PALU – Wakil Ketua Majelis Syuro DPP PKS, KH. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Lc., menegaskan bahwa perjuangan dakwah melalui jalur politik merupakan bagian dari warisan para nabi yang bertujuan menegakkan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bi’tsatud Du’at PKS bersama pengurus DPTW PKS Sulawesi Tengah dan DPTD PKS se-Sulawesi Tengah, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00 hingga 16.00 Wita tersebut diikuti secara luring di Aula DPTW PKS Sulawesi Tengah dan secara daring melalui Zoom oleh peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah.
Dalam pemaparannya, KH. Aunur Rafiq menegaskan bahwa perjuangan dakwah tidak bergantung pada kekuatan duniawi semata, melainkan bertumpu pada pertolongan Allah SWT.
“Kita mungkin tidak memiliki backing seperti kekuatan dunia, tetapi backing kita jauh lebih besar, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dakwah ini adalah proyek milik Allah dan merupakan proyek para nabi,” ujarnya.
KH Aunur mengutip firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syura ayat 13 yang menjelaskan bahwa risalah untuk menegakkan agama telah diwasiatkan kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan kesinambungan misi dakwah yang diwariskan kepada seluruh nabi.
KH. Aunur Rafiq menjelaskan bahwa mayoritas nabi menghadapi penguasa pada zamannya dalam menyampaikan risalah. Nabi Ibrahim AS menghadapi Raja Namrud, sedangkan Nabi Musa AS diperintahkan menghadapi Fir’aun. Karena itu, menurutnya, dakwah yang menyentuh ranah kepemimpinan dan kebijakan publik merupakan bagian dari sejarah perjuangan para nabi.
“Ini adalah proyek warisan para nabi. Karena itu kita harus terus bersemangat. Ketika mengikuti jejak mereka, kita juga berharap memperoleh bimbingan, pertolongan, dan kemenangan dari Allah sebagaimana yang diberikan kepada para nabi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca sebagai sejarah, melainkan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan perjuangan dakwah di setiap zaman.
Menurutnya, perjuangan melalui jalur politik memiliki tantangan yang tidak ringan. Berbagai ujian, godaan, dan tekanan merupakan bagian dari sunnatullah yang telah dialami para nabi terdahulu. Karena itu, para pejuang dakwah dituntut memperkuat keimanan, bekal ilmu, serta kesiapan mental dalam menghadapi dinamika perjuangan.
“Semua kisah para nabi yang diceritakan Allah selalu berakhir dengan pertolongan-Nya. Yang perlu kita yakini adalah bahwa kita sedang melanjutkan proyek perjuangan yang diwariskan para nabi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Aunur Rafiq juga mengajak seluruh kader untuk menadabburi Surah Ali Imran ayat 146. Menurutnya, ayat tersebut memberikan dua pelajaran penting dalam membangun gerakan dakwah, yakni menjaga kualitas sekaligus memperkuat kuantitas kader.
Ia menjelaskan bahwa penyebutan kata wa ka’ayyin (betapa banyak) dan ribbiyyuna katsir (pengikut yang banyak dan berkualitas) menunjukkan pentingnya membangun jumlah kader yang besar tanpa mengabaikan kualitas keimanan, ilmu, dan karakter mereka.
“Nabi mencerminkan kualitas kepemimpinan. Para ribbiyyun juga menunjukkan kualitas pengikut yang rabbani. Namun Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya jumlah yang banyak. Artinya, dakwah membutuhkan kualitas sekaligus kuantitas kader,” jelasnya.
Melalui kegiatan Bi’tsatud Du’at tersebut, para peserta diharapkan memperoleh penguatan ruhiyah, wawasan keislaman, serta motivasi untuk terus mengembangkan dakwah di berbagai lini kehidupan, termasuk melalui kontribusi dalam ruang sosial, kemasyarakatan, dan politik sebagai bagian dari ikhtiar menegakkan nilai-nilai Islam secara damai dan konstitusional.(iyan)


