Dengan menggunakan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Ketentuan Penggunaan.
Accept
DPW PKS SultengDPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
Notification Show More
Font ResizerAa
  • DPW PKS
    • SEJARAH
    • VISI MISI
  • BERITA & INFORMASI
    • KABAR SULTENG
    • FOTO BERITA
    • PRESS RELEASE
  • TOPIK PILIHAN
    • HIKMAH
    • CATATAN ANGGOTA
Reading: Fokus Kembali! Ramadhan Segera Berlalu
Bagikan
Font ResizerAa
DPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
  • DPW PKS
  • BERITA & INFORMASI
  • TOPIK PILIHAN
Search
  • Home
    • Beranda
  • Categories
    • Publikasi
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Beranda » Blog » Fokus Kembali! Ramadhan Segera Berlalu
Hikmah

Fokus Kembali! Ramadhan Segera Berlalu

Diperbarui Rabu, 11 Maret 2026 2:46 pm
DPW PKS Sulteng
Diterbitkan Rabu, 11 Maret 2026
Bagikan
Bagikan

Dalam hidup terkadang kita harus berhenti. Kembali menyendiri. Merenungi dan mengobservasi hati. Istirahat dari ritme dunia yang terus berjalan tanpa henti. Berteduh dari kehidupan yang tak pasti. Mengatur nafas sejenak untuk mengembalikan fokus. Lalu melangkah kembali.

Ketika sibuk berkendara di jalanan, ada lampu merah yang meminta berhenti sejenak. Mengembalikan posisi netral kendaraan, lalu kembali berjalan. Ketika sibuk bekerja, ada sakit yang meminta berhenti sejenak. Mengistirahatkan gerak fisik, lalu kembali beraktivitas. Ada rambu dalam kehidupan yang mengajak kita untuk merenunginya, sebelum hidup betul-betul berhenti dengan kematian.

Pos-pos penghentian ini selain mengembalikan manusia ke titik nol, kembali ke sejatinya hamba, kembali kepada fitrah penciptaan hakiki, juga berfungsi sebagai charger. Dalam tempo 24 jam misalnya, kita diminta berhenti sejenak untuk me-recharge kemanusiaan dengan salat. Lima kali sehari semalam. Setiap pekan di-charge dengan salat Jumat. Setiap tahun di-charge dengan puasa di bulan Ramadan. Dan charger selama hidup minimal satu kali, yaitu melaksanakan haji di Baitullah.

Setiap bulan Ramadan, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam selalu berhenti sejenak. Mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Kembali menyendiri untuk memberikan ruang hanya antara dirinya dan Allah. Rasulullah mengisi kembali baterai ketaatannya dengan iktikaf. Dalam riwayat Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radiyallâhu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam selalu melaksanakan iktikaf setiap bulan Ramadan selama sepuluh hari. Adapun di tahun saat Rasulullah akan meninggal dunia, beliau melaksanakan iktikaf selama dua puluh hari lamanya.

Berhenti sejenak dan mengasingkan diri dengan iktikaf justru menjadi penyempurna dari seluruh rangkaian ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadan. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-Ibâd yang menegaskan makna ini, “Di satu sisi, kemurnian dan keistiqamahan hati manusia dalam berhubungan dengan Allah membutuhkan totalitas. Sementara di sisi lain, makan dan minum yang berlebihan, bergaul melebihi batas, keasyikan ngobrol, tidur yang kebablasan, membuat hati kita galau. Sehingga bisa memutuskan hubungan dengan Allah. Atau minimal bisa menghambat, melemahkan, dan menghentikan hubungan hati dengan Sang Pemilik Hati. Maka Allah mensyariatkan puasa untuk membersihkan kelebihan makanan dan minuman yang mempengaruhi hubungan tersebut,” kata Ibnu al-Qayyim.

Ibnu al-Qayyim menambahkan, “Allah juga mensyariatkan iktikaf agar hati manusia selalu berrotasi dengan Allah. Tidak berhubungan dengan yang lain. Manusia hanya menjadikan Allah sebagai teman dan bukan makhluk lain. Sebab di alam kubur, manusia hanya mengharapkan Allah sebagai temannya dan bukan manusia. Inilah makna iktikaf yang sebenarnya. Karena makna ini baru bisa sempurna terejawantahkan dengan puasa, maka disunahkanlah iktikaf di hari-hari terbaik puasa. Yaitu di sepertiga terakhir bulan Ramadan,” tegas Ibnu Qayyim menutup penjelasannya tentang keutamaan iktikaf .

Iktikaf menjadi pelengkap totalitas hadiah puasa yang kita berikan kepada Allah di bulan Ramadan. Karena puasa dalam hadis qudsi hanya dihadiahkan untuk Allah, maka tidak sepantasnya bila hadiah itu hanya karena kita menahan lapar, dahaga, dan syahwat saja. Sedangkan waktu kita masih terbuang untuk dunia, istirahat kita berlebihan, hati masih terpaut dengan materi, fisik terforsir dengan hal-hal di luar ibadah. Tidak! Hadiah itu harus utuh. Lapar, dahaga, dan menahan syahwat, juga harus diiringi dengan mengasingkan diri dari dunia. Fokus mengisi waktu dengan beribadah. lari dari alam materi untuk kembali sepenuhnya kembali kepada Allah.

