Tulisan : Sy
Gen-Z dikenal sebagai generasi yg ‘merepotkan’ mungkin. Selain terlalu banyak bicara dibanding kerja, mereka juga dianggap kaum lemah karena sesedikit self-reward alias memberi hadiah untuk diri sendiri, sebuah self-reward yg berkedok boros. Gen-Z juga makhluk keras kepala, selalu ada pembelaan dan jago berdebat. Belum lagi harus berkelahi dengan moody-annya Gen-Z. Apapun itu, semua tergantung moodnya saja. Terus, bagaimana ketika masuk sebagai pengurus partai?
Uniknya, di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pemberian jabatan atau yg lebih terasa pemberian amanah, bukan dengan sistem request atau meminta, ini keputusan syuro, keputusan para qiyadah kami. Tugas kami? Tinggal pasrah, dikasih amanah apa, mau tidak mau diterima, dijalani, dituntaskan. Kalau Gen-Z penerimaan tidak semudah generasi-generasi sebelum kami atau para generasi milenial, dan tentu saja masyarakat Gen-Z menyelesaikan pekerjaan sambil “Ya Allah.. Ya Allaah..” yang tak berkesudahan.
Tantangan berikutnya ternyata, Gen-Z harus sering berinteraksi dengan para generasi Milenial. Sebenarnya sih, yang kasian para generasi milenial ini harus melawan generasi kami yg rasanya bebal dan semaunya sendiri.
Tapi, di Struktur PKS punya kesolidan tinggi. Anak muda disayangi, orang tua dihormati. Merasa terbimbing untuk akhirnya menuntaskan pekerjaan-pekerjaan struktur. Merasa penuh rasa sabar para qiyadah, orang tua kami, meladeni kami yg penuh babibu ini. Atau rasanya hangat ketika dinasihati banyak hal untuk memetakan hati dan langkah agar lebih terarah.
Gen-Z selalu punya ambisi, perasaan mau sempurna, selalu sibuk bertanya atau tiba-tiba sangat out of the box dari pemikiran milenial. Tapi, generani milenial adalah orang-orang yg sudah handal dalam kehidupan dan juga perosalan partai. Mereka tau cara menaklukkan hati Gen-Z yg acak aduk tak karuan.
Gen-Z ini, memang kader yang keder.
Apa yang Gen-Z pelajari dari perjalanan menjadi struktur partai? Pertama, soal tenang dan sabar yg dimiliki orang-orang di PKS. Sepertinya, para orang tua kami atau yg lebih tua dari kami memang handal betul soal tenang dan sabar. Mereka bukanlah orang yg reaksioner, bukan sesedikit direspon, bukan sesedikit diladeni. Tenang dalam menuntaskan pekerjaan, permasalahan dan kendala. Gen-Z yang super duper sumbu pendek gampang meledak ini, belajar banyak soal menjadi orang yg tenang, yaaa walaupun belum berhasil.
Para generasi diatas kami memang adalah Qaumun Amaliyyun, Orang-orang yang kerja, kerja dan kerja, bukan kebanyakan bicara.
Kedua, ternyata para orang tua kami adalah kader-kader militan yg tiada tanding. Kami sebagai generasi yg lebih banyak sambat, belajar banyak soal berjuang dan bertahan. Semua usaha duniawi sampai ukhrowi dibabat habis tidak tersisa oleh orang-orang struktur entah dalam urusan internal apalagi urusan pemenangan.
Ada banyak yang Gen-Z pelajari di dalam struktur partai ini. Termasuk kesolidan mereka dan kerja jamaah. Tidak usah ditanya bagaimana mereka membangun sebuah tim yang solid, ini bukan lahir secara tiba-tiba tapi ini lahir dari buah-buah tarbiyah yg sudah dipupuk. Tidak ada lampu sorot yg hanya menyinari satu orang, kerjasama atau amal jama’i mereka adalah kunci.
Bagaimana pun, Gen-Z belajar banyak dan tidak bisa diurai. Semoga, kami para generasi z semoga bisa menjadi kader-kader yang bisa meneruskan setiap perjuangan. Bukan sekedar generasi z yang banyak dikeluhkan, tapi mampu menjadi generasi Rabbani, Qurani dan Tarbawi. Membawa dakwah sebagai pekerjaan utama. Menjadi da’i sebelum menjadi apapun.
Semoga Allah jaga keutuhan ini.


