Tulisan H. Iswan Kurnia Hasan, Lc, MA
(Ketua MPW PKS Sulawesi Tengah)
Ketika seseorang meninggal dunia secara tiba-tiba, biasanya banyak tanggapan yang berkembang. Baik secara offline maupun online. Setelah menyampaikan bela sungkawa dan mendoakan almarhum atau almarhumah, mulai ditanyakan sebab-musabab. Apakah ada riwayat penyakit kronis? Apakah salah mengkonsumsi sesuatu? Apakah ada pantangan dokter yang dilanggar? Apakah tidak minum obat yang seharusnya dikonsumsi rutin tiap hari? Apakah karena sebab klinis atau non klinis?
Komentar kemudian berkembang ke arah proteksi dan pencegahan yang bisa dilakukan untuk menghindari kejadian serupa. Mumpung masih hidup, masih banyak langkah yang bisa dilakukan. Pembahasan tentang pola hidup sehat mulai dikupas. Banyak saran diberikan untuk menjaga kualitas fisik dan mental. Berbagai parameter kebugaran dibahas di jejaring. Mulai dari olahraga yang harus terjadwal dengan baik, mengatur dan mengelola makanan yang diasup tubuh, menjaga kualitas dan kuantitas istirahat normal manusia, menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol, sampai mengelola stres dengan healing dan ibadah.
Semua opsi diberikan untuk menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. Sebagai ikhtiar dan sarana penunjang. Tidak lupa saran untuk kontrol dan cek kesehatan berkala ke dokter. Sehingga bisa memiliki umur yang panjang, bisa aktif berdakwah di semua lini, dan bisa produktif menjalankan peran sebagai khalifah di atas muka bumi. Bukankah Rasulullah juga menyampaikan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya?”
Tidak ada salahnya memang untuk mengambil ibrah dari dimensi dunia. Namun pernahkah dibahas ibrah yang bisa diambil berdasarkan sudut pandang dimensi lain? Dimensi akhirat? Hikmah dari seorang yang meninggal dunia tidak hanya digunakan untuk menjaga kehidupan di atas muka bumi ini. Namun yang lebih utama adalah menyiapkan bekal amal dan ibadah untuk menjalani episode kehidupan selanjutnya di akhirat. Kehidupan yang abadi dan tidak fana.
Pernahkah terbayang posisi kita yang ditakdirkan menjadi jenazah? Kita yang didesainkan ucapan belasungkawa lalu diedarkan di media sosial? Kita yang dimandikan, disalatkan dan diantar memakai mobil jenazah ke pemakaman? Kita yang dikubur di dalam tanah? Kita yang diiringi isak tangis keluarga dan teman terdekat? Kita yang didoakan oleh orang-orang yang masih hidup karena telah meninggal? Kita yang telah terbujur kaku memakai kain kafan? Kita yang tidak lagi memiliki kesempatan, daya dan upaya? Kita yang tidak mampu untuk beribadah walaupun sepersekian detik? Tidak lagi mampu berzikir walaupun hanya menyebut satu kalimat istighfar?
Mungkin sebelumnya masih ditemani oleh istri dan anak tercinta. Kini sendirian di dalam tanah. Sebelumnya hidup nyaman di rumah, terhindar dari sengatan matahari dan derasnya hujan. Kini beratapkan tanah di atas, beralaskan tanah di bawah, terbentur dinding tanah dari segala sudut. Sebelumnya bisa menikmati makanan dan minuman sepuas hati. kini hanya ditemani oleh ulat dan binatang tanah lainnya. Sebelumnya bisa mengandalkan jabatan, harta atau orang dekat. Kini hanya mengharapkan semua amal baik yang pernah dilakukan. Sebelumnya begitu banyak opsi yang bisa dipilih dalam hidup. Kini hanya akan menjalani dua taqdir. Apakah akan merasakan taman surga yang indah? Kuburan menjadi luas seperti cakrawala sepanjang mata memandang? Dipenuhi dengan semua kenikmatan? Atau justru berbalik 180 derajat? Tempat peristirahatan terakhir menjadi lobang-lobang neraka?
Apakah akan menjadi orang yang bahagia dalam keabadian? Atau mendapatkan sengsara berkepanjangan? “Timbangan pada hari itu menjadi ukuran kebenaran. Siapa yang berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang yang beruntung. Siapa yang ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami” (QS. al-A’raf: 8-9).
