibadahkan jasad sejenak dalam rangka meraih predikat takwa. Rasanya belum cukup bila hanya menahan lapar, dahaga, dan syahwat untuk mendapatkan ampunan itu. Kita harus mengistirahatkan akal dari materi. Lalu memfokuskan rohani hanya kepada sang Ilahi. Berlari menuju Allah dengan segenap raga dan hati sampai di akhir Ramadhan. Agar Allah memberikan ampunanNya yang tak bertepi. Menganugerahkan seribu bulanNya yang kita cari.

Saat akan meninggalkan Ramadhan, tetap fokus berdoa. Apalagi di 10 terakhir ada doa khusus yang disyariatkan oleh Rasulullah. Dalam riwayat at-Tirmidzy, A’isyah radhiyallâhu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah jika ia bertemu dengan Lailah al-Qadar, doa apa yang harus dibaca? Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bacalah Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibb al-‘afwa fa’fu’annâ” (Ya Allah sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Memaafkan, Engkau juga suka memberi maaf, maka maafkanlah kami).

Rasulullah menganjurkan A’isyah untuk meminta al-‘Afw (maaf) kepada Allah. Kenapa justru meminta maaf dan bukan meminta ampun? Dalam bahasa Arab, kata al-‘Afw bermakna menghilangkan. Kata ini dipakai untuk menggambarkan hilangnya bekas-bekas langkah di padang pasir yang diterpa angin. Kata al-‘Afw yang digandengkan dengan harta, berarti harta itu adalah harta yang terbaik dan diberikan secara sukarela sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 219.

Meminta al-‘Afw atau maaf di Lailah al-Qadar berarti meminta Allah menghapus semua dosa yang kita lakukan. Seperti terhapusnya tapak-tapak kaki yang tertiup angin di padang pasir. Tidak ada bekas di atas pasir itu, seperti juga tidak ada bekas dosa di catatan amal kita. Meminta maaf juga berarti meminta Allah memberikan anugerah yang terbaik bagi kita secara sukarela. Anugerah karena telah berpuasa. Anugerah karena telah salat Tarawih. Anugerah karena menggunakan malam saat al-Qadar untuk beribadah kepada Allah. Meminta anugerah yang tidak bertepi.

Saat akan berpisah dengan Ramadhan juga jangan lupa bahwa ada ibadah yang terkait dengan harta yang harus ditunaikan oleh orang-orang yang berpuasa. Yaitu menunaikan zakat fitrah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallâhu anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.

Zakat Fitrah merupakan zakat yang harus dikeluarkan oleh setiap muslim sebelum mereka keluar untuk melaksanakan shalat Id. Bentuknya adalah menyerahkan seukuran satu sha;’ dari tepung, terigu, kurma, gandum, zabib (kismis), aqîth (sejenis keju). Untuk daerah yang makanan pokoknya selain dari yang di atas, diperbolehkan untuk membayarkannya sesuai dengan makanan pokoknya. Bila di Indonesia maka menggunakan beras. Madzhab Abu Hanifah membolehkan membayar zakat fitrah dengan harga satu sha’ dari makanan pokok yang dimakan.

Adapun waktu mengeluarkannya maka menurut jumhur ulama wajib membayarnya pada saat tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan. Namun dibolehkan untuk mendahulukan pembayaran zakat fitrah di awal (sebelum hari akhir ramadhan).

Lalu kita mematrikan diri untuk menutup rangkaian ibadah Ramadhan dengan ukhuwwah. Sebab dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah akan memberi tahu kepada sahabat kapan persisnya malam al-Qadar. Namun urung dilakukan atau lupa karena permasalahan ukhuwwah yang terjadi kepada dua orang sahabat.

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah keluar untuk memberitahukan kami tentang malam al-Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang tengah berbantah-bantahan. Akhirnya Beliau berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailah al-Qadar namun fulan dan fulan tengah berdebat sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan)”.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalaniy menjelaskan bahwa dua sahabat yang sedang berselisih sehingga waktu Lailah al-Qadar menjadi samar adalah Ka’ab bin Malik dan Abdullah bin Abu Hadrad radhiyallâhu ‘anhuma. Perselisihan yang terjadi di antara keduanya terkait hutang-piutang. Ka’ab yang sudah mengurangi setengah beban hutangnya Ibnu Hadrad memintanya untuk segera melunasi hutangnya di Masjid. Saat itu suara Ka’ab agak meninggi sampai terdengar oleh Rasulullah, sampai akhirnya Rasulullah dilupakan kapan persisnya Lailah al-Qadar.

Semoga saat kita menunaikan kewajiban ukhuwwah kita di akhir Ramadhan. Berbagi kepada saudara dan saudari yang membutuhkan di sekitar kita, agar mereka bisa merasakan kegembiraan iduk fitri bersama-sama. Mendoakan saudara dan saudari yang tertindas dan sedang diperangi. Berprasangka baik terhadap saudara dan saudari yang terlibat masalah dengan kita. Lalu memaafkannya di hari yang fitri. Semoga kita menjadi orang-orang yang Husnul Khatimah dengan Ramadhan.

Husnul khatimah karena mendapatkan ampunan dari Allah, Husnul khatimah karena mendapatkan anugrah malam seribu bulan. Husnul khatimah karena Allah tetalh menghapus dari catatan malaikat semua dosa dan kesalahan kita. Husnul khatimah karena telah disucikan Allah melalui zakat fitrah dari semua maksiat lisan dan fisik yang kita lakukan saat berpuasa. Husnul khatimah karena telah mendapatkan upah langsung dari Allah di malam akhir Ramadhan. Husnul khatimah karena telah terbebas dari semua salah dan khilaf karena telah menjadi manusia fitri. Husnul khatimah karena telah mendapatkan piala taqwa setelah Ramadhan berlalu.

Iswan Kurnia Hasan

Baca Juga

Aksioma Hidup Manusia

Fikih Prioritas Kehadiran Pemimpin

Upa Di Surga

Ketua MPW PKS Sulteng Resmi Buka Rakerda DPD PKS Parigi Moutong

Ketua MPW PKS Sulteng Tekankan Supervisi Berkelanjutan

TAGGED:Iswan Kurnia Hasan
Bagikan
Facebook Email Print

Ikuti Kami

Sosial Media PKS Sulteng
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow
Informasi Pilihan
AgendaAgenda DPW

Jelang Rakerwil, Bidang Kepanduan dan Bela Negara Mulai Panaskan Mesin

DPW PKS Sulteng
Minggu, 21 September 2025
Demokrasi Ala PKS
Solidaritas Palestina, PKS Sulteng Bawa Pesan Persaudaraan di Muswil VI
Aleg PKS Nyetir Ambulans
Ratusan Perempuan PKS Ikuti Latansa Zona Satu
- Advertisement -
Ad imageAd image

Akses Cepat

  • Agenda
  • Pengumuman
  • Publikasi

DPW PKS Sulteng

Pranala
  • Contact Us
  • Blog Index
Menu Pilihan
  • Contact Us
  • Blog Index
Copyright © 2026 Website Resmi DPW PKS Sulawesi Tengah dikelola oleh Humas DPW PKS Sulteng.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?