Selain memiliki lisan yang paling fasih, tutur kata yang paling santun, retorika yang paling efektif, bahasa tubuh yang paling ramah, gaya bahasa yang paling teratur, intonasi yang paling menarik, sebagai modal utama untuk menyampaikan risalah kepada seluruh manusia, Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga memiliki kekuatan narasi dalam berkomunikasi.
Kekuatan narasi ini disebut dalam sebuah hadis dengan “Jawâmi’ al-Kalim”. Salah satu keistimewaan yang diberikan Allah secara khusus kepada Rasulullah. Hal ini yang membedakan antara Rasulullah dengan para nabi dan rasul lainnya. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “aku diberi kelebihan dari nabi yang lain dengan enam hal: Aku diberi jawami’ al-kalim; aku diberi kemenangan duluan dalam bentuk rasa takut musuh; harta rampasan perang dihalalkan untukku; tanah bisa digunakan sebagai alat bersuci dan tempat salat; aku diutus kepada seluruh manusia dan penutup para Nabi dan Rasul”.
Imam al-Mannawiy dalam kitab “Faidh al-Qhadîr” menyebutkan bahwa Jawâmi’ al-Kalim adalah kemampuan bahasa seseorang saat berkomunikasi dalam bentuk menyederhanakan kata saat menyampaikan sesuatu, namun mengandung makna yang sangat luas. Dengan kalimat lugas dan jelas, dan langsung bisa dipahami. Tanpa memerlukan pemikiran panjang atau mengolah otak.
Kekuatan narasi ini menjadikan Rasulullah mampu berkomunikasi dengan semua pihak tanpa terkecuali. Tanpa ada hambatan komunikasi sama sekali. Baik kasta paling rendah manusia maupun kasta tertingginya. Dengan menggunakan bahasa sederhana, hemat, dan tidak membutuhkan penjelasan yang panjang. Namun mudah dipahami oleh lawan bicaranya. Kata-kata yang disampaikan sekalipun sederhana, tapi sangat jelas dan padat makna.
Imam al-‘Izz bin Abd as-Salam pernah mengatakan bahwa diantara keistimewaan yang diberikan Allah kepada Rasulullah adalah diberikan anugrah berkomunikasi secara efektif dan efisien. Kata yang disampaikan beliau sangat padat makna. Beliau mampu menyampaikan sesuatu yang besar dengan kalimat ringkas dan sederhana. Rasulullah juga seorang yang paling fasih berbahasa Arab dari seluruh orang Arab yang pernah hidup.
Kekuatan narasi Rasulullah tersebut menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambaliy terangkum dalam dua hal. Pertama, sesuatu yang ada di dalam Alquran, sebagai kalam Allah yang diturunkan ke atas muka bumi. Alquran juga disebut mukjizat sastra, karena tidak ada seorangpun yang bisa menandingi struktur bahasa Alquran. Bahkan para penyair kondang Arab yang terpilih tidak mampu membuat susunan kalimat seperti yang ada di Alquran. Kedua, apa yang disampaikan oleh Rasulullah lewat lisan. Sebagaimana tersebar dalam buku-buku hadis.
Para ulama juga berusaha mengikuti Rasulullah untuk menyampaikan Jawâmi’ al-Kalim saat berkomunikasi dengan umat. Atau saat membuat karya dalam bentuk tulisan. Sebagai contoh kitab “Matn al-Ghâyah wa at-Taqrîb” atau biasa dikenal dengan nama “Matn Abi Syujâ’” yang dikarang oleh Imam Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ishfahaniy. Buku ini meringkas semua pembahasan Fikih Mazhab Syafi’i yang ada di puluhan, bahkan ratusan buku yang dikarang oleh ulama, murid dan pengikut Imam Syafi’i, dalam satu buku saja. Pembahasan fikih yang rumit, detail, dan panjang, mampu ditulis secara ringkas dan sistematis. Dengan bahasa yang lugas dan tematis.
Contoh lain penerapan Jawâmi’ al-Kalim yang dilakukan oleh para ulama adalah apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hambal. Menurut beliau pokok ajaran Islam kalau disederhanakan dan diringkas, maka terangkum dalam tiga hadis saja. Hadis pertama adalah hadis yang menyampaikan tentang keutamaan niat. “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya” (HR. Bukhari). Hadis kedua yang melarang bid’ah. “Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru, bukan merupakan ajaran Islam, maka tertolak” (HR. Bukhari). Dan hadis terakhir, yang menjelaskan tentang halal dan haram dalam Islam. “Sesuatu yang halal sudah dijelaskan dan sesuatu yang haram juga sudah dijelaskan” (HR. Bukhari).
