Dengan menggunakan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Ketentuan Penggunaan.
Accept
DPW PKS SultengDPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
Notification Show More
Font ResizerAa
  • DPW PKS
    • SEJARAH
    • VISI MISI
  • BERITA & INFORMASI
    • KABAR SULTENG
    • FOTO BERITA
    • PRESS RELEASE
  • TOPIK PILIHAN
    • HIKMAH
    • CATATAN ANGGOTA
Reading: Tarhib Ramadhan Di Bulan Rajab
Bagikan
Font ResizerAa
DPW PKS SultengDPW PKS Sulteng
  • DPW PKS
  • BERITA & INFORMASI
  • TOPIK PILIHAN
Search
  • Home
    • Beranda
  • Categories
    • Publikasi
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
Beranda » Blog » Tarhib Ramadhan Di Bulan Rajab
HikmahKabar Sulteng

Tarhib Ramadhan Di Bulan Rajab

Diperbarui Senin, 19 Januari 2026 5:09 pm
DPW PKS Sulteng
Diterbitkan Senin, 19 Januari 2026
Bagikan
Bagikan

Sebelum Ramadhan menjelang, sering diadakan acara Tarhib Ramadhan. Dalam bahasa Arab, kata “Tarhîb” memiliki dua makna. Pertama, bermakna menyambut atau menghormati. “Tarhîb Ramadhân” berarti menyambut kedatangan Bulan Suci Ramadhan dengan gembira, bahagia dan hati yang lapang. Karena sebentar lagi akan bertemu dengan bulan agung. Bulan untuk menambah pahala kebaikan. Bulan meningkatkan ketaatan kepada Allah. Bulan yang di buka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka.


Dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan an-Nasaiy, disebutkan bila Ramadhan datang, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam membagikan kebahagiaan datangnya Ramadhan kepada para sahabat sambil bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Di bulan ini ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka tidak akan mendapatkan apa-apa”.
Makna kedua adalah mempersiapkan. Ibarat seorang yang akan menyambut tamu di rumahnya. Maka ia akan mempersiapkan rumah dengan sebaik-baiknya. Sehingga layak untuk melayani tamu yang akan datang. Bila tamu yang dimaksud adalah bulan semulia Ramadhan, maka Tarhîb Ramadhân adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, sebelum Ramadhan menjelang. Sehingga saat bertemu dengan bulan suci tersebut, telah siap mengisinya dengan amalan terbaik. Sesuai dengan target kehadiran Ramadhan.


Makna kedua ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambaliy. Dalam kitab “Lathâif al-Ma’ârif” Ibnu Rajab menjelaskan tentang keterkaitan antara bulan Rajab, Syakban dan Ramadhan. Menurutnya, “Bulan Rajab ibarat waktu untuk menanam, bulan Syakban adalah waktu untuk menyiramnya, dan bulan Ramadhan adalah waktu untuk memanen tanaman”. Lebih lanjut Ibnu Rajab juga menambahkan, “Bulan Rajab ibarat angin yang ada di alam semesta. Bulan Syakban adalah awan mendung yang ditiup angin tersebut. Sementara bulan Ramadhan adalah hujan yang tercipta dari adanya angin dan awan mendung”.
Ketika tiga bulan: Rajab, Syakban dan Ramadhan saling terkait, maka menyiapkan bulan Ramadhan harus dimulai dari bulan Rajab. Karena Rajab adalah waktu menanam bagi masa panen di Ramadhan. Karena Rajab adalah angin yang mendatangkan hujan di Ramadhan. Itulah sebabnya, dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah menganjurkan sebuah doa yang bunyinya, “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan”.


Kenapa menyiapkan bekal menuju Ramadhan harus dimulai dari bulan Rajab? Karena kebersamaan dengan Ramadhan sementara. Tidak selamanya. Allah mengingatkan bahwa Ramadhan adalah hari-hari yang terbatas. Mudah dihitung. Jumlah harinya sedikit. Hanya selama 30 atau 29 hari saja. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfiman dalam surat al-Baqarah ayat 184:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya, “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.


Ramadhan ibarat sebuah event perlombaan kebaikan. Pelaksanaan event tersebut sangat terbatas waktunya. Allah menggunakan kalimat “Ayyâman Ma’dûdât”, beberapa hari tertentu saja. Saat memasuki gelanggang perlombaan ibadah di bulan Ramadhan, maka semua pesertanya harus siap. Secara logika sederhana, seseorang tidak mungkin akan mendapatkan prestasi saat lomba, bila tidak memulainya dengan latihan dan persiapan.


Begitu pula dengan Ramadhan. Seseorang tidak akan mungkin mendapatkan piala terbaik di Ramadhan, bila tidak dimulai dengan persiapan matang. Sesungguhnya hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha seseorang. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, malaikat Jibril menyayangkan seorang yang bertemu dengan Ramadhan, namun tidak bisa menggunakan kesempatan emas tersebut. Jibril berkata dalam hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, “Sungguh sangat merugi seseorang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, lalu dosanya tidak diampuni Allah”. Mendengar pernyataan ini saat berdiri di mimbar, Rasulullah lalu mengaminkannya.


Bila Ramadhan tidak disiapkan dengan baik, maka yang terjadi hanya sekedar bertemu. Namun tidak memberikan manfaat sama sekali. Tidak menghapuskan dosa. Tidak meningkatkan pahala. Tidak menaikkan derajat di sisi Allah. Tidak menyiapkan cadangan syafaat di akhirat. Ramadhan hanya sekedar rutinitas tahunan yang harus dijalani. Rutinitas puasa, rutinitas tarawih, lalu ditutup dengan Idul Fitri.
Untuk mendapatkan predikat taqwa, harus dimulai dengan persiapan taqwa sebelum Ramadhan. Untuk melaksanakan puasa terbaik, harus diawali dengan latihan puasa sunnah sebelum Ramadhan. Untuk mendapatkan salat Tarawih yang bisa menggugurkan dosa, harus dibekali dengan latihan khusyuk dalam salat sebelum Ramadhan. Untuk mendapatkan syafaat Alquran, harus dilalui dengan interaksi aktif bersama Alquran sebelum Ramadhan. Untuk menahan syahwat, harus dicegah terlebih dahulu dengan latihan tidak mengumbar syahwat sebelum Ramadhan. Untuk bisa beribadah di malam Seribu Bulan, harus dimukaddimahi dengan menghidupkan ibadah di malam-malam sebelum Ramadhan.


Maka persiapan Ramadhan itu, paling minimal dimulai di bulan Rajab. Kata Rajab menurut Ibnu Faris dalam buku “Mu’jam Maqhâyis al-Lughah” berarti sesuatu yang saling mendukung, saling menguatkan dan mengagungkan. Dinamakan Rajab, karena orang Arab jahiliah mengagungkannya. Islam juga melanjutkan keagungan bulan Rajab setelah Rasulullah diutus, dengan menjadikannya salah satu bulan yang diharamkan.


Di masa jahiliyyah, orang Arab telah mengagungkan bulan Rajab. Sehingga mereka memberi nama lain bagi Rajab. Dalam kitab “al-Hâwiy al-Kabîr” bulan Rajab dinamakan “Syahr al-Asham” yang berarti bulan yang tuli. Disebut demikian karena di bulan Rajab tidak boleh ada perang di masa jahiliyyah. Memasuki bulan Rajab, orang Arab seperti merasa tuli, karena tidak ingin mendengar bunyi senjata di medan tempur. Bulan Rajab juga disebut “Syahr al-Ashab” atau bulan yang tertuang kebaikan yang berlimpah di dalamnya.


Ketika memasuki bulan Rajab, orang jahiliyyah memiliki beberapa tradisi untuk mengagungkannya. Seperti tradisi Munasshil al-Asinnah, yang bila diterjemahkan artinya mencabut gigi. Dalam riwayat Bukhari, Abi Raja’ al-Atharidy menceritakan kebiasaan bangsa Arab di bulan Rajab sebelum datangnya Islam, “Dulu kami menyembah berhala. Apabila kami menemukan berhala lain (selain yang dimiliki), maka kami membuang yang lama dan mengambil yang baru. Bila tidak ada berhala dari batu, kami membuat berhala dari pasir yang dicampur dengan susu kambing. Lalu kami melaksanakan thawaf di sekelilingnya. Apabila masuk bulan Rajab, kami berkata, “Masuk waktu mencabut gigi. Kami mencabut mata tombak dan mata panah dan tidak mengasahnya di bulan Rajab.”


Mata tombak dan mata panah yang biasa dipakai untuk berperang, diibaratkan gigi manusia yang berfungsi mengunyah makanan. Saat masuk Rajab, mata tombak dilepas dari bilahnya, mata panah dilepas dari tangkainya dan tidak diasah. Seperti mencabut gigi.
Ada juga al-‘Atîrah atau Rajabiah. Tradisi menyembelih hewan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt., pada sepuluh hari pertama bulan Rajab. Setelah Islam, tradisi ini hanya dianut oleh Mazhab Syafi’i. Mereka merujuk hadis Muhnif bin Sulaim radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Kami melaksanakan wukuf bersama Rasulullah di Arafah. Kemudian beliau bersabda, “Wahai manusia, seyogianya setiap keluarga dalam satu tahun menyembelih qurban dan al-‘Atîrah” (HR. al-Baihaqi dan Ahmad).