Inilah salah satu sebab Rasulullah tidak pernah meninggalkan iktikaf. Para istri beliau seperti yang disampaikan oleh ‘Âisyah radiyallâhu ‘anha juga melaksanakan iktikaf. Generasi salaf juga menunaikannya. Sehingga mereka heran, bila sunah iktikaf di bulan Ramadan tidak menjadi prioritas di sepuluh terakhir. Seperti komentar Imam az-Zuhri ketika ditanya tentang keutamaan iktikaf, “Saya heran melihat kecenderungan sebagian manusia yang tidak melaksanakan iktikaf. Padahal Rasulullah terkadang melaksanakan sesuatu dan meninggalkannya. Sementara iktikaf tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah sampai meninggal dunia.”

I’tikaf semakin menarik karena disunnahkan untuk dilakukan di 10 hari terakhir Ramadhan. Waktu munculnya malam paling agung dalam satu tahun penanggalan hijriah. Lailah al-Qadar atau malam al-Qadar. Malam yang secara khusus diturunkan Alquran di dalamnya. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman dalam surat Al-Qadar ayat 1 sampai 5:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ يْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ
سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada malam al-Qadar. Tahukah kamu apakah malam al-Qadar itu? Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.

Setidaknya ada lima pendapat para ahli tafsir mengenai makna al-Qadar. Pendapat pertama mengatakan bahwa kata al-Qadar berarti kedudukan. Lailah al-Qadar maksudnya sebuah malam yang memiliki kedudukan penting dibanding malam-malam yang lain. Kata al-Qadar juga bisa diartikan mulia atau agung. Berarti malam yang sangat istimewa. Malam yang punya kedudukan paling tinggi dari seluruh malam yang ada dalam waktu satu tahun. Malam yang paling mulia. Malam yang sangat kudus.

Keistimewaan malam itu membuat para malaikat termasuk Jibril turun ke muka bumi. Ibnu Katsîr mengatakan para malaikat turun di malam al-Qadar karena Allah mencurahkan keberkahan ke bumi di malam tersebut. Keberkahan yang tidak bertepi. Maka malaikat berhamburan turun ke bumi, karena malaikat selalu menyertai keberkahan dan rahmat Allah. Sama seperti malaikat yang menyertai pembaca Alquran. Atau ketika ada majelis zikir. Begitu pula keikutsertaan malaikat bersama dengan orang-orang yang menuntut ilmu. Semua karena keberkahan di dalamnya.

Makna kedua yang disampaikan oleh Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu. Menurutnya, di malam tersebut ditulis kembali di Lauh Mahfûdz apa yang akan terjadi dalam satu tahun setelah malam al-Qadar berselang. Semua hal ditulis kembali di malam itu. Mulai dari kebaikan, keburukan, rezeki, dan ajal manusia. Bahkan ditulis juga siapa yang akan melaksanakan ibadah haji dan tidak.

Bahkan menurut Ibnu ‘Abbâs, seseorang bisa sehat di malam tersebut, tapi di Lauh Mahfûdz telah tertulis waktu kematiannya di tahun setelah Lailah al-Qadar. Pendapat Ibnu ‘Abbâs ini didukung oleh ahli tafsir yang lain, seperti Imam al-Hasan, Qatâdah, dan Mujâhid dari kalangan tabiin. Pendapat ini sebagai hasil perenungan dari surat ad-Dukhan tentang malam al-Qadar. Di dalam ayat ke-3 dan 4 di surat tersebut, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman: “Sesungguhnya kami menurunkan Alquran pada malam yang diberkahi. Sungguh Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu diatur semua urusan yang penuh hikmah.”

Semua urusan manusia diatur kembali. Ini yang disebut “taqdîr sanawî”atau takdir tahunan manusia. Pendapat ketiga mengatakan bahwa malam itu menjadi penting karena amal yang dilakukan di dalamnya lebih baik dari amal yang dilakukan selama seribu bulan di luar malam al-Qadar. Berarti satu amal di malam itu setara dengan amal yang dilakukan kira-kira selama 83 tahun, 4 bulan, dan 10 hari tanpa henti.
Imam Mujâhid, seorang ahli tafsir mengatakan amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya, seperti puasa, sedekah, salat Tarawih, membaca Alquran, dan amal saleh lainnya, lebih baik dari seribu bulan di luar malam al-Qadar. Inilah rahasianya ketika Rasulullah menyamakan kualitas pahala salat Tarawih di malam al-Qadar dengan puasa selama 30 hari. Dalam riwayat al-Bukhâry dan Muslim, Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan salat Tarawih saat malam al-Qadar karena iman dan ingin mengharapkan pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Pendapat keempat yang disampaikan oleh Imam Al-‘Izz bin Abd as-Salâm dalam buku tafsirnya. Menurutnya, disebut al-Qadar karena Allah telah menentukan untuk menurunkan Alquran di malam tersebut.
Pendapat kelima adalah yang dipilih oleh Imam an-Nawâwy. Dalam kitab “al-Majmu’” disebutkan bahwa pendapat ini yang masyhur di kalangan ulama. Malam al-Qadar menurut Imam Nawawi adalah malam untuk menghukumi segala sesuatu di atas muka bumi ini.