Sebagai mukjizat sastra, secara otomatis Alquran mengandung Jawâmi’ al-Kalim. Sebagaimana yang disebutkan Ibnu Rajab al-Hambaliy. Itulah sebabnya, Alquran hanya mengandung 6666 ayat saja, tapi mampu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, seirama dengan keanekaragaman budaya manusia, selaras dengan tumbuh kembang manusia, sejalan dengan semua tempat kediaman manusia, sepakat dengan semua strata manusia, dan sesuai dengan semua waktu yang dijalani manusia sampai hari kiamat.
Salah satu ayat yang mencerminkan Jawâmi’ al-Kalim tersebut adalah firman Allah dalam surat al-A’la ayat 14 sd 19. Ayat-ayat ini meringkas dan menyederhanakan konsepsi risalah dan aksioma tujuan hidup manusia selama berabad-abad lamanya. Sejak manusia pertama mendiami bumi, sampai manusia terakhir yang hidup di hari kiamat. Dengan kalimat sederhana, ringkas, lugas, mudah dipahami, namun sangat padat makna.
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ إِنَّ هَٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ
Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan mengingat nama Tuhannya lalu ia melaksanakan salat. Tapi kamu (orang-orang kafir) lebih mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan di akhirat nanti lebih baik dan lebih kekal. Sungguh ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu. (Yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa”.
Jawâmi’ al-Kalim dalam ayat-ayat di atas adalah menyederhanakan konsepsi risalah yang telah diturunkan kepada 124.000 orang Nabi dan 315 Rasul selama berabad-abad lamanya. Meringkas isi risalah yang termaktub dalam semua kitab dan lembaran wahyu. Merangkum tugas utama manusia dalam hidup yang tidak akan berubah sampai hari kiamat.
Enam ayat diatas adalah mainstream utama yang ada dalam setiap wahyu yang diturunkan. Semua Nabi dan Rasul menerimanya. Mulai dar nabi Adam ‘alahi salâm sebagai nabi pertama. Lalu dalam bentuk Taurat kepada Nabi Musa ‘alahi salâm. Termaktub di dalamnya pedoman tersebut. Sampai akhirnya bermuara kepada risalah terakhir yang diberikan kepada Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Kenapa selalu ada dalam wahyu-wahyu yang diturunkan Allah? Karena merupakan pedoman yang menjadi sumber kebahagiaan sejati semua manusia sepanjang zaman. Pedoman tersebut telah membahagiakan Ibrahim ‘alahi salâm. Walaupun ia pernah dibakar hidup-hidup oleh Namrud. Pernah tidak memiliki keturunan bertahun-tahun. Pernah terpisah dengan istri dan anak yang baru dilahirkan.
Pedoman itu kemudian ditransfer Ibrahim ‘alaihi as-salâm kepada umatnya dan terus dibawa melalui dua jalur kenabian. Jalur nabi Ismail ‘alaihi as-salâm yang melahirkan para nabi dari bani Ismail. Dan jalur nabi Ishak yang melahirkan keturunan nabi dari kalangan bani Israil. Semua berbahagia karena melaksanakannya dalam hidup mereka.
Pedoman yang juga pernah membahagiakan nabi Musa dalam keterasingan karena melarikan diri dari Mesir. Sekalipun kehidupannya berubah drastic. Dari kemewahan istana, berubah menjadi kesederhanaan penggembala kambing. Karena berpegang pada pedoman itu pula yang membuatnya berani kembali ke Mesir, menghadapi tirani Firaun, dan mau membersamai Bani Israil sebagai kasta terbawah saat itu. Lalu Allah kemudian menunjukan keajaibannya dengan membelah lautan.
Pedoman tersebut terjabarkan dalam tiga hal. Pertama yang terkait dengan hati. Caranya dengan membersihkan hati dari semua noda. Mensucikannya dari semua dosa. Mengosongkannya dari nafsu. Mereduksinya dari syahwat. Lalu mengisinya dengan takut dan penuh harap kepada Allah. Intinya mengosongkan hati dari semua yang terkait dengan dunia. Lalu mengisinya dengan semua yang terkait dengan akhirat. Menghapus hubungan hati dengan makhluk dan selalu mengikatnya dengan Sang Khalik.
Dalam surat al-Ahzab ayat 14, Allah Subhânahu wa Ta’ala berfirman, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”. Artinya, Allah tidak pernah menciptakan dua bentuk hati dalam diri seorang manusia. Sehingga tidak pernah akan bersatu hati yang terisi dengan keimanan dan hati yang penuh dengan kekafiran. Bila iman ingin dimasukkan ke dalam hati, maka unsur-unsur kekafiran harus dihilangkan terlebih dahulu dari hati tersebut. Sebaliknya cahaya iman tidak akan pernah menyala dan bersinar terang dalam hati seseorang yang selalu diasupi dengan nilai-nilai kekafiran.
Konstruksi manusia mengandung dua aspek. Aspek malaikat yang dikenal dengan ruhani, dan aspek kebinatangan yang berujud jasmani. Aspek ruhani ini bila terus diberikan asupan yang sesuai, maka akan mengarahkan manusia kepada “ahsan at-taqwîm”, makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah untuk mengabdi kepadaNya. Namun bila sisi kebinatangan yang berbentuk jasad selalu dilayani, diberikan semua yang dikehendaki, justru akan menjerumuskan manusia kepada “asfal as-Sâfilîn”, tempat yang paling rendah atau derajat yang paling hina.
