Dengan menggunakan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Ketentuan Penggunaan.
Accept
DPW PKS SultengDPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
Notification Show More
Font ResizerAa
  • DPW PKS
    • SEJARAH
    • VISI MISI
  • BERITA & INFORMASI
    • KABAR SULTENG
    • FOTO BERITA
    • PRESS RELEASE
  • TOPIK PILIHAN
    • HIKMAH
    • CATATAN ANGGOTA
Reading: Anak Biologis Non Ideologis
Bagikan
Font ResizerAa
DPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
  • DPW PKS
  • BERITA & INFORMASI
  • TOPIK PILIHAN
Search
  • Home
    • Beranda
  • Categories
    • Publikasi
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Beranda » Blog » Anak Biologis Non Ideologis
Hikmah

Anak Biologis Non Ideologis

Diperbarui Senin, 6 Oktober 2025 8:27 am
DPW PKS Sulteng
Diterbitkan Senin, 6 Oktober 2025
Bagikan
Bagikan

Ketika sesama aktivis dakwah bertemu dalam sebuah jenjang pernikahan, ada target besar yang diidamkan. Yaitu melahirkan generasi dakwah yang akan melanjutkan estafeta perjuangan. Tangga pertama untuk membangun kesalihan pribadi, beranjak menuju tangga selanjutnya yaitu membangun kesalihan keluarga. Seorang pria yang salih sebagai suami dan seorang wanita yang salihah sebagai istri, secara otomatis akan merindukan kelahiran anak-anak yang salih dan salihah.

Namun realitas kehidupan kadang tidak berjalan sesuai dengan idealisme. Suami dan istri yang aktivis bisa melahirkan generasi non aktivis. Bukan hanya manusia biasa saja yang mengalaminya. Bahkan keluarga nubuwwah yang langsung mendapatkan bimbingan wahyu dari Allah juga pernah melahirkan generasi maksiat dan berpaling dari risalah. Walaupun dipimpin oleh seorang Nabi yang jelas terbukti shiddîq, amânah, tablîgh dan fathânahnya.

Dalam Alquran, Allah menceritakan detik-detik terakhir komunikasi antara Nabi Nuh alaihissalâm dengan sang anak yang durhaka. Ayah yang seorang Nabi, berkomunikasi dengan sang anak yang kafir. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman dalam surat Hud ayat 42:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.

Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan sebuah hadis yang menyebutkan anak-anak nabi Nuh. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Samrah, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Anaknya Nuh ada tiga, Sâm bapak orang Arab (melahirkan ras semit), Hâm bapak orang Afrika (melahirkan ras Afrika) dan Yâfits bapak orang Turki (melahirkan ras Eropa).

Lalu siapa yang durhaka dari tiga anak ini? Imam Al-baidhawiy dalam kitab “Anwâr at-Tanzîl” menyatakan bawa nabi Nuh memiliki dua orang istri. Istri pertama bernama Wâ’ilah yang melahirkan Kan’ân. Keduanya tidak beriman kepada Nabi Nuh dan termasuk di antara orang-orang yang ditenggelamkan. Istri kedua seorang yang beriman dan melahirkan tiga orang anak yang juga beriman, yaitu Sâm, Hâm dan Yâfits. Ketiganya termasuk di antara 79 orang yang naik bahtera dan selamat.

Pendapat bahwa Kan’ân yang menjadi anak durhaka juga diikuti oleh mayoritas ahli tafsir. Sekalipun ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dalam Alquran adalah Yâm, anak keempat nabi Nuh.

Kan’an sebagaimana disebutkan Imam al-Baidhawiy lahir dari seorang ibu yang tidak beriman. Alquran juga menyebutkan istri Nabi Nuh yang tidak beriman ini. Dalam Surat At-Tahrim ayat 10 disebutkan, “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nabi Nuh dan Nabi Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang salih di antara hamba-hamba Kami. Lalu keduanya berkhianat kepada kedua suaminya. Kedua suaminya itu tidak dapat membantu kedua istrinya dari siksa Allah. lalu dikatakan kepada dua istri itu, “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

Kan’ân tumbuh dewasa dalam kondisi tidak beriman. Durhaka kepada ayahnya seorang Nabi. Pengaruh sang Ibu yang kafir kepadanya lebih kuat dibanding sang Ayah. Sehingga ia memilih bergabung dalam barisan orang kafir dibanding mengikuti risalah kenabian. Dalam tafsir Al-Qurthubiy disebutkan bahwa Nabi Nuh selama berdakwah tidak mengetahui kalau anaknya juga bergabung dengan orang-orang kafir. Oleh karena itu, diujung ayat Nabi Nuh yang mengira anaknya masih beriman, mengatakan kepada anaknya, “Dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”.