Dalam Islam, bulan Rajab adalah bagian dari salah satu bulan yang diharamkan. Menurut Imam Al-Qurthubiy, Bulan Haram adalah bulan Istimewa. Berbeda dengan bulan lainnya. Barangsiapa yang melaksanakan amal kebaikan di dalamnya, maka pahalanya akan bertambah. Sebaliknya, berbuat maksiat di dalamnya, maka dosanya juga bertambah berat.
Sebelum Ramadhan menjelang, Allah telah mempertemukan kita terlebih dahulu dengan sebuah Bulan Haram dalam Islam yaitu bulan Rajab. Sehingga kita mulai terbiasa memperbanyak ketaatan. Karena dimotivasi dengan bertambahnya kuantitas pahala. Hampir menyamai Ramadhan. Juga diberikan bulan yang merupakan kunci kebaikan dan keberkahan. Sebelum datang bulan yang penuh dengan segala keberkahan, yaitu bulan Ramadhan. Menurut Ibnu Rajab, bulan Rajab adalah kunci bulan-bulan kebaikan dan keberkahan.


Lalu bulan Syakban. Seorang sahabat yang bernama Usamah bin Zaid ra. pernah heran dengan perilaku Rasulullah di bulan Syakban. “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa sunnah di bulan lain, sebanyak puasa yang engkau lakukan di bulan Syakban!” ujar Usamah. Rasulullah lalu menyebutkan alasannya, “Bulan Syakban adalah bulan yang sering dilupakan manusia, karena terletak antara dua bulan agung: Rajab dan Ramadan. Catatan setiap perbuatan juga diangkat kepada Allah di bulan Syakban. Maka aku ingin ketika catatan amalku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa” (HR. An-Nasai dan Ahmad).


Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Syakban karena keutamaannya sebagai bulan tempat diangkatnya catatan amal tahunan manusia. Beliau mengisinya dengan puasa sunnah, agar sebelum diangkat, dosa dalam catatan amal tersebut telah dilebur terlebih dahulu dengan puasa.


Dengan memperbanyak puasa di bulan Syakban, kita mendapatkan hikmah lain. Selain peleburan dosa. Yaitu persiapan menyambut Ramadhan. Itulah rahasia Syakban lainnya. Rasulullah memperbanyak puasa sunnah di dalamnya sebagai latihan. Sebelum memasuki bulan Ramadhan yang diwajibkan berpuasa.
Rasulullah juga memperbanyak puasa di bulan Syakban, karena posisi bulan Syakban berada di antara dua bulan Agung. Diapit oleh Bulan Rajab dan Bulan Ramadhan. Kecenderungan manusia biasanya sibuk beribadah di bulan Rajab karena Bulan Haram. Lalu meningkatkan ibadah di Ramadhan. Bulan Syakban dilupakan. Karena itu ada yang menganggap bahwa puasa sunnah di bulan Rajab lebih utama. Karena puasa di Bulan Haram. Berbeda dengan Syakban yang bukan Bulan Haram.
Rasulullah lalu memperbanyak puasa sunnah di bulan yang dilupakan oleh manusia. Di bulan Syakban. Sebagai isyarat bahwa ibadah di waktu yang tidak utama adalah juga sebuah amalan yang utama dalam Islam. Sebab ibadah di saat tersebut membutuhkan motivasi yang luar biasa. Apalagi lingkungan tidak mendukung. Sehingga yang mampu melaksanakannya hanya sedikit. Namun karena sedikit, mereka menjadi orang-orang Istimewa, karena melaksanakannya saat kebanyakan manusia lalai.


Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Syakban sebagai sarana membangun keistiqamahan dalam beribadah di waktu yang tidak kondusif. Untuk melatih diri bisa lebih giat lagi saat melaksanakan ibadah di waktu yang kondusif. Di waktu yang utama. Waktu yang berlipat pahalanya seperti bulan Ramadhan.
Di bulan Syakban, kita juga disiapkan untuk meminimalisir konflik antara sesama manusia sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dengan harapan, saat Ramadhan tidak ada lagi bibit permusuhan. Tidak muncul lagi bara pertikaian dalam diri. Untuk menyambut kehadiran hari Fitri di akhir Ramadhan. Hari terbebasnya seseorang dari semua salah dan khilaf. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah muncul di malam pertengahan bulan Syakban dan mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan orang yang masih memiliki permusuhan dengan saudaranya” (HR. Ibnu Majah).
Beberapa salaf juga menamakan bulan Syakban sebagai “Syahr al-Qurrâ” atau bulan buat para pembaca Alquran. Seperti yang diriwayatkan dari Salamah bin Suhail. Sehingga ‘Amru bin Qais al-Mulaiy ketika masuk bulan Syakban menutup tokonya dan konsentrasi membaca Alquran. Bila ini dilakukan sebelum Ramadhan, maka konsentrasi bersama Alquran pasti akan semakin meningkat saat Ramadhan.
Menyiapkan Ramadhan sejak bulan Rajab walaupun terkesan lebih cepat dari kebiasaan agenda tarhib yang dilakukan, sebenarnya juga tidak ideal. Bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh generasi salaf. Ibnu Rajab pernah menukil penyataan Mu’alla bin al-Fadl, seorang Tabi’ Tabi’in tentang kondisi para sahabat saat tidak bersama Ramadhan. Menurutnya, “Para sahabat berdoa sejak enam bulan sebelum Ramadhan, agar mereka kembali dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Lalu setelah Ramadhan, mereka juga berdoa selama enam bulan lamanya agar amal yang telah dilakukan selama bulan Ramadhan diterima Allah”.


Diantara doa yang mereka munajatkan adalah, “Ya Allah antarlah aku kepada Ramadhan, serahkanlah kepadaku bulan Ramadhan, dan terimalah amal-amalku (saat Ramadhan)”. Doa “antarlah aku menuju Ramadhan” maksudnya adalah permohonan kepada Allah agar saat bersama Ramadhan, mampu mengisinya dengan ibadah maksimal. Tidak lagi terjebak dengan aktifitas keduniaan. Manusia muslim saat Ramadhan, seharusnya seperti seorang budak yang tidak berdaya, lalu diserahkan kepada tuannya bernama Ramadhan. Ia harus patuh sepenuhnya dengan apa yang diperintah dan yang dilarang saat Ramadhan. Ia harus perhatian dengan anjuran tuannya yang bernama Ramadhan.
Sementara doa “serahkanlah kepadaku bulan Ramadhan” maksudnya adalah harapan agar Allah dapat mempertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Juga harapan agar Allah dapat memberikan pahalaNya, melimpahkan anugrahNya, mencurahkan ampunanNya, melapangkan rezekiNya, menurunkan berkahNya, memberikan Lailatul QadarNya saat bertemu dengan Ramadhan. Sebab banyak yang ditakdirkan untuk kembali bertemu dengan Ramadhan. Namun hanya sedikit yang bisa mendapatkan semua pahala yang Allah sediakan di bulan agung tersebut.

Iswan Kurnia Hasan

Baca Juga

Aleg PKS Telusuri Informasi Anak Yatim yang Ditolak Saat Terima PKH

Gubernur Anwar Hafid: Persaudaraan Modal Membangun Sulawesi Tengah

Mastam Mustaring Ajak Masyarakat Bungintimbe Bersatu Usai Pilkades

Ketua Garuda Keadilan Sosialisasi di Depan Genzi

Kultum Subuh, Relawan PKS Asal Sulteng Berbagi Pengalaman Saat Musibah 2018

TAGGED:Iswan Kurnia Hasan
Bagikan
Facebook Email Print

Ikuti Kami

Sosial Media PKS Sulteng
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow
Informasi Pilihan
Pengumuman

Pengumuman Perubahan Jam Kerja Kantor

masweb
masweb
Sabtu, 20 Januari 2024
DPW PKS Sulteng Ucapkan Terima Kasih atas Dedikasi Bapak H.M. Tahir H. Siri, SE., MH.
Gubernur Sulteng Tunjukkan Gaya Unik Bangun Team Work
Aleg PKS Sigi Abdul Rifai Arif Dampingi Kegiatan Bipeka
Wahyuddin Tekankan Kaderisasi pada Rakerda PKS Tojo Una-Una
- Advertisement -
Ad imageAd image

Akses Cepat

  • Agenda
  • Pengumuman
  • Publikasi

DPW PKS Sulteng

"Wadah Informasi, Aspirasi, dan Komunikasi untuk Masyarakat Sulawesi Tengah"
Pranala
  • Contact Us
  • Blog Index
Menu Pilihan
  • Contact Us
  • Blog Index
Copyright © 2026 Website Resmi DPW PKS Sulawesi Tengah dikelola oleh Humas DPW PKS Sulteng.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?