Dalam beberapa rujukan, disebutkan khutbah terakhir yang disampaikan oleh Umar bin Abdul Azis sebelum meninggal dunia. Khutbah yang mengingatkan fakta kematian yang tidak bisa dihindari manusia. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya “al-Bidâyah wa an-Nihâyah”, juga dalam kitab tafsirnya, “Tafsîr al-Qurân al-Adzîm”. Ibnu Qutaibah dalam bukunya “Uyûn al-Akhbâr” juga menyebutkannya. Juga disebut dalam kitab “Târîkh Dimasyq” yang dikarang Ibnu Asakir dan kitab “Zuhd” yang ditulis oleh Ibnu Abi ad-Dunya. Dari Sa’id bin Ibnu al-Ash, ia meriwayatkan isi khutbah tersebut. “Setelah mengucapkan syukur kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Umar bin Abdul Azis lalu berkhutbah, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk main-main dan sia-sia belaka. Sesungguhnya kalian memiliki tempat kembali. Dimana Allah akan memutuskan perkara kalian dan menetapkan hukumNya. Alangkah rugi dan celaka seorang hamba yang dikeluarkan dari rahmatNya. Lalu diharamkan memasuki surgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi”.
“Ketahuilah, seorang yang aman dari azab Allah di akhirat, adalah yang takut kepadaNya saat di dunia. Seorang yang menjual sedikit dari dunia untuk membeli kenikmatan yang berlimpah di akhirat. Seorang yang menukar kefanaan dunia dengan kekekalan akhirat. Tidakkah kalian perhatikan bahwa kalian berasal dari air mani tulang sulbi orang-orang yang telah binasa? lalu kelak ada yang menggantikan kalian dari yang masih hidup? Demikian terus berlanjut kehidupan sampai kalian juga dikembalikan kepada Allah” Lanjut Umar.
“Setiap pagi dan petang, kalian mengantarkan jenazah menghadap Allah, karena telah habis waktunya dan menemui ajalnya. Kalian menguburkannya ke dalam tanah yang berbeda dengan tempat sebelumnya. Lalu kalian meninggalkannya tanpa bantal dan kasur yang empuk. Telah selesai semua urusannya di dunia. Telah berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Tiba saatnya ia menghadapi hisab akhirat. Ia hanya akan mengandalkan amalnya” Tegas Umar.
Di akhir khutbahnya beliau kemudian mengingatkan, “Karena itu bertakwalah kepada Allah, hai hamba-hamba Allah, sebelum usia habis dan maut datang merenggut nyawa.” Lalu Umar Ibnu Abdul Aziz mengusap air matanya dengan ujung kain sorbannya. Ia menangis, dan orang-orang yang ada di sekitarnya ikut menangis pula. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa khutbah ini disampaikan di masjid ‘Umayyah Damaskus. Sejak khutbah ini disampaikan, Umar bin Abdul Azis tidak pernah lagi khutbah sampai meninggal dunia.
Semua yang bernyawa pasti akan mati. Semua yang memiliki asal pasti akan kembali. Semua manusia yang diciptakan dari tanah akan kembali berkalang tanah. Semua hamba suatu saat akan kembali menghadap Allah. Semua yang dihidupkan juga akan dibinasakan. Kematian adalah realita yang akan dijalani oleh semua makhluk hidup. Tanpa terkecuali. Manusia tidak bisa lari dari maut. Itu taqdir yang berlaku di alam semesta. Manusia hanya bisa berikhtiar untuk menjalani saat sebelum kematian. Apakah akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, sebelum bertemu dengan malaikat pencabut nyawa? Membawa bekal ibadah dan amal untuk menjalani kehidupan yang abadi setelah alam dunia? Atau tetap terlena dengan kefanaan dunia yang terus menggoda?
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad, dari sahabat Hudzaifah bin Yaman radiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya, niscaya akan tetap putih. Sehingga hati menjadi dua: Hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin. Tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Dan hati yang terkena bercak hitam, lalu sedikit demi sedikit akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup. Tidak lagi mengenal yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Ia hanya mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya”.
Realita kematian bukan harus dihindari. Namun dihadapi dengan sebaik-baiknya. Bukan harus diingkari. Tapi dipersiapkan semua bekal yang harus dibawa. Bukan juga hanya diamini. Lalu kembali berkubang dengan dunia dan lupa akhirat. Kematian adalah sebuah perjalanan panjang. Oleh karena itu Allah meminta manusia untuk menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 197
:اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Artinya: “(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepadaKu wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat”.
Lalu bekal takwa seperti apa yang harus disiapkan? Dalam kitab “adz-Dzail wa at-Takmilah li Kitâbay al-Maushûl wa ash-Shilah” yang dikarang Ibnu Abdul Malik al-Marrakuchi, seorang sejarawan, sastrawan, penulis biografi dan hakim yang berasal dari Maroko, disebutkan kisah Maimun bin Ali bin Abdul Khalik ash-Shanhajiy, seorang sastrawan dan sufi yang setelah melaksanakan haji, ia kemudian membuat janji dalam hatinya dengan Allah. Janji tersebut mengharuskan semua ikhtiarnya, hartanya, diam dan geraknya, seluruh hidupnya di atas muka baumi hanya untuk mencari ridha Allah semata. Setidaknya ini gambaran bekal sederhana untuk menjalani kehidupan akhirat.