Kondisi psikologis Nabi Nuh yang akan akan kehilangan seorang anaknya yang durhaka juga diabadikan Alquran. Nabi Nuh mengajak anaknya anaknya naik ke atas kapal dengan ungkapan:

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا

Dalam ayat ini ada hukum tajwid yang disebut dengan Idghâm Mutaqhâribain atau pertemuan dua huruf yang berdekatan makhraj dan sifatnya. Huruf yang pertama sukun dan huruf yang kedua berharakat. Kemudian saat dibaca menjadi satu huruf yang sama. Mengikuti sifat, makhraj huruf yang kedua dan harakatnya. Pertemuan terjadi antara huruf bâ yang sukun dengan huruf mîm yang berharakat fathah. Cara membacanya adalah dengan idghâm kâmil atau memasukkan dengan sempurna huruf bâ yang sukun ke dalam huruf mîm yang berharakat dan dibaca dengan harakat huruf mîm. Seakan tidak ada huruf bâ yang sukun setelah huruf kâf.

Hilangnya huruf bâ saat dibaca, menggambarkan suasana hati Nabi Nuh melihat anaknya yang akan tenggelam dari atas bahtera. Ia tetap memanggil sambil menangis karena mengetahui anaknya akan tenggelam. Karena sedih, suaranya tidak jelas. Kata yang keluar dari mulut bercampur dengan tangisan. Sehingga huruf bâ hilang dan menjadi huruf mîm. Sama seperti kita saat berkata sambil menangis. Huruf yang keluar dari mulut menjadi tidak jelas. Bercampur aduk karena suasana hati yang sedih.

Masya Allah, betapa luar biasa Alquran yang mengabadikan suasana hati seorang ayah salih yang akan segera berpisah dengan anaknya yang durhaka. Kasih sayang ayah yang sampai akhir hayat tetap berusaha memanggil sang anak naik ke bahtera. Sekalipun semakin lama suara panggilannya semakin tidak jelas karena sedih akan kehilangan sang anak. Sementara sang anak durhaka tetap abai terhadap panggilan ketaatan sang ayah. Enggan untuk beriman di akhir hayatnya. Memilih untuk bergabung dengan orang-orang kafir, sekalipun air bah segera menerjang di depan mata.

Kisah nabi Nuh mengajarkan beberapa ibrah yang bisa dipetik bagi seseorang yang ingin membangun pondasi dakwah dalam berkeluarga. Pemilihan pasangan yang sefikrah dan seharakah menjadi penting. Karena seorang suami bukan menjadi faktor utama lahirnya sebuah keluarga dakwah. Istri justru dalam beberapa hal lebih memiliki pengaruh kepada anak-anak. Sebuah syair Arab yang digubah oleh Hafidz Ibrahim pernah menyatakan kekuatan pengaruh istri, “Ibu adalah madrasah pertama (pencetak generasi). Bila engkau mendidik (seorang ibu) dengan baik, maka engkau akan mampu menciptakan generasi yang baik budi pekertinya”.

Lalu setelah mendapatkan istri yang salihah kemudian terjadi paradoks dalam keluarga. Tidak berjalan sesuai dengan idealism. Ketika buah hati justru tidak jatuh tepat di bawah pohonnya, tapi menjauh ke pohon yang lain. Ketika orangtua yang merupakan aktivis dakwah sebagai pohon tidak bisa melahirkan seorang anak sebagai generasi dakwah selanjutnya, cerita Nabi Nuh dengan anaknya yang durhaka juga bisa menjadi contoh.

Allah menyebutkan kisah anaknya Nabi Nuh yang durhaka justru di saat-saat akhir kehidupannya. Ketika pintu taubat buat sang anak sudah tertutup. Ketika hidayah Allah tidak lagi diberikan. Ketika kesempatan tauhid hilang di saat nafas yang terakhir keluar dari jasad. Ketika kafir terbawa sampai akhir hayat.