Apapun yang disampaikan oleh para ulama tentang malam al-Qadar, semua mengerucut kepada waktu paling istimewa yang disediakan Allah di malam tersebut untuk beribadah. Waktu Istimewa itu adalah malam yang sangat agung dari malam yang lain. Karena keagungannya maka secara khusus kitab terakhir yang akan memandu manusia untuk mencapai kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat, kitab Alquran, diturunkan di malam itu. Maka seseorang yang melaksanakan ibadah di dalamnya sama dengan kualitas dan kuantitas pahala seorang yang melaksanakan ibadah selama seribu bulan. Setara kurang lebih dengan pahala ibadah tanpa henti, tanpa jeda, tanpa istirahat di setiap detiknya selama delapan puluh tiga tahun empat bulan dan sepuluh hari lamanya.

Diriwayatkan dari Imam Mâlik bahwasannya ia pernah mendengar seorang alim yang dapat dipercaya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelum umatnya. Rasul merasa umatnya tidak akan bisa mencapai jumlah amal umat lain. Karena umur yang lebih pendek dibanding umat lain. Maka Allah memberi Lailah al-Qadar, malam seribu bulan kepada umat Islam.”

Manusia di malam tersebut akan diatur kembali taqdirnya selama satu tahun ke depan. Semua urusannya akan diatur kembali oleh Allah. Maka akan tergambar seorang yang menghidupkan malam itu dengan ibadah. Mengisinya dengan zikir kepada Sang Khalik. Melaluinya dengan munajat ampunan dan permohonan maaf dengan berlinangan air mata. Mengoptimalkannya dengan membaca puluhan lembar Alquran. Menjaganya dengan peduli dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Mengutamakannya dengan menjadi wasilah hidayah Allah melalui lisan dan tulisan. Memanfaatkannya dengan tahajjud yang panjang dan penuh kehusyukan. Lalu menutupnya dengan doa-doa panjang untuk kebaikan diri, keluarga, saudara, teman seperjuangan dan umat Islam di berbagai belahan dunia.

Ia melakukan semua hal yang mendatangkan ridha Allah di malam itu. Saat seluruh malaikat yang turun ke bumi akan menjadi saksi. Malaikat Jibril akan menjadi saksi. Allah juga, Sang Pengatur Takdir Tahunan menjadi saksi atas semua etos ibadah dan ketaatan yang dilakukan. Maka insya Allah semua jenis kebaikan di dunia akan diberikan bagi orang yang melakukannya di malam al-Qadar.

Bila memang di malam lain kita tidak memiliki kesempatan beribadah dan beramal saleh, jangan sampai saat Lailah al-Qadar ibadah tergadaikan. Sebab dalam hadis riwayat an-Nasâi disebutkan, “Barangsiapa yang tidak mampu berbuat kebaikan di malam al-Qadar, maka sesungguhnya kebaikan telah tercabut dari diri orang tersebut.”

Iswan Kurnia Hasan

Baca Juga

Majelis Surga Di Tepi Neraka

Memaknai Kembali Ibadah Kita

Puncak Ibadah Horizontal

Ketua MPW PKS Sulteng Resmi Buka Rakerda DPD PKS Parigi Moutong

Tsiqah Terhadap Manhaj

TAGGED:Iswan Kurnia Hasan
Bagikan
Facebook Email Print

Ikuti Kami

Sosial Media PKS Sulteng
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow
Informasi Pilihan
AgendaAgenda DPPAgenda DPWKabar SultengPengumumanPublikasiUncategorized

Muswil PKS Sulteng Tanpa Manuver Politik

DPW PKS Sulteng
Selasa, 12 Agustus 2025
Gubernur Sulteng Curhat ke DPR RI soal Pembagian DBH Tambang, Fraksi PKS Soroti Kerusakan Lingkungan
Feature: Qurban adalah Ibadah Cinta, Bukan Kekerasan
Bipeka PKS Kota Palu Sasar Ibu dan Anak Disabilitas di Momentum Hari Ibu
Pelatihan Kader PKS: Meningkatkan Kapasitas Pemimpin Lokal
- Advertisement -
Ad imageAd image

Akses Cepat

  • Agenda
  • Pengumuman
  • Publikasi

DPW PKS Sulteng

Pranala
  • Contact Us
  • Blog Index
Menu Pilihan
  • Contact Us
  • Blog Index
Copyright © 2026 Website Resmi DPW PKS Sulawesi Tengah dikelola oleh Humas DPW PKS Sulteng.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?