Kedua, pedoman yang terkait dengan lisan. Caranya dengan menjaganya dari sesuatu yang dimurkai Allah. Betapa banyak manusia yang masuk ke dalam neraka, hanya karena tidak bisa menjaga lisan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, setelah Rasulullah menjelaskan kepada sahabat Muadz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu, tentang cara masuk surga dan terhindar dari neraka, pokok agama, dan puncak ibadah dalam Islam, Rasulullah lalu bertanya kepadanya, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang sesuatu yang bisa menguatkan semua itu?” Muadz menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Rasulullah lantas bersabda, “Jagalah ini, sambil memegang lidahnya”. Sahabat Muadz bin Jabal balik bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa akibat apa yang kita ucapkan?” Rasul menjawab, “Wahai Muadz, bukankah manusia dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan karena lisan-lisan mereka?”.
Sebaliknya, lisan yang selalu mengingat Allah akan mempermudah seseorang menjadi penghuni surga. Lisan yang ketika berdosa langsung bertaubat dengan istighfar. Lisan yang ketika beraktivitas memulainya dengan basmalah. Lisan yang ketika mendapatkan rezeki langsung bersyukur dengan hamdalah. Lisan yang mensucikan Allah dari semua kekurangan dengan tasbih. Lisan yang terbiasa menyertakan Allah saat takjub. Lisan yang selalu berusaha mengeluarkan kata-kata yang baik. Lalu memilih diam dari pada mengumbar fitnah, debat, ghibah dan namimah. Dan lisan yang terbiasa melantunkan ayat-ayat Al-Quran.
Apa yang keluar dari lisan seseorang adalah replika dari sesuatu yang ada dalam hatinya. Hati yang bersih akan melahirkan lisan yang bertasbih. Hati yang terbiasa menjaga syahwat, akan menggerakkan lisan mengeluarkan kata yang bermartabat. Sementara hati yang pekat, akan melahirkan lisan yang maksiat. Hati yang penuh nafsu, akan membuat lisan berbicara tanpa rasa malu.
Terakhir, pedoman untuk mengelola jasad. Kunci bahagia sepanjang zaman adalah menggerakkan jasad untuk selalu mempraktikan ibadah. Seperti menunaikan salat, mengerjakan puasa, melaksanakan haji, atau semua ibadah lainnya yang terkait dengan fisik. Juga semua gerak panca indra dan anggota badan, semata untuk mencari ridha Allah. Mata digunakan untuk memandang yang baik. Telinga dipasang untuk mendengar yang makruf. Tangan dan kaki digerakkan untuk beraktivitas yang mendatangkan pahala, dan seterusnya.
Jasad manusia juga punya batasannya. Ia tetap akan rusak dan binasa bila telah datang waktunya. Jasad yang digunakan dalam ketaatan akan binasa. Begitu pula jasad yang digunakan maksiat. Akhirnya akan sama. Jasad yang dipakai untuk ibadah tetap akan berujung kematian. Begitu pula jasad yang tidak dipakai beribadah. Juga akan berujung kematian.
Dalam surat Yasin ayat 68, Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman, “Dan barang siapa yang kami panjangkan umurnya, niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka apakah mereka tidak mengerti?” Namun, ada kehidupan setelah jasad itu rusak yang membedakannya. Kehidupan manusia di akhirat. Apakah akan bahagia purna atau sengsara abadi.
Tiga pedoman inilah kesimpulan sederhana dari semua wahyu yang diturunkan Allah ke atas muka bumi. Bila ketiganya dilaksanakan dengan sempurna, akan menjadi sumber kebahagiaan sejati.
Dalam konteks Jawâmi’ al-Kalim ternyata Islam itu sederhana. Membuat hati selalu mengingat Allah, karena itulah pangkal ketenangan. Membuat lisan selalu bertasbih. Karena itulah peredam semua angkara. Dan menggerakkan jasad selalu beribadah. Karena itulah manusia diciptakan. Ternyata bahagia itu sederhana. Hati yang “muthmainnah” karena taqwa. Lisan yang “tilawah” karena mengingat Sang Pencipta. Dan jasad yang “ibadah” karena mendambakan surga.
Namun tetap saja di sepanjang sejarah ada yang berpaling. Tidak mau membersihkan hatinya. Tidak mau mengingat Allah dengan lisannya. Tidak mau beribadah dengan jasadnya. Sama seperti Kaum Ad. Sama seperti warga Tsamud. Sama seperti rakyat Soddom dan Gomorah. Sama seperti Firaun dan Namrud. Orang-orang yang lebih mementingkan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat lebih indah dan abadi.
Iswan Kurnia Hasan