Bukan saat kehidupan masih berjalan. Saat ajal belum datang menjelang. Saat sang anak yang tidak taat masih memiliki kesempatan untuk bertaubat. Masih sangat potensial untuk mendapatkan hidayah Allah. Nabi Nuh tetap mencurahkan kasih sayang kepada anaknya yang durhaka sampai detik terakhir. Kasih sayang yang terabadikan dalam Alquran.

Terkadang, karena kekecewaan dari orangtua yang tidak bisa meneruskan risalah dakwah kepada anaknya. Atau karena malu kepada lingkungan sosial sesama aktivis. Seakan taqdir sang buah hati yang tidak sejalan dengan abi dan uminya sudah selesai. Seakan sang anak telah mendapatkan “cap” bukan anak dakwah sampai akhir hayat. Padahal proses kehidupan belum selesai. Sehingga kewajiban untuk menyayangi dan mencintai sang buah hati tergerus menjadi benci.

Padahal, banyak para sahabat yang sebelumnya kafir mendapatkan hidayah di akhir hidupnya, dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Berapa banyak para ulama di sepanjang sejarah Islam yang lahir dan besar dalam sebuah lingkungan yang penuh maksiat. Saat dewasa justru menjadi orang yang mampu menjadi wasilah hidayah Islam buat orang lain karena ilmunya, karena keagungan akhlaknya, karena kedekatannya dengan Allah, karena amalannya yang mengikuti sunah Rasul. Sebutlah sosok sahabat Abu Dzar Al-Ghiffary yang sebelumnya penyamun. Dan tinggal di sarang penyamun Arab. Atau seorang tabi’in seperti Fudhail bin Iyadh yang sebelumnya dikenal sebagai perampok.

Maka ketika anak biologis belum juga menjadi anak ideologis. Ketika buah jatuh tidak di bawah pohonnya dan menjauh ke pohon yang lain. Tugas orangtua adalah tetap memberikan sayang dan cintanya kepada sang buah hati. Sampai akhir hayat sang anak. Seperti Nabi Nuh. Terus mengajaknya, memberikan lingkungan yang terindah baginya, memberikan contoh yang terbaik kepadanya, menasehatinya tanpa pernah putus. Sehingga menjadi anak ideologis. Atau minimal menghormati fikrah orangtuanya. Sama seperti Nabi Nuh yang tetap memanggil sang anak yang jelas durhaka. Untuk bergabung ke dalam bahtera. Bersatu bersama orang-orang yang beriman.

Baca Juga

Upa Di Surga

Memilih Surga Kita Sendiri

Militansi Hasil Kaderisasi

Bekal Menuju Perjalanan Panjang

Iswan Kurnia Hasan: Abah dan Bunda, Jangan Ragu Dengan Komitmen PKS!

TAGGED:Iswan Kurnia Hasan
Bagikan
Facebook Email Print

Ikuti Kami

Sosial Media PKS Sulteng
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow
Informasi Pilihan
Kabar Sulteng

Wahyuddin Tekankan Data Saksi Harus Lebih Rapi

DPW PKS Sulteng
Selasa, 9 Januari 2024
Rapat Koordinasi Internal DPW PKS Sulawesi Tengah
Ketua Fraksi PKS DPRD Poso Tutup Turnamen Bulutangkis SMAN 4 Poso
Masih Tentang hari Ibu, Ketua Bipeka DPW PKS Sulteng Salurkan Bantuan untuk Delapan Ibu Aromil
Gen-Z yg tukang protes ini jadi pengurus partai? Bagaimana ceritanya?
- Advertisement -
Ad imageAd image

Akses Cepat

  • Agenda
  • Pengumuman
  • Publikasi

DPW PKS Sulteng

"Wadah Informasi, Aspirasi, dan Komunikasi untuk Masyarakat Sulawesi Tengah"
Pranala
  • Contact Us
  • Blog Index
Menu Pilihan
  • Contact Us
  • Blog Index
Copyright © 2026 Website Resmi DPW PKS Sulawesi Tengah dikelola oleh Humas DPW PKS Sulteng.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?