PALU – Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) yang dilaksanakan Ketua Fraksi PKS DPRD Sulteng, Hj Wiwik Jumatul Rofi’ah, S.Ag, MH.Biasanya yang diundang hadir adalah para orangtua dan tokoh Masyarakat, maka dalam Kundapil yang dilaksanakan di Aula kantor DPW PKS Sulteng, Rabu (03/12/2025), yang diundang adalah para Generasi Z (GenzI), atau remaja mulai usia 17-25 tahun.
“Melalui kesempatan ini, Bunda ingin berbagi pengetahuan tentang apa itu politik dengan teman-teman GenZi. Bahwa politik itu, jangan diartikan secara sempit dengan harus masuk atau ikut dalam Parpol,”kata Bunda Wiwik, sapaan akrabnya dengan gaya yang luwes dan mudah dipahami oleh auidens.
Kata Bunda Wiwik, GenZi, khususnya anak muda Muslim, jangan jadi generasi strawberry, yang tampak indah dari luar, punya aroma yang harum, namun saat dicicipi memiliki cita rasa yang masam atau kecut.

“Kelihatan sebagai sosok yang Tangguh, tapi ternyata rapuh. Saat ada masalah, kadang ambil jalan pintas. Bahkan hanya karena masalah asmara, eh malah bunuh diri. Anak muda Islam tidak boleh begitu. Bunuh diri adalah perbuatan yang paling dicela Allah SWT,”katanya.
Politik kata Bunda Wiwik, dalam konsep yang paling sederhana dapat dipahami, bahwa Ketika Masyarakat menyadari apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Pemahaman dasar ini, sebenarnya sudah diajarkan melalui berbagai Pelajaran di sekolah. Salah satunya melalui Pelajaran Pendidikan kewarganegaraan.
“Jadi politik itu tidak mesti berpartai. Partai itu, hanya salah satu kanal atau jalan dalam penyaluran aspirasi politik. Kalian paham apa tugas kalian sebagai warga negara. Bagaimana kalian kelak memilih pemimpin berdasarkan pertimbangan yang logis bukan karena iming-iming duit itu juga adalah politik,”katanya lagi.
Bahkan sejak kecil, dalam lingkungan keluarga, anak-anak sejak dini telah diajarkan tentang nilai dasar politik. Yakni Ketika seluruh anggota keluarga berdiskusi, termasuk anak-anak, lalu menghasilkan sebuah Keputusan Bersama dan seluruh anggota keluarga melaksanakan hasil diskusi itu, kata Bunda Wiwik, itulah politik dalam lingkup keluarga.
“Misalnya nih, diskusi ayah, ibu dan anak-anak mau makan Dimana. Banyak masukan nih. Ayah maunya di sini, Ibu dan anak-anaknya maunya di sana, lalu sepakat bahkan mungkin ada voting atau pemungutan suara. Yang terbanyak itulah yang disepakati. Itulah inti demokrasi yang merupakan inti dari politik,”tandasnya.(hnf)


