PALU – Musibah tidak ada yang bisa prediksi, walaupun ikhtiar telah dimaksimalkan. Itulah yang dialami relawan ambulans PKS, Salfin yang mengantarkan jenazah dari Palu dengan tujuan Kota Luwuk Kabupaten Banggai.
Saat mengantarkan jenazah ke Kota Luwuk, di Tengah jalan mobil ambulans yang dikendarai mengalami masalah yang cukup fatal, yakni baut penahan rem ban bagian kiri depan, terlepas. Kondisi ini tentu saja, menyebabkan pengereman tidak maksimal.
“Bukan hanya itu, kalau baut itu lepas dan masuk di kampas, mobil bisa oleng dan bisa saja kita celaka. Apalagi Ketika itu posisi mobil pada kecepatan di atas 80 km perjam, bahkan di jalan lurus kecepatan mobil bisa di atas 90 km perjam, karena sedang bawa jenazah yang harus cepat-cepat sampai di tujuan, sehingga segera dimakamkan,”cerita Salfin, yang mengaku posisinya masih di Toboli, Ahad (7 Desember 2025).
Salfin awalnya tidak menduga, bakal mengalami musibah tersebut, sebab hanya beberapa hari sebelum berangkat ke Luwuk, ambulans DPW Partai Keadilan Sejahtera Sulteng yang dikendarainya, baru saja menjalani perawatan rutin di bengkel.
“Saya curiga, Ketika diperiksa bagian remnya, baut penahan rem itu tidak dipasang dengan kuat. Makanya Ketika posisi mobil laju, bautnya lepas. Untungnya tidak patah, jadi tidak terlalu fatal akibatnya,”ungkapnya.
Salfin mengisahkan, Ketika menuju Kota Luwuk, ban bagian depan sudah mulai bunyi Ketika posisi di Pagimana. Penumpang yang duduk di depan, diminta untuk melihat ban yang mengeluarkan bunyi.
Katanya, posisi ban masih tetap pada posisinya. Begitu juga ketka dilakukan pengereman, tampak tidak ada masalah. Namun Ketika mobil di posisi lurus dan dalam kecepatan di atas 80 km perjam, bunyi di bagian depan makin keras. Demi mengantarkan jenazah agar segera sampai, karena harus mengejar kapal, sehingga Salfin, mengaku tetap mengendarai ambulans.
“Jenazah mau dibawa ke Bangkep. Kalau kita lambat, khawatirnya ketinggalan kapal. Makanya kita tetap lanjutkan perjalanan, walaupun dalam keadaan waswas,”katanya lagi.
Setelah mengantarkan jenazah naik di atas kapal yang akan membawanya ke Bangkep, waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 Waktu Luwuk. Salfin berinisiatif untuk membongkar ban depan bagian kiri yang mengeluarkan bunyi tersebut. Setelah diperiksa, ternyata baru diketahui kalau baut penahan remnya lepas.“Untungnya di SPBU, petugasnya mau bantu dan pinjamkan kunci-kuncinya. Bismillah, kita cari baut pengganti lalu pasang dan pelan-pelan balik Palu,”kisahnya lagi.
Ujian yang dihadapi Salfin, ternyata bukan baut yang terlepas. Ketika posisi mobil daerah Bunta, hujan yang cukup deras, sehingga wiper bagian kiri patah. Walaupun posisi wiper yang patah itu di posisi penumpang, namun Salfin, mengaku kesulitan untuk melihat posisi marka jalan, sehingga dikhawatirkan bisa melenceng dari jalur. Kondisi ini tentu saja sangat berbahaya. Apalagi kondisi hujan lebat.

“Tiba-tiba ada ide, ambil lap yang ada di mobil. Cara ini alhamdulillah sedikit efektif, pandangan tidak lagi kabur seperti sebelumnya. Walaupun tidak sama kalau pakai wiper, tapi paling tidak, kondisi marka jalan bisa terlihat,”tandas Salfin yang dihubungi, mengaku sedang singgah ngopi dan menikmati mie kuah.(hnf)