Ash-Shanhajy menyatakan, “Inilah yang telah dibeli oleh Dzat Yang Maha Lembut dan Agung dari seorang hamba hina bernama Maimun bin Ali. Allah telah membeli sebuah rumah bernama hati secara utuh tanpa pengecualian. Dihuni oleh cinta, keikhlasan dan kasih sayang untukNya. Ukuran rumah searah kiblat adalah melaksanakan perintah. Dari timur mentaati syariat. Dari dalam rumah menerima Ahlussunah wal Jamaah. Dari barat murâqabah (merasa selalu diawasi Allah) di setiap tempat dan waktu.
Allah juga telah membeli semua perangkat yang terkait dengan rumah. Membeli tangan, kaki, mata, telinga, hidung, mulut dengan pembelian yang sah dan sempurna. Tanpa syarat dan pilihan. Diserahterimakan secara langsung. Tanpa menyisakan sedikit pun keinginan nafsu atau kepentingan pribadi. Dengan harga berupa bimbingan Allah dan kehendakNya, baik yang disegerakan maupun yang ditangguhkan. Kehendak disegerakan yang dipinta adalah pertolongan untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, perlindungan dari setiap godaan, pujian atas semua nikmat. Sementara yang ditangguhkan adalah kemenangan mendapatkan surga, kehidupan bahagia yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di hati manusia. Kenikmatan abadi dan kebahagiaan hakiki selamanya.
Sang Hamba telah menyerahkan barang yang dijual secara utuh. Ia berlepas dari kepemilikan. Tidak akan membantah sedikitpun apa yang akan diperintahkan oleh pembeli. Sang pembeli, yaitu Allah bebas melakukan apapun sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada yang tersembunyi dari barang yang telah dibelinya. Walaupun sang Hamba telah menyerahkan yang dijual, sang Pembeli tetap bermurah hati kepadanya. Dia memberinya hak untuk menempati selama hidupnya dan tinggal di dalamnya sampai kematian menjelang.
Lalu Sang Pembeli memerintahkan sang Hamba untuk mengabdi di rumah tersebut. Pengabdian untuk mendekatkan diri kepadaNya. Menghiasi rumah dengan tanaman keihklasan. Menghilangkan duri keraguan dari pokoknya. Membersihkan tanahnya dari batu keangkuhan dan kegelisahan. Mencabut darinya gulma kedengkian, kebencian, kesombongan, kecurangan, dan tipu daya. Memotong cabangnya yang tidak bermanfaat dengan membatasi pikiran. Menata pangkalnya dengan zuhud dan wara’. Memangkas ranting kecenderungan pada noda, kotoran dan kekeruhan syahwat. Mencangkoknya dengan pengorbanan dan mendahulukan orang lain. Menyiramnya dengan mata air tawakal. Memberinya pupuk keikhlasan. Merawatnya dengan kemaslahatan. Menjaganya agar tidak kering dengan kesetiaan. Hingga, insya Allah, keindahannya mulai tampak dan buahnya semakin berlimpah.
Sang hamba juga mengetahui bahwa di luar rumah ada ancaman yang akan menghancurkan rumah dan semua tanamannya. Merusak kebun indah di sekitaran rumah. Diatur nafsu yang memiliki banyak keinginan dan cenderung pada dunia yang sementara. Diwakili oleh birahi. Dibantu dengan kebanggaan diri. Dikomando dengan persaingan dunia. Diawasi keinginan memperbanyak harta dan pengikut. Dan dipimpin oleh amarah.
Maka hamba memohon kepada Pembelinya pasukan tekad yang kuat, ksatria keteguhan hati, pahlawan Taufik Ilahi, dan barisan resimen kebenaran. Ia memohon dikirim tentara kesabaran, petarung kemenangan, yang mengenakan baju besi zikir, menunggangi kuda-kuda kebahagiaan, berlomba di arena ujian, dengan bantuan panji-panji ilmu, sambil bertahan di benteng kesabaran.
Semua dilakukan agar ketajaman nafsu meredup, tipu dayanya hilang, hancur dalam perang. Nafsu itu akhirnya menyerahkan diri secara paksa dan terpaksa. Bersaksi bahwa ia telah membatalkan semua klaim, serta tunduk di bawah kepatuhan terhadap perintah-perintah Ilahi, dan pasrah pada takdirNya.
Hamba tersebut memohon kepada Pembelinya dengan permohonan yang khusyuk, meminta dengan penuh kekurangan seperti orang fakir, agar memberikan anugrah kepadanya, menghiasi ilmu dan amalnya dengan keikhlasan, dan merealisasikan baginya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia memohon ampunan layaknya orang yang berharap dengan prasangka baik dan amal saleh. Sehingga ia masuk dalam Rahmat Ilahiyah, akrab dengan Tuhannya, suci dari keburukan, mulia dari rendahnya dunia, dan membumikan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang diridhai, sambil berseru, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Lalu masuklah ke dalam golongan hamba yang telah diridhai dan masuklah ke dalam surga” (QS. al-Fajr: 27-28).


