Tulisan Ust Iswan KH
Menarik membahas branding terutama bagi kita aktivis dakwah dan yang mengelola partai dakwah yang selalu diminta menjadi partai pelopor. Apalagi sebentar lagi akan ada pemilihan di lingkungan internal kita. Memilih para pimpinan di tingkat wilayah dan daerah.
Terkadang, karena terbawa dengan “pewajahan” yang dibangun saat pilkada dan pileg, kita kemudian mewajahkan diri pula untuk pelaksanaan demokrasi internal. Pemilihan DPTW dan DPTD. Dengan maksud dan tujuan keterpilihan di pesta demokrasi internal. Lalu melakukan branding di habitat sendiri.
Dalam Alquran, Nabi Yusuf as. pernah membranding dirinya di hadapan penguasa Mesir yang saat itu menghadapi masalah yang sangat pelik. Ancaman kelaparan menghadang di depan mata. Nabi Yusuf as. lantas mengatakan:
قال اجعلني على خزائن الأرض إني حفيظ عليم
Artinya, “ia (Yusuf) berkata: jadikanlah aku pejabat yang mengelola sumber daya alam, sesungguhnya aku mempunyai kapasitas untuk menjaga amanat itu dan memiliki pengetahuan yang sangat memadai” (QS. Yusuf: 55).
Karena ayat ini, maka Imam Al-Qurthubi menjadikannya sebagai alasan untuk bisa melakukan branding terhadap diri. Termasuk branding terhadap partai dakwah kita.
دلت الآية أيضا على أنه يجوز للإنسان أن يصف نفسه بما فيه من علم وفضل
Artinya, “Ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia boleh membranding dirinya dengan kapasitas yang dimiliki seperti ilmu dan keistimewaan lainnya (secara jujur dan bertanggungjawab).
Branding yang akan kita lakukan memiliki beberapa batasan sehingga tidak akan terjerumus ke dalam riya yang diharamkan. Branding itu dilakukan dengan jujur sesuai dengan kapasitas, kapabilitas dan realitas yang ada dalam diri kita. Jangan menutupi kelemahan dengan branding dan jangan melebihkan di luar kapasitas.
Branding yang kita lakukan juga harus ada pertanggungjawabannya. Ketika kita mencitrakan diri, maka kita harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah terlebih dahulu, lalu kepada orang lain. Bahwa bila kita diminta melakukan sesuatu atas branding kita, maka kita mampu melakukannya dengan baik
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقالُ ذرة من كبر. قال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله حسنةً. قال: إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس (رواه مسلم).
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu”. Ada seorang yang bertanya: “Sesungguhnya setiap orang suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini termasuk sombong?). Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”
Kenapa branding harus diberikan batasan? Agar jangan sampai berlanjut kepada kesombongan, menganggap diri yang terbaik. Sehingga menutupi kebenaran dan merendahkan orang lain.
Itulah sebabnya para ulama dakwah lebih menitikberatkan branding itu diluar komunitas dakwah. Artinya kita melakukan branding di luar lingkungan dan habitat PKS. Kita bukan melakukan branding ke kader untuk meraih jabatan tertentu di dalam dakwah, tapi melakukan branding ke luar komunitas dakwah untuk mengokohkan dakwah dan mencari sebanyak-banyaknya orang yang mau bergabung dalam dakwah atau memilih partai dakwah kita.
Sementara di lingkungan internal maka kita tidak perlu branding, karena itulah jatidiri kita. Itulah diri kita sendiri. Tidak perlu branding untuk diri kita sendiri. Allah berfirman dalam surat An-Najm ayat 32:
ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”.
Allah mengingatkan jangan membranding diri dengan kesucian, ketakwaan. Karena Allah Yang Maha Mengetahui siapa yang paling takwa di antara kita.
Kiranya kisah antara Nuaiman ra. dan Suwaibith bin Harmalah ra. yang menemani perjalanan Abu Bakar ra. ke Syam menjadi ibrah bagi kita bagaimana suasana yang harus dibangun antara sesama aktivis dakwah. Penuh kejujuran, tidak ada yang ditutupi. Penuh ketulusan tanpa ada branding. Penuh keterbukaan dan penuh ukhuwwah. Tanpa menghilangkan canda di antara sesama mereka. Tanpa ada bumbu pencitraan. Hanya ada ukhuwwah yang mendalam.
Ketika disampaikan cerita Nuaiman yang bercanda kepada Suwaibith dengan menjual Suwaibith di pasar Syam karena mengatakan kepada orang bahwa Suwaibith seorang budak, padahal ia seorang yang merdeka, Rasulullah hanya tertawa karena mengetahui tingkah Nuaiman yang lucu.
Untuk habitat kita sendiri tidak perlu branding, tapi menjadi diri kita sendiri. Jujur sejujur-jujurnya. Seorang ulama dakwah pernah berpesan kepada kita dalam membangun muamalah diantara sesama aktivis dakwah dalam satu manhaj yang sama:
كن كالكتاب المفتوح لاخيك
“Jadikanlah dirimu seperti buku yang terbuka (yang bisa dibaca dari awal sampai akhir. Tidak ada yang disembunyikan) buat saudaramu